MATA INDONESIA, JAKARTA – Prabowo Subianto Djojohadikusumo mengawali karir militernya di TNI Angkaran Darat pada tahun 1974, sebagai seorang Letnan Dua setelah lulus dari Akademi Militer di Malang. Ada suka dan duka selama berkarier di dunia militer.

Lepas dari AKABRI, Prabowo Subianto masuk kesatuan Elite Korps Baret Merah. Dia menjalani hidup sebagai serdadu, seperti yang pernah dijalani oleh pamannya yang mati muda sebagai Letnan pada 1946. Nama Subianto kemudian menjadi nama kedua Prabowo.

Di satuan Baret Merah, Prabowo harus siap dikirim ke daerah konflik. Prabowo akhirnya kebagian tugas pertamanya ke Timor Timur untuk mengamankan daerah kedaulatan Republik Indonesia. Prabowo dalam tugas pertamanya langsung diberi amanah sebagai komandan peleton.

Kala itu jumlah helikopter ABRI di sana tidak banyak dan belum tentu bisa menjemputnya di lokasi jika ia tertembak dalam cuaca buruk. Pada penugasan pertamanya di daerah konflik, Prabowo akhirnya selamat dan dia tidak mati muda berpangkat Letnan seperti pamannya.

Prabowo dikirim lagi dalam penugasan kedua ke Timor Timur. Pada tahun 1978, Letnan Prabowo sudah menjadi Komandan Kompi Nanggala 28.

Letnan Prabowo memberikan laporan kepada atasannya Mayor Yunos Yosfiah bahwa sekutu lokal melihat pasukan Fretlin berjumlah besar bergerak ke arah selatan. Setelah laporan itu diterima oleh Kolonel Sahala Rajagukguk, dia memerintahkan Yunus Yosfiah untuk segera mengambil tindakan dan perintah itu akhirnya diteruskan ke Prabowo.

Bersama Kompi Naggala 28, Prabowo bergerak dan terlibat pertempuran dengan Fretlin. Dalam pertempuran jarak dekat, Sersan Satu Jacobs Maradebo berhasil menembak orang yang paling berpengaruh di pihak lawan.

Orang tersebut adalah Nicolaus Dos Reis Lobato, Presiden Fretlin. Keterlibatan Prabowo di dalam kerja sama tim, dan membunuh orang yang berpengaruh besar di pihak lawan, membuat atasannya terkesan dengan Prabowo.

Timor Timur punya kenangan tersendiri di hati Prabowo. Tidak hanya penting di kariernya, namun juga persahabatannya dengan pemuda asal Ainaro yaitu Hercules, yang menjadi tenaga bantuan oprasi (TBO). Mereka menjalin persahabatan hingga Prabowo menjadi Komandan Jendral Pasukan Elit Baret Merah dan Hercules menjadi Kepala Preman di Jakarta.

Setelah tugasnya selesai di Timor Timur, Prabowo bersama Luhut Binsar Panjaitan dikirim ke Jerman Barat untuk belajar di GSG9 (Polisi Elite Anti Teror). Prabowo pernah berusaha mengerahkan pasukan pada Maret 1983 untuk menculik Jendral Benny Moerdani yang ingin dijadikan Panglima ABRI. Pada saat itu ia menuduh Benny hendak mengkudeta Presiden Soeharto.

Mungkin banyak yang tak suka dengan sosok Prabowo karna tingkahnya seperti orang arogan. Sebelum menjadi Panglima Kostrad dan sering berkunjung ke Timor Timur, Carrascalao selaku Gubernur, pernah menuduh Prabowo membayar sejumlah orang yang menyelinap, menembaki dan membunuh anggota ABRI dari Batalion lainya yang berpatroli.

Bukan cuma itu, pemberitaan miring mengenai “alat vital” Prabowo tertembak hanyalah hoaks dan masyarakat tidak tahu kebenarannya. Pada saat itu Prabowo dan komandannya sedang menyisir hutan dan tiba-tiba ada musuh yang menembak Komandan Prabowo pas di paha dan Prabowo menggotong komandan itu sampai ke markas. Itulah kejadian sebenarnya, kebanyakan orang salah mengira bahwa Prabowo adalah korban penembakannya.

Reporter: Farhan Fadhilah 

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here