Letusan Gunung Toba
Letusan Gunung Toba

MATA INDONESIA, JAKARTA – Letusan Gunung Toba yang terjadi pada 74 ribu tahun yang lalu mengakibatkan erupsi abu vulkanik mencapai 600 meter. Namun, berkat letusannya bisa dikatakan beruntung karena hasil lain dari letusan ini terbentuknya Danau Toba dan Pulau Samosir yang menarik perhatian masyarakat dunia.

Sejatinya, letusan gunung berapi merupakan bencana alam yang sangat besar dan menjadi momok menakutkan bagi semua orang di belahan dunia. Akibatnya beragam mulai dari erupsi hingga dapat menewaskan berbagai mahkluk hidup.

Di Indonesia, tepatnya Sumatera Utara terdapat Gunung Berapi Toba yang meletus 74 ribu tahun yang lalu dan mengakibatkan setengah permukaan bumi tertutup abu. Gunung Toba sudah mengalami tiga kali letusan, namun yang paling dahsyat di letusan ketiga.

Hasil letusan tersebut mengeluarkan abu vulkanik yang tersebar di beberapa negara di dunia, salah satunya India. Letusan Gunung Toba terasa sampai ke India, akibatnya negara yang memiliki kepercayaan Dewa Siwa tersebut dapat kiriman abu vulkanik dari Indonesia setebal 6 meter. Sedangkan di sekitar Gunung Toba, yakni Pulau Samosir ketebalan abu mencapai 600 meter.

Dikarenakan abu yang menyelimuti seluruh kota di dekat Gunung Toba, cahaya matahari tidak masuk. Bahkan, akibat letusan gunung berapi itu, di sejumlah wilayah terjadi kelaparan hingga berujung kematian.

Letusan itu membentuk kaldera raksasa dengan panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer, kaldera raksasa tersebut ialah Danau Toba. Pakar Kaldera dari Eastern Illinois University, Amerika Serikat, Craig Alan Chesner yang meneliti kaldera tersebut mengatakan bahwa Toba sudah menjadi rumah keduanya. Bagaimana tidak, ia sudah sering bolak-balik hanya untuk meneliti.

Chesner meneliti di sekitar Toba melalui pemetaan dasar air yang dilakukan dengan pengambilan data kedalaman lewat single-beam sonar. Metode ini menggunakan proses pendeteksi perambatan suara yang diletakan di bawah kapal penarik.

Hasilnya, letusan Gunung Toba pertama kali terjadi pada 800 ribu tahun yang lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, seperti daerah Prapat dan Porsea. Letusan kedua terjadi pada 500 ribu tahun yang lalu dan menghasilkan kaldera di utara Danau toba yang terletak antara Silalahi dan Haranggaol. Letusan ketiga yang terjadi 74 ribu tahun yang lalu menghasilkan Danau Toba dengan Pulau Samosir yang berada di tengah-tengah danau.

Letusan Gunung Toba awalnya terjadi karena gesekan dua lempeng, Indo-Australia dan Benua Eurasia. Lempeng Indo-Australia mengandung lapisan sedimen yang bila semakin masuk ke dalam lempeng Benua Eurasia akan meniptakan panas yang melelehkan bebatuan dan muncul ke atas sebagai magma.

Pada 2010, tiga peneliti menyimpulkan bahwa di bawah kaldera Toba terdapat 2 magma yang terpisah. Para peneliti tersebut, yaitu peneliti dari German Center for Geosciences, Danny Hilman dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Fauzy dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Hasilnya, muntahan magma dari letusan Gunung Toba yang sudah terjadi 74 ribu tahun yang lalu terkonfirmasi menghasilkan 34 ribu kilometer kubik.

Reporter : Rama Kresna Pryawan

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here