patung RS Soekanto di depan Museum Polri
Patung RS Soekantor di depan Museum Polri (16-mipa1labsky.blogspot.com)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Kesederhanaan dan ketegasan mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso tidak terlepas dari patronnya, Jenderal Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo yang juga Kapolri pertama Indonesia. Soekanto bersungguh-sungguh membangun Polri dari nol tanpa memedulikan kehidupan dirinya sehingga dia tidak memiliki rumah saat pensiun dari jabatan prestis tersebut.

Sejawaran G. Ambar Wulan menegaskan bahwa Soekanto tidak meninggalkan rumah pribadi yang bagus saat dia wafat. Institusi Polri yang semakin profesionallah peninggalan lelaki yang dimakamkan 25 Agustus 1993 di Tanah Kusir.

“Kalau Pak Hoegeng banyak yang bilang miskin, Pak Kanto (RS Soekanto jauh lebih miskin,” begitu Ambar menggambarkan kehidupan Kapolri pertama setelah tidak menjabat.

Selama 14 tahun menjadi Kapolri, tidak ada rumah pribadi di kawasan elite. Setelah mengundurkan diri dari jabatannya karena menolak penggabungan kepolisian dengan TNI, Desember 1959, Soekanto meninggalkan rumah dinasnya di Jalan Diponegoro, Menteng.

Dia pindah ke rumah kontrakan yang sudah tua, pagar depan rusak serta bocor gentengnya saat hujan turun. Teman Soekanto bahkan menilai rumah itu tidak seimbang dengan kedudukannya sebagai mantan Kapolri. Tetapi Soekanto tidak pernah mengeluh.

Justru teman seangkatan hingga anak didiknya yang tidak enak hati melihat Soekanto hidup tanpa rumah pribadi.

Mantan juru catat Soekanto, Awaloedin Djamin saat menjabat Kapolri meminjamkan rumah di Kawasan Jalan Prapanca, Jakarta Selatan.

Lalu, saat Jenderal Mochammad Sanoesi menjadi Kapolri memindahkan Soekanto ke Kompleks Pejabat Polri di Ragunan. Saat Soekanto wafat rumah itu dikembalikan lagi ke Polri. Soekanto tidak meninggalkan warisan harta apa pun.

Warisan Soekanto yang tiada terkira adalah lembaga Kepolisian yang dibangunnya dari nol. Saat ditunjuk sebagai Kepala Kepolisian Negara, Soekanto tidak memiliki apa pun, baik uang maupun anak buah.

Dia harus menghubungi, mengumpulkan, dan mengkonsolidasikan polisi-polisi hasil didikan Belanda dan Jepang yang tersebar di pelbagai daerah di seluruh Indonesia.

Kendaraan dan telepon masih barang sangat langka. Selama tiga bulan pertama, Soekanto hanya punya tiga orang anak buah: ajudan Toti Soebianto, juru ketik Nyonya Soebadi, dan Sekretaris M. Oudang.

Sembari terus melakukan konsolidasi dengan mengirimkan kurir secara rutin ke semua daerah dan menghadapi para “raja kecil”, Polri saat itu juga harus ikut dalam upaya mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dari rongrongan invasi Sekutu dan gerakan-gerakan separatis.

Sepanjang masa jabatannya, Soekanto membangun struktur polisi sampai ke pelosok-pelosok. Dia juga merintis pendirian Brigade Mobil, Polisi Lalu Lintas, Polisi Air dan Udara, Polisi Wanita, laboratorium kriminal, biro anak-anak, dan Interpol.

Dia pulalah yang merintis pembangunan Markas Besar Polri. Hasil kerjanya sebagian besar masih bertahan hingga hari ini. Itulah warisan paling berharga dari RS Soekanto yang sangat layak menjadi pahlawan nasional dan Bapak Kepolisian Indonesia.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here