Ksatria Templar
Ksatria Templar

MATA INDONESIA, JAKARTA – Hingga saat ini kisah pasukan atau Kesatria Templar masih menjadi salah satu kelompok yang menarik untuk dibahas karena dinilai menyimpan sebuah rahasia. Walaupun mereka bukan lah kelompok rahasia dan dikenal publik, segala aktivitas dan bisnis dalam kelompok ini masih menjadi rahasia. Ada semacam selubung misteri yang menyelimuti sebagian besar aktivitas mereka, dari perbankan hingga ritual yang dijalankan.

Mengutip BBC, Templar merupakan kelompok militer relijius yang didirikan selama Perang Salib Pertama (1095-1101). Kelompok ini awalnya beranggotakan sembilan kesatria yang tinggal di Yerusalem setelah Perang Salib Pertama. Templar dipimpin oleh Hugues de Payns setelah ia bersumpah pada akhir 1119 untuk mengabdikan dirinya.

Hugh de Payens
Hugh de Payens

Tugas utama Templar adalah melindungi peziarah Kristen dari serangan kelompok kaum Muslim. Mereka pertama kali mulai mendapatkan kekuasaan ketika tinggal di atas Bukit Kenisah atas izin Baldwin II, Raja Yerusalem.

Kaum Templar didukung oleh banyak pemimpin dan tokoh agama. Pada 1225, kelompok ini menjadi cukup kaya dan mulai berkembang hingga ke Eropa. Mereka juga didukung oleh anggota Gereja Katolik yang kuat seperti Bernard dari Clairvaux, yang menulis aturan awal Templar.

Kekuatan dan pengaruh Templar tumbuh dengan cepat dan tak terhentikan. Faktor lain yang semakin menambah pengaruh mereka adalah dengan dikeluarkannya keputusan Omne Datum Optimum oleh Paus Innosensius II. Menurut putusan ini, para kesatria bertanggung jawab kepada Paus sendiri. Templar juga diizinkan untuk membangun benteng mereka sendiri dan tidak diharuskan untuk membayar pajak.

Hal ini menyebabkan jumlah kesatria Templar yang awalnya 9 menjadi 300. Jumlah ini terus meningkat hingga mencapai 15.000-20.000 kesatria. Namun, tidak semua kesatria memiliki status dan peringkat yang sama satu sama lain.

Dalam sejarah Templar, para kesatria digolongkan pada kelas-kelas tertentu. Kelas-kelas ini didasarkan atas latar belakang dan status sosial mereka. Peringkat paling atas dikenal sebagai Knight Brother yang beranggotakan sembilan kesatria asli Templar.

Di peringkat berikutnya, ada Seargent. Mereka yang masuk dalam kelas ini bertugas menjalankan bisnis. Pejuang, manajer perkebunan, notaris, dan birokrat merupakan profesi yang diemban Seargent.

Kelas berikutnya adalah Squires yang terdiri dari pejuang sukarelawan. Squires bertugas sebagai pelayan para kesatria dan terkadang berjuang untuk Templar. Sisanya merupakan sekelompok kecil pengrajin, pelayan, dan tukang batu.

Meskipun Templar menjadi bagian terkuat dari Tentara Salib, sumber kekayaan mereka berasal dari kegiatan bisnis yang dijalankannya. Bisnis tersebut menghasilkan kekayaan yang cukup untuk membeli 9000 tempat yang mencakup beberapa wilayah, mulai dari Inggris hingga Suriah dan dari Portugal hingga Polandia.

Salah satu kegiatan bisnis yang dilakukan para Templar adalah mendirikan bank internasional pertama. Sistem perbankan yang mereka buat hampir sama dengan sistem bank saat ini. Ini menjadi faktor pembantu dalam penambahan kekayaan para kesatria.

Bank-bank ini memiliki cabang yang tersebar di berbagai lokasi. Orang dapat menyimpan uang mereka di satu cabang dan menariknya di cabang lain. Mereka juga meminjamkan uang kepada orang-orang.

Dalam sejarahnya, kota Yerusalem dijadikan tanah suci oleh dua agama besar, yakni Islam dan Kristen. Sehingga, untuk mengambil alih kota ini mereka melakukan Perang Salib.

Kaum Kristen mampu merebut Yerusalem lewat Perang Salib Pertama dan menciptakan negara-negara tentara salib kecil yang menjadi bagian dari Kerajaan Yerusalem. Menyusul diciptakannya negara ini dibentuk lah Templar.

Meskipun Perang Salib Pertama dimenangkan kaum Kristen, pada tahun 1187 Salahuddin Al Ayyubi (Saladin) berhasil merebut Yerusalem setelah meraih kemenangan atas pasukan salib di Pertempuran Hattin.

Gagal nya pasukan Templar pada Pertempuran Hattin disebabkan karena kaum Templar saat itu sering bersitegang dengan dua kelompok pasukan militer lainnya. Ini membuat kaum Kristen menjadi lemah, baik dibidang politik maupun militer.

Kesatria Templar terpaksa memindahkan markas mereka ke bandar Akko, kota sebelah utara Yerusalem. Hingga, pada 1291 Akko jatuh ke tangan Muslim. Sehingga, markas mereka terpaksa dipindahkan kembali ke Limassol, Pulau Siprus. Pada saat yang sama, Kesatria Templar juga mempertahankan keberadaan garnisun di Arwad.

Pada 1330, Kesatria Templar terlibat dalam aksi militer gabungan bersama bangsa Mongolia. Dalam pertempuran ini, Kesultanan Mamluk Mesir berhasil merebut Arwad. Dengan lepasnya Arwad dari tangan Templar, hilang pula markas para tentara salib.

Kerena misi militer Templar sudah dianggap tidak penting lagi, dukungan pada kelompok ini mulai berkurang. Meski begitu, anggota kelompok ini tidak terpuruk. Mereka sudah menjadi bagian dari masyarakat. Banyak dari ahli Templar yang tetap menjalankan bisnisnya.

Reporter: Diani Ratna Utami

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here