Layang-layang yang dimainkan saat Dinasti Han di Cina (kitehistory)
Layang-layang yang dimainkan saat Dinasti Han di Cina (kitehistory)

MATA INDONESIA, JAKARTAKuambil buluh sebatang
Kupotong sama panjang
Kuraut dan kutimbang dengan benang
Kujadikan layang-layang

Bermain berlari
Bermain layang-layang
Berlari kubawa ke tanah lapang
Hati gembira dan riang

Lirik lagu anak-anak ini menggambarkan cerita membuat dan bermain layang-layang. Permainan tradisional yang jarang dimainkan anak-anak ini sekarang sedang melambung selama pandemi virus corona.

Permainan ini sederhana. Cuma butuh nyali dan ketekunan menerbangkan lembaran bahan tipis berkerangka ke udara dengan tali atau benang. Permainan ini memanfaatkan kekuatan hembusan angin untuk mengangkatnya atau menerbangkannya.

Di sejumlah daerah, layang-layang kini ramai dimainkan, baik oleh anak-anak maupun orang dewasa. Lalu, bagaimanakah sejarah layang-layang? Mengutip Encyclopedia Britannica, layang-layang pertama kali dipopulerkan di Cina sekitar 3.000 tahun yang lalu.

Bahan-bahan yang ideal untuk membuat layang-layang sudah tersedia, seperti kain sutra untuk bahan layar, sutra berkekuatan tinggi untuk jalur terbang, dan bambu tangguh untuk kerangka kerja yang kuat dan ringan.

Layang-layang Cina yang paling awal diketahui adalah datar dan sering berbentuk persegi panjang. Setelah kemunculannya itu, layang-layang tersebut bermigrasi ke berbagai negara di dunia. Misalnya, Korea, Jepang, Myanmar, India, Arab, dan Afrika Utara, kemudian lebih jauh ke semenanjung Malaysia, Indonesia, dan pulau-pulau Oseania di timur Pulau Paskah.

Kisah layang-layang di Cina muncul pertama kali pada masa pemerintahan Dinasti Han (200 SM-200 M). Saat itu militer Cina menempelkan potongan batang bambu pada layang-layang mereka. Ketika layang-layang melintasi pasukan musuh, angin yang menerobos rongga bambu pada layang-layang mengeluarkan bunyi siulan. Karena jumlah layang–layang yang diterbangkan banyak, bunyi siulan menjadi gemuruh sehingga membuat musuh ketakutan dan melarikan diri.

Permainan ini pun akhirnya populer. Nyaris semua negara di Asia tergila-gila dengan permainan ini. Di Indonesia, pada penelitian arkeolog nasional, layang-layang ditemukan di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Layang-layang tersebut berasal dari daun gadung yang dirajut dan dibentuk seperti layang-layang. Menurut penelitian tersebut, masyarakat Sulawesi Tenggara menggunakan layang-layang tersebut untuk mencari keberadaan Tuhan di langit.

Tak hanya Asia, Eropa pun terjangkit dengan permainan layang-layang. Bentuk layang-layang di Eropa mulai berkembang pada abad pertengahan (1100-1500 M). Salah satunya dikembangkan dengan panji-panji militer serupa kantung penangkap angin. Baru tahun 1500-an muncul bentuk jajaran genjang, yang kemudian populer di Eropa.

Menurut dasarnya layang-layang dikelompokan menjadi 5 jenis. Yang tertua, rata berbentuk jajaran genjang. Jenis ini memerlukan ekor untuk menimbulkan tahanan dan tegaknya arah terbang. Makin kencang angin, harus makin panjang pula ekornya. Panjang ekor paling tidak tujuh kali diagonal.

Sedangkan lengkung pada layang-layang sengaja dibuat untuk menciptakan sudut terhadap arah angin, sehingga layang-layang dapat terbang stabil tanpa bantuan ekor. Layang-layang melengkung ini dipatenkan pada tahun 1891 oleh William A Eddy asal Amerika.

Layang-layang kotak berbentuk tiga dimensi ditemukan Lawrence Hargrave dari Australia tahun 1893. Untuk menerbangkan nya perlu angin yang cukup kuat dan stabil. Lain lagi dengan dengan layang-layang delta hasil temuan Francis M Rogallo dari AS tahun 1941 yang bisa diterbangkan dengan angin sepoi-sepoi. Nenek moyang alat terbang layang ini bentuknya berupa dua permukaan segitiga yang bertemu di satu sisi dengan membentuk sudut. Pada garis pertemuan ini dipasang sirip vertikal di sebelah bawahnya. Sirip sekaligus lunas penyeimbang ini berfungsi sebagai kekang kendali yang langsung tersambung dengan benang.

Sedangkan layang-layang flexible ditemukan oleh Domina C Jalbert dari AS tahun 1963. Jenis ini memang tanpa rangka, sehingga tiap bagian disambung dengan dijahit atau dilem sampai bentuk bisa melayang.

Sudah sejak tahun 1749 layang-layang dipakai dalam penelitian ilmiah. Waktu itu Alexander Wilson (1714-1786) dan Thomas Melvil (1726-1753) dari Skotlandia memasang termometer pada layang-layang untuk mengukur permukaan bumi.

Dengan layang-layang pula pada tahun 1752, negarawan dan ilmuwan AS Benjamin Franklin berhasil membuktikan teorinya bawa petir itu bermuatan listrik.

Layang-layang kotak berperan penting dalam pengembangan pesawat, karena Orville dan Wilbur Wright menggunakan jenis ini untuk menguji teori mereka tentang pemelintiran sayap, sebelum akhirnya berhasil menemukan pesawat terbang pertama tahun 1903. Bahkan Alexander Graham Bell, penemu telepon pernah merancang layang-layang untuk dikembangkan jadi pesawat penumpang.

Manfaat praktis layang-layang pun cukup banyak. Diantaranya tahun 1847, membantu merentang kawat melintasi sungai Niagara antara AS dan Kanada, untuk membangun jembatan gantung pertama. Sedangkan tahun 1800 hingga awal 1900-an, meteorolog memanfaatkan layang-layang kotak yang dilengkapi alat pengukur cuaca. Khusus pada militer, selama “Perang Dunia II” (1939-1945) sekoci penyelamat dilengkapi layang-layang berantena radio untuk mengitim pesan SOS.

Namun selanjutnya peran layang-layang digantikan oleh balon dan pesawat terbang. Fungsi layang-layang pun sekadar alat hiburan. Kini ada layang-layang yang terbuat dari bahan sintetis, misal plastik atau nilon. Sedangkan rangkanya dari fiberglass atau aluminium, dengan benang dari bahan nilon atau polyester./Dari berbagai sumber

Reporter: Handika Maulana Iqbal

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here