Mengenang Widjojo Nitisastro, Anak Penilik SD yang Jadi Arsitek Ekonomi Orde Baru
Widjojo Nitisastro (istimewa)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Bagi anak muda zaman sekarang mungkin kurang mengenal Widjojo Nitisastro. Namun bagi generasi yang lahir di era orde baru pasti kenal betul dengan sosok tersebut.

Hari ini, 93 tahun yang lalu, tepatnya 23 September 1927, Widjojo lahir di Kota Malang. Ia bukanlah anak orang kaya. Ayahnya cuma seorang pensiunan penilik sekolah dasar. Sang ayah juga dikenal sebagai seorang aktivis Partai Indonesia Raya (Parindra) yang menggerakkan Rukun Tani.

Saat pecah Revolusi Kemerdekaan di Surabaya, ia baru duduk di kelas 1 SMT (Setingkat SMA). Pada tahun 1945, Widjojo muda bergabung dengan pasukan pelajar yang kemudian dikenal sebagai Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Bertempur dengan gagah berani, ia sendiri nyaris gugur di daerah Ngaglik dan Gunung Sari Surabaya.

Seusai perang, Widjojo sempat mengajar di SMP selama 3 tahun. Ia kemudian memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tingginya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) dan mengkhususkan diri pada bidang demografi. Ia pun lulus Cum Laude pada tahun 1955.

Widjojo kemudian mendapat kesempatan untuk berkuliah di University of California at Berkeley (UCB) atas beasiswa dari Ford Foundation.

Di sana Widjojo tak sendirian. Ada Mohammad Sadli, Subroto, Ali Wardhana, dan Emil Salim yang sama-sama sedang melanjutkan studi.

Mereka inilah yang kelak disebut David Ransom dalam artikel berjudul “The Berkeley Mafia and the Indonesia Massacre” (1970), sebagai “Mafia Berkeley”—sekumpulan teknokrat yang dianggap menanamkan paham ekonomi neo-liberalisme demi kepentingan AS di Indonesia.

Ketika studi di Berkeley sudah rampung pada tahun 1961, Widjojo kembali ke Indonesia. Pada Agustus 1966, ia bersama koleganya bertemu Soeharto di sebuah acara seminar militer. Seperti ditulis dalam Celebrating Indonesia: 50 Years with the Ford Foundation (2003), sang jenderal bertanya kepada Widjojo dan yang lainnya: “Apa yang Anda lakukan jika memiliki kesempatan untuk mengubah ekonomi [Indonesia]?”

Di momen tersebutlah Widjojo berhasil meyakinkan Soeharto bahwa ia bisa menjadikan ekonomi Indonesia maju. Widjojo lantas dipercaya Presiden Suharto menjadi Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional periode (1971-1973) dan Menko Ekuin sekaligus merangkap Ketua Bappenas periode 1973-1978 dan 1978-1983.

Karena peranannya yang begitu kuat, ada yang bilang kebijakan ekonomi Indonesia kala itu kental dengan sebutan “Widjojonomics.” Widjojonomics disebut sebagai pandangan untuk menghadapi kekuatan monopoli ekonomi negara maju.

Pemikiran Widjonomic pada dekade 1980-an dan 1990-an itulah yang membawa pertumbuhan ekonomi rata-rata 8 persen per tahun. Pertumbuhan ekonomi itu membuat Bank Dunia menyebut Indonesia sebagai “One of the Asian Miracles.”

Namun setelah Suharto lengser, pengaruh Widjojo pun ikut pudar. Habibie sebagai pengganti Suharto, ternyata memiliki pemikiran berbeda dengan Widjojo. Namun semasa Presiden Abdurrahman Wahid, Widjojo kembali dipercaya memimpin Tim Ekonomi Indonesia untuk melakukan negosiasi utang pada perundingan Paris Club di April 2000.

Dalam perundingan itulah, Widjojo sukses meyakinkan negara donor untuk menjadwal ulang utang Indonesia periode April 2000 sampai 2002, senilai 5,9 miliar dolar AS.

Kini, salah satu peninggalan berharga Widjojo adalah buku yang berisi kumpulan tulisan dan pidato yang terbit dalam bahasa Inggris berjudul The Indonesian Development Experience: Collection of Writing and Speeches. Buku ini disebut sebagai buah karya begawan ekonomi Indonesia yang diharapkan mampu memberi kontribusi pada sejarah ekonomi dunia.

Semasa mengemban tugas negara, Widjojo tak hanya menjadi arsitek ekonomi di dalam negeri. Widjojo juga terlibat dalam aktivitas dan pertemuan ekonomi dunia di luar negeri.

Maka tak heran kalau ia mendapat penghargaan dari pemerintah Kamboja tahun 1982. Widjojo juga dianugerahi Grand Grois Orde Royal de Monisaraphon. Sementara kiprahnya di dalam negeri dianugerahi Bintang Maha Putera Adipradana tahun 1973.

Tak hanya mengemban tugas kenegaraan, Widjojo juga menjawab tugasnya sebagai akademisi. Tahun 1955-1957 ia memimpin Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI). Tahun 1962 ia mengembang tugas sebagai Ketua dan Sekretaris Fakultas Ekonomi UI. Pada tahun yang sama, ia juga menjadi Guru Luar Biasa pada Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat. Pada tahun 1965-1967, ia dipercaya menjadi Dekan Fakultas Ekonomi UI.

Sang arsitek ekonomi pun tutup usia pada dini hari Jumat, 9 Maret 2012 dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here