Alunan musik seraya menjadikan karya Harry Roesli menjadi legenda (dok. Vice)

MATA INDONESIA, BANDUNG – Ada yang kenal Harry Roesli? Tanyakan pada 5-6 anak-anak muda. Rata-rata mereka menggelengkan kepala tanda tak kenal. Padahal, musisi bernama lengkap Djauhar Zaharsyah Fachrudin Roesli, ini adalah musisi dan seniman jenius yang karya-karyanya masih menjadi bahan pembicaraan hingga saat ini.

Lahir di Bandung, 10 September 1951, Harry Roesli adalah seniman serba bisa. Ia adalah seniman yang mampu memadukan budaya musik kontemporer dan modren, seniman yang kritis terhadap keadaan sosial. Dan jangan lupa penampilan Harry Roesli yang nyeleneh, berkumis, bercambang, berjanggut lebat, berambut gondrong dan berpakaian serba hitam.

Harry Roesli lahir dari keluarga terpandang. Ayahnya adalah jenderal bintang tiga TNI, Mayjen Roeshan Roesli. Sementara Ibunya, Edyana, seorang dokter. Kakeknya, Marah Roesli, merupakan sastrawan Pujangga Baru yang menulis Sitti Noerbaja (1922). Harry adalah anak bontot dari empat bersaudara.

Ia menikah dengan Kania Perdani Handiman dan dikaruniai dua anak kembar Layala Khrisna Patria dan Lahami Khrisna Parana.

Sejak bersekolah di SMAN 2 Bandung, Harry dikenal sebagai musisi. Kawan-kawannya terkadang takjub dengan kejeniusan Harry Roesli baik dalam musik maupun informasi terkini. Harry memang suka membaca buku dan majalah-majalah asing. ”Waktu SMA banyak hal yang membuat saya takjub sama Mas Harry. Meski dia adik kelas saya, namun kejeniusan dan kesupelannya bergaul membuat saya dekat dengan dia,” ujar Harry Potchang, musisi asal Bandung yang juga dikenal dekat dengan Harry Roesli.

Seiring bertambahnya usia, ia pun tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang baik. Ia diterima di Teknik Mesin Institut Teknik Bandung (ITB). Namun, di saat yang sama kecintaannya terhadap musik mendapat penolakan keras dari kedua orang tuanya. Bagi mereka bermain musik cukuplah sebatas hobi. Namun, setelah diyakinkan oleh Harry dan didukung oleh ketiga kakaknya, ia pun diizinkan menggeluti musik. Harry memutuskan meninggalkan ITB kala sudah duduk hingga tingkat empat dan memilih kuliah musik di Institut Kesenian Jakarta. Ia terus mempelajari dan mengembangkan musik hingga menerima beasiswa mendalami musik di Rotterdam Conservatorium, Belanda pada 1978.

Ia mendapat beasiswa dari Ministerie Cultuur Recreatie en Maatschapelijk Werk (CRM). Harry hanya butuh waktu tiga tahun untuk menyelesaikan proses belajar dan meraih gelar doktoralnya

Selama belajar di Rotterdam, Harry juga aktif bermain piano di restoran-restoran Indonesia dan main band dengan anak-anak keturunan Ambon di sana. Selain untuk menyalurkan talenta musiknya sekaligus untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya yang tidak mencukupi dari beasiswa.

Gelar Doktor Musik diraihnya pada tahun 1981, kemudian selain tetap berkreasi melahirkan karya-karya musik dan teater, juga aktif mengajar di Jurusan Seni Musik di beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan Universitas Pasundan Bandung.

Dia ini juga kerap membuat aransemen musik untuk teater, sinetron dan film, di antaranya untuk kelompok Teater Mandiri dan Teater Koma. Juga menjadi pembicara dalam seminar-seminar di berbagai kota di Indonesia dan luar negeri, serta aktif menulis di berbagai media.

Harry Roesli dikenal sebagai musisi serba bisa dengan keahlian tak hanya sebatas gitar, melainkan juga gong, gamelan, drum, botol, kaleng bekas dan kliningan. Kemampuan yang langka di eranya.

Karyanya pun monumental. Harry mampu menggabungkan berbagai instrumen musik secara bersamaan namun berirama. ”Saya kenal Mas Harry sejak SMA. Saat itu saya menjadi pimpinan anak-anak teater di SMA saya. Mas Harry adalah musisi. Dia manawarkan kepada kami untuk menjadi pengisi di pementasan Ken Arok. Disitulah saya sering bertemu dan lama kelamaan saya kagum dengan Mas Harry,” ujar Kania Perdani Handiman, istri Harry Roesli.

Bagi Kania, Harry Roesli adalah sosok anak muda yang unik. Di saat anak-anak muda hura-hura di usianya, Harry Roesli malah kritis terhadap keadaan sosial saat itu. ”Saya lihat lagi karya-karyanya, saya dengarkan liriknya, ini orang gila juga. Dipikir-pikir dia ciptakan Malaria itu umur 20 tahun, Ken Arok usia 23 atau 24 tahun, lalu lihat karyanya Indonesia Jangan Menangis itu dia umur 26, dia udah buat seperti itu,” ujarnya.

Malaria adalah salah satu karya terbaik Harry Roesli yang disebut-sebut sebagai metafora potret Indonesia. Sedangkan Ken Arok, adalah karya Harry Roesli dalam bentuk teater.

Selain itu juga membina para seniman jalanan dan kaum pemulung di Bandung lewat Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB) yang didirikannya. Rumahnya di Jl WR Supratman 57 Bandung dijadikan markas DKSB. Rumah inilah yang pada tahun 1998 menjadi pusat aktivitas relawan Suara Ibu Peduli di Bandung. Rumah ini ramai dengan kegiatan para seniman jalanan dan tempat berdiskusi para aktivis mahasiswa.

Di rumahnya ini, kerap lahir karya-karya yang sarat kritik sosial dan bahkan bernuansa pemberontakan terhadap kekuasaan Orde Baru. Bersama DKSB dan Komite Mahasiswa Universitas Parahyangan, Harry Roesli mementaskan pemutaran perdana film dokumenter Tragedi Trisakti dan panggung seni dalam acara “Gelora Reformasi” di Universitas Parahyangan

Setelah reformasi, saat pemerintahan BJ Habibie, salah satu karyanya yang dikemas 24 jam nonstop juga nyaris tidak bisa dipentaskan. Juga pada awal pemerintahan Megawati, dia sempat diperiksa Polda Metro Jaya gara-gara memelesetkan lagu wajib Garuda Pancasila.

Harry meninggal dunia hari Sabtu 11 Desember 2004, pukul 19.55 di RS Harapan Kita, Jakarta.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here