Ketika Moehammad Jasin dan Korps Polisi Ikut Angkat Senjata dalam Pertempuran Surabaya
Pasukan Polisi Istimewa, laskar, dan BKR. (jurnal srigunting)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tanggal 21 Agustus 1945 selalu dikenang sebagai momentum berdirinya Korps Brigade Mobil (Brimob). Satuan yang sebelumnya adalah Korps Pasukan Polisi Istimewa (Tokubetsu Keisatsutai) di era pendudukan Jepang, diubah oleh Inspektur Kelas I (Letnan Satu) Polisi Moehammad Jasin menjadi Polisi Republik Indonesia (PRI) untuk ikut mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Ajakan Jasin itu diungkapkannya dengan berapi-api dalam sebuah apel pagi di tanggal 21 Agustus 1945, di hadapan 250 personel PPI dan 50 pegawai, Jasin membacakan Proklamasi Pasukan Polisi berisi ikrar setia terhadap Republik Indonesia.

Proklamasi

Ontoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945, dengan ini menjatakan poelisi sebagai Poelisi Repoeblik Indonesia.
Soerabaja, 21 Agoestoes 1945

ttd,

Moehammad Jasin
Inspektoer Poelisi Tk I

Teks Proklamasi Pasukan Polisi ini kini terpatri pada sebuah monumen terletak di perempatan Jalan Polisi Istimewa Surabaya. Inilah cikal-bakal lahirnya Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Asvi Warman Adam dalam buku Menguak Misteri Sejarah (2010) menyebut pernyataan Jasin itu sebagai ‘proklamasi polisi Karesidenan Surabaya’. Mereka mengakui diri mereka adalah ‘pegawai polisi Republik Indonesia’ yang berkewajiban menjunjung tinggi dan mempertahankan kedaulatan dan kehormatan negara Republik Indonesia (hlm. 56).

Perlu diketahui, Polisi Istimewa pada masa awal kemerdekaan menjadi satu-satunya kekuatan tempur tinggi yang belum dilucuti Jepang. Jasin bersama pasukannya menghadapi pasukan sekutu yang mendarat di Tanjung Perak Surabaya pada 25 Oktober 2020.

Untuk menambah amunisi persenjataan, Jasin pun memimpin PRI melakukan penyerangan dan perampasan senjata-senjata milik serdadu militer Jepang di gedung Kempetai. Aksi penyerbuan ke benteng pertahanan Jepang itu, Jasin sebisa mungkin menghindari kontak senjata.

Ia memilih berunding dengan komandan Kempetai. Hasilnya, ia sukses membujuk pihak Kempetai agar menyerah. dan ia akan menjamin keselamatan mereka.

Dalam insiden di Hotel Yamato serta pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya, Jasin pun mendorong PRI melancarkan serangan dengan taktik perang gerilya. Bung Tomo dalam satu kesempatan mengatakan bahwa Jasin tampil memimpin Pasukannya untuk mendukung dan mempelopori perjuangan di Surabaya.

Baca Juga : Torehan Jasa Brimob untuk Indonesia

Dalam buku memoar Jasin, disebutkan bahwa Pasukan Polisi Istimewa dibawah komandonya berperan sangat heroik dalam pertempuran Surabaya. Jasin juga dikenal sebagai sosok yang sangat berani dalam pertempuran. Menerobos desingan peluru dan berhasil menghentikan serangan tembak menembak.

Jasin, yang juga yang dikenal sebagai Bapak Brimob ini, merupakan putra Sulawesi, lahir di Baubau, Sulawesi Tenggara, 9 Juni 1920, kemudian menghembuskan nafas terakhir pada hari Kamis tanggal 3 Mei 2012 pukul 15.30 WIB, di RS Polri Kramat Jati, almarhum mengahiri pejalanan hidupnya diusia 92 tahun, kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Berkat jasa-jasanya, Moehammad Jasin diangkat menjadi pahlawan nasional oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 4 Nopember 2015 lalu.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here