Makam Imam Bukhari
Makam Imam Bukhari. (kemlu.go.id)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pernah di awal 1960 -an ada suatu cerita unik yang mengisahkan kecintaan Presiden Soekarno kepada Imam Bukhari, perawi hadist Nabi Muhammad SAW terkemuka.

Ketua Dewan Menteri Uni Soviet, Nikita Krushchev, mengundang Presiden Soekarno berkunjung ke negara itu setelah berhasil membentuk Gerakan Non-Blok pada 1955 di Bandung.

Soekarno sangat gembira mendapat undangan tersebut karena bisa menjadi ajang pengakuan gerakan yang dibentuk untuk meredakan ketegangan antara Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet dengan Pakta Warsawanya dan Blok Barat pimpinan AS dengan NATO.

Namun, Bung Karno meminta persyaratan unik kepada Krushchev yang menemukan dan membersihkan makam Imam Bukhori di Samarkand, Uzbekistan yang menjadi wilayah Soviet waktu itu.

Permintaan si Bung itu membuat Kremlin kebingungan memenuhinya, karena sejak negara itu dikuasai Partai Komunis peninggalan Islam di daerah kekuasaannya seperti Uzbekistan, Kazaksthan, dan wilayah Asia Selatan, tidak dipedulikan dan tidak terpelihara.

Dikabarkan Pemerintah Soviet yang anti-agama tersebut cukup kelabakan mencari makam perawi Nabi Muhammad SAW yang dihormati umat Islam seluruh dunia tersebut, karena juga ikut terbengkalai.

Dikabarkan Khrushchev sempat menyerah karena kesulitan berhasil menemukan dan menawar syarat lain. Tapi presiden pertama RI itu bersikeras mereka harus menemukan makam itu.

Setelah pencarian panjang akhirnya menemukan makam tersebut. Lalu seluruh unsur dikerahkan termasuk tentara untuk membersihkan dan memugar makam sebelum kedatangan Soekarno pada sekitar 1961.

Menurut Muazin Masjid Imam Bukhari, Israil, menyebut Soekarno menghormati Imam Bukhari dengan melepas sepatu dan berjalan merangkak dari pintu depan menuju makam ketika turun dari mobil yang mengantarnya.

Sejak saat itu makam sang Iman dipelihara dengan baik hingga kini setelah Pemerintahan Uzbekistan berpisah dari Rusia. Makam itu bahkan menjadi destinasi wisata umat Islam dunia.

Penghormatan pun diberikan Pemerintah Uzbekistan terhadap setiap warga Indonesia yang berziarah ke makam sang perawi hadist ternama tersebut. Kita diperkenankan mendekati nisan makam, warga lain tidak boleh.

Perihal permintaan Soekarno tersebut, Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD pernah membenarkannya.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here