Sabtu, Oktober 16, 2021

Mengungkap Makna ‘Gerpolek’, Buku Legendaris Karya Tan Malaka

Baca Juga

MATAINDONESIA, JAKARTA – Tan Malaka. Mendengar namanya akan menimbulkan banyak pendapat. Ada yang menganggapnya sebagai pahlawan, pemberontak, komunis, tokoh kiri, guru bangsa, bapak republik, sosok perlawanan, dan macam-macam lagi.

Tepat 70 tahun lalu, 21 Februari 1949, Tan Malaka dieksekusi tanpa proses pengadilan. Namun, ia telah menelurkan banyak karya, di antaranya dua buku paling legendaris yang sampai saat ini masih dibaca dan dijadikan acuan gerakan-gerakan kiri di Indonesia.

Dua karya legendaris itu adalah Madilog dan Gerpolek. Namun, yang kita akan soroti kali ini adalah buku Gerpolek yang ditulis Tan Malaka tahun 1948 saat ia mendekam di penjara Madiun.

Apa sebenarnya makna Gerilya, Politik Ekonomi (Gerpolek) yang dimaksud Tan Malaka saat itu? Kenapa buku itu masih mengaum hingga saat ini?

Mengutip secara langsung dari buku karya Tan Malaka, berikut adalah makna sebenarnya Gerpolek yang dimaksud Sang Bapak Republik.

Apa Gunanya Gerpolek?

Gerpolek adalah perpaduan tiga kata, Gerilya, Politik dan Ekonomi.

Gerpolek adalah senjata ‘Sang Gerilya’ untuk membela Proklamasi 17 Agustus dan melaksanakan kemerdekaan 100 persen.

Namun, setelah 3 tahun proklamasi, Tan Malaka menyebut semangat kemerdekaan telah merosot hingga ke bawah 10 persen. Hal ini dijelaskannya dalam pembuka buku, bahwa Indonesia pasca proklamasi mengalami dua periode.

Periode pertama disebutnya sebagai periode Jaya Berjuang, sedangkan periode kedua adalah Runtuh Berdiplomasi/Berunding. Semangat kemerdekaan yang merosot itulah yang dimaksud Tan Malaka dengan Runtuh Berdiplomasi/Berunding.

Siapakah Sang Gerilya Itu?

Sang Gerilya yang dimaksud Tan Malaka adalah putera-putri atau pemuda-pemudi atau murba-murbi Indonesia yang taat serta setia kepada proklamasi dan kemerdekaan 100 persen.

Tan Malaka menyebut Sang Gerilya adalah sosok yang tidak menghiraukan lamanya waktu atau tempo untuk berjuang, meskipun harus seumur hidupnya.

Sang Gerilya haruslah tabah dan berani, serta memiliki tekad, bergembira serta sadar akan kewajibannya. Sang Gerilya tidak berkecil hati hanya karena bersenjatakan peralatan sederhana melawan musuh bersenjata lengkap.

Sang Gerilya adalah yang mengemudikan taktik Gerpolek. Dengan menggunakan Gerpolek, Sang Gerilya harus merasa hidup bahagia, bertempur terus-meneru dengan hati yang tak dapat dipatahkan oleh musim, musuh, ataupun maut.

Tan mengibaratkan seperti Sang Anoman yang percaya bahwa kodrat dan akalnya akan sanggup membinasakan Dasamuka, demikianlah juga Sang Gerilya yang harus percara bahwa Gerpolek akan sanggup meraih kemenangan terakhir atas kapitalisme dan imperialisme.

Buku Gerpolek ini bahkan mendapat sanjungan dari Jenderal Besar Sudirman. Sang Jenderal menyebut buku tersebut adalah ‘strategi militer’, sedang makna Gerpolek menurutnya adalah sebuah senjata untuk membela Proklamasi 17 Agustus dan melaksanakan kemerdekaan 100 persen. (Ryan)

Berita Terbaru

Dianggap Terlalu Cantik, Pria Ini Tak Segan Bersetubuh dengan Mayat

MATA INDONESIA, NAIROBI – Mantan petugas kamar mayat di Kenya yang diidentifikasi bernama Stephen Samaritan mengungkapkan kebiasaan buruknya, yakni...
- Advertisement -

Baca berita yang ini