Nike Ardilla

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tepat hari ini, 19 Maret, dua puluh empat tahun yang lalu penyanyi ternama Nike Ardilla meninggal dunia. Musisi legendaris yang berjaya pada zamannya itu meninggal di usia yang sangat muda pada 19 Maret 1995 sekitar pukul 06.15 WIB.

Sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa penyanyi cantik itu. Mobil HondaCivic berwarna biru yang dikendarainya menabrak pagar beton bak sampah di Jalan RE Martadinata, Bandung.

Usai terjadi kecelakaan, Nike masih sempat dibawa ke rumah sakit. Namun takdir berkata lain, penyanyi bersuara emas itu akhirnya meninggal dunia dalam perjalanan menuju RS.

Rumor yang beredar menyebut jika Nike Ardilla mengalami kecelakaan akibat mengemudi dalam keadaan mabuk. Tetapi kemudian kabar tersebut dibantah keras oleh pihak keluarga Nike. Berdasarkan hasil visum polisi pun kabarnya tidak ditemukan kandungan alkohol dalam tubuh Nike Ardilla.

Nike Ardilla sendiri memulai karirnya sudah sejak kecil. Pada usia 10 tahun ia sudah menjuarai Festival Pop Singer HAPMI Kodya Bandung, persisnya di tahun 1985. Sejak itu berbagai prestasi terus diraihnya dalam berbagai kejuaraan menyanyi hingga akhirnya Nike masuk dapur rekaman pada tahun 1986.

Pada 1989, Nike pun memulai debutnya di dunia akting dengan membintangi sebuah film layar berjudul Gadis Foto Model. Kemudian bersama label Proyek Q Records, Nike berhasil merilis album bertajuk Seberkas Sinar. Diproduseri Deddy Dores, album Nike tersebut laris manis di pasaran.

Sejak itu nama Nike Ardilla semakin melejit bahkan masuk dalam jajaran artis papan atas yang diperhitungkan. Tak hanya sebagai penyanyi, kala itu Nike dianggap sebagai artis multitalenta. Ia bahkan disebut-sebut sebagai perpaduan dari Nicky Astria, Meriam Bellina dan Cut Irna lantaran memiliki suara emas dan bakat akting yang luar biasa.

Nike bahkan sempat terpilih sebagai Gadis Sampul favorit di sebuah ajang model bergengsi. Sederet film box office dan iklan dibintanginya. Ia pun kerap tampil di acara-acara selebritas dan ajang penghargaan. kala itu benar-benar menjadi masa kejayaan Nike Ardilla.

Sayangnya, perjalanan karir penyanyi asal Bandung itu terbilang singkat. Hanya sekitar 6 tahun saja. Tapi dalam waktu yang singkat tersebut, Nike telah berhasil menorehkan perjalanan karir yang begitu cemerlang.

Pasca kematiannya Nike tak pernah kehilangan penggemar. Bahkan hingga sekarang, tepat di tahun ke-24 setelah kepergiannya, para fans Nike masih setia. Publik pun masih terus membicarakan Nike Ardilla.

Meski telah tiada, nama Nike terus bersinar. Bahkan majalah Asia Week pernah menafsirkan kisah Nike dalam sebuah kalimat, In Dead She Soared yang berarti ‘Dalam Kematian Dia Bersinar’.

Ya, popularitas Nike tak pernah mati. Dibuktikan dengan loyalitas para penggemarnya. Bahkan setiap tahun, ribuan fans Nike yang tergabung dalam Nike Ardilla Fansclub melakukan ritual khusus setiap tanggal 19 Maret dan 27 Desember. Yakni, berziarah ke makam dan mengadakan acara mengenang Nike seperti memutar film-film Nike dan menyanyikan lagu-lagunya di Bandung, tempat kelahiran almarhumah.

Tak hanya itu, sebuah museum bahkan juga didirikan khusus untuk mengenang Nike Ardilla. Museum yang didirikan di Jalan Soekarno-Hatta itu menyimpan semua barang-barang Nike, mulai dari pakaian hingga replika kamar sang penyanyi legendaris.

Selain itu, hampir semua album rekaman lagu-lagu Nike berhasil memperoleh penghargaan, terutama dari segi penjualan. Dalam rentang waktu yang relatif pendek, dia berhasil mengembangkan demikian jauh popularitas dan fanatisme penggemarnya bahkan melampaui apa yang diperoleh penyanyi terkenal yang sudah berkiprah puluhan tahun di dunianya. Di Sulawesi Barat bahkan juga terdapat sebuah rumah makan dengan nama Rumah Makan Nike Ardilla yang berlokasi di Wonomulyo, Polewali Mandar. Setiap harinya, rumah makan tersebut memutarkan lagu-lagu Nike.