Nietzsche Pengagum Nabi Muhammad?
Friedrich Nietzsche (istimewa)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Filsuf Nietzsche dikenal sebagai ‘Sang Pembunuh Tuhan’. Bagi Nietzsche, Tuhan hanyalah ide buatan manusia untuk mendapatkan kepastian dalam ketidakjelasan.

Namun di balik kritikannya terhadap agama, ternyata Nietzsche adalah pengagum Nabi Muhammad SAW. Hal ini dijelaskan oleh Ian Almond, seorang orientalis asal Inggris menjelaskan dalam bukunya yang berjudul ‘Nietzsche Berdamai Dengan Islam’.

Almond dalam bukunya menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada sama sekali monograf yang membahas Islam pada semua tulisan Nietzsche. Justru ada ratusan hal yang bernuansa Islam dalam Gesamutausgabe atau himpunan karya Nietzsche.

Inilah ‘lubang sempit’ (bahasa Ian Almond) untuk menghubungkan pemikiran Nietzsche dengan Islam. Salah satunya tersirat dalam surat Nietzsche untuk seorang kawan, Koselitz pada tahun 1881:

“Tanyakan pada sobat lama Gresdorff, maukah ia pergi bersamaku ke Tunisia selama satu atau dua tahun …Aku ingin hidup untuk beberapa waktu bersama orang-orang Muslim, di suatu tempat di mana mereka mempraktekkan keimanan mereka dengan saleh…” (hal.4).

Tak hanya itu, Almond juga memberikan bukti tentang ketertarikan Nietzsche untuk meneliti Islam lebih dalam. Hal itu tercermin dari sikap hidupnya, salah satunya tentang penolakan Nietzsche terhadap alkohol (hal.17).

Meski bisa saja antipati Nietzche ini lebih dikarenakan pendirian filosofisnya menentang kekristenan yang menyangkal kenyataan ketimbang kepada objek yang memabukkan itu. Tetapi dalam paragraf singkat yang tak lazim tersebut, Nietzche menyatakan orang Muslim adalah ‘bagian dari kita’ (hal.16).

Almond juga menulis bahwa jika disuruh memilih antara orang Arab atau Yahudi, Islam atau Kristen, maka Nietzsche lebih memilih orang Arab dan Islam.

“Nabi Muhammad dianggap Plato-nya orang Arab karena kemampuannya yang luar biasa. Muhammad di mata Nietzsche merupakan an affirmative Semitic religion yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang tegas sebagai sebuah suri tauladan,” ujar Almond.

Tentu saja, sangat infantil untuk mengklaim Nietzsche, sebagaimana kecurigaan dari beberapa pemikir besar Jerman lainnya, sempat memeluk Islam di saat hidup. Namun yang jelas, pemikiran Nietzsche tentang Uebermensch alias manusia sempurna, barangkali mirip dengan pemikiran Islam.

Istilah manusia sempurna sudah dikenal Islam sejak awal, dan menjadi wacana mulai abad ke-7 Hijriah, lewat seorang sufi bernama Muhyiddin Ibnu Arabi al-Andalusi, atau lebih dikenal dengan Ibnu Arabi. Arabi menggunakan istilah ‘manusia sempurna’ atau insan kamil.

Istilah itu selanjutnya diurai lebih teliti oleh Al-Jilli, yang mengembangkan konsep itu dalam bukunya, Al-insan al-kamil. Kita tahu, di era yang lebih modern, filsuf, penyair dan sufi besar Muhammad Iqbal juga memikirkan soal Manusia Ideal yang Kreatif itu sebagai konsepsi tentang manusia sempurna.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here