Upacara Penti masyarakat Wae Rebo

MINEWS, JAKARTA – Kamu pernah ke Wae Rebo, Flores? Ada upacara unik mengenai perhitungan tahun baru di sana, yang ternyata bukan jatuh pada bulan Januari. Masyarakat Wae Rabo merayakan pergantian tahun baru pada bulan November.

Upacara Penti, merupakan salah satu upacara adat warga Wae Rabo sebagai ungkapan rasa syukur dan peringatan tahun baru. Bulan Beko atau November adalah siklus awal bulan dalam perhitungan masyarakat Wae Rebo.

Karena mayoritas masyarakat di sini adalah petani, maka bulan November menjadi bulan awal mulai bercocok tanam. Sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen dan kehidupan selama satu tahun, upacara ini digelar oleh masyarakat Wae Rabo. Upacara ini juga sebagai permohonan perlindungan dan keharmonisan pada kehidupan yang akan datang.

Kegiatan ini diakukan secara turun-temurun, dan berkumpulnya sanak saudara. Upacara ini biasanya jatuh pada pertengahan bulan sebagai rasa syukur dan pemberkatan terhadap kelestarian alam sekitar.

Upacara ini dimulai dengan berjalan kaki dari Mbrau Gendang (rumah adat), menuju Lingko (pusat kebun) untuk melangsungkan acara Barong Londok. Barong Londok merupakan upacara mengundang penjaga kebun di pusat Lengko untuk menghadiri penyelenggaraan Penti.

Pemimpin adat terlebih dahulu melakukan cepa, yaitu memakan sirih, pinang dan kapur, lalu menyiram tuak dari dalam bambu ke tanah yang disebut acara Pau Tuak. Upacara Barong Lodok dilaksanakan di pusat kebun yang ditandai dengan kayu atau teno.

Upacara kemudian dilanjutkan di Barong Wae Teku yakni upacara mengundang roh para leluhur penunggu mata air, sehingga air selalu melimpah yang menyuburkan tanaman padi. Dalam upacara ini juga menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan yang menciptakan mata air bagi kehidupan semua makhluk, teristimewa seluruh warga Wae Rabo.

Tahap selanjutnya yaitu ritual Barong Compang, yakni acara menghunjukkan persembahan yang diletakan dalam tempat yang dinamakan compang, yang ada di tengah kampung dan berbentuk bulat. Roh Penjaga kampung dan juga roh yang diam di Compang juga diundang untuk mengikuti upacara.

Tahapan upacara selanjutnya yaitu Libur kilo, ritual syukuran keluarga dengan menpersembahkan dengan urutan; renggas yaitu pembukaan, pengungkapan lima kebutuhan dasar; rumah atau mbaru tara kaeng, tempat bermain atau natas tara labar, air minum atau wae tara teku, tanah garapan atau uma bate duat, dan tempat meletakan persembahan atau compang.

Tahapan Renge Ela Penti dengan beberapa rentetan ritual yang dalam setiap tahapan upacara itu dilaksanakan secara gotong royong atau bersama-sama dengan melibatkan semua warga desa.