Tonny Koeswoyo (Foto: Istimewa)

MATA INDONESIA, JAKARTA– Pecinta musik legendaris Indonesia, pasti tak asing dengan sosok Koestono Koeswoyo. Koestono Koeswoyo atau dapat kita sapa dengan akrab Tonny Koeswoyo.

Ia adalah seorang pemimpin dari grup Koes Bersaudara dan Koes Plus. Sebagai pemimpin band Koes Plus, ia dikenal dengan sosok yang sangat tegas. Grup band ini begitu berjaya, maju dan sangat terkenal pada masanya.

Tonny Koeswoyo lahir di Tuban 19 Januari 1936. Ia merupakan anak keempat dari sembilan bersaudara. Pria kelahiran Tuban ini lahir dari pasangan R. Koeswojo (Raden Koeswoyo) dan Rr. Atmini.

Jika dari silsilah keluarganya, mereka termasuk generasi ke 7 keturunan Sunan Muria di Tuban. Ibunya adalah keponakan dari Bupati Tuban pada zaman penjajahan Belanda waktu itu.

Sosoknya dikenal sebagai orang yang konsisten dan totalitas dalam bermusik. Musisi ini menempuh pendidikan terakhirnya di IKIP Jakarta dengan jurusan Sastra Inggris.

Namun, ia tak menyelesaikan kuliahnya mesti telah tingkat akhir. Di tempat kuliahnya, ia rajin mengikuti berbagai kegiatan kesenian mahasiswa yang diadakan oleh kampusnya.

Masa kecilnya tinggal di kota Tuban, Jawa Timur bersama dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Awalnya ia kerap dipanggil dengan sebutan Ton.

Namun, akhirnya diubah menjadi Tonny agar terlihat lebih gagah, sebagaimana wajahnya yang paling tampan di antara saudara-saudaranya. Pengalaman musik Tonny mulai terasah ketika bergabung dengan suatu grup ludruk di Tuban. Di tahun 1952 keluarga Koeswoyo pindah ke Jakarta.

Darah musiknya mengalir dari R. Koeswojo (Koeswoyo) sang ayah yang terampil memetik gitar dan main musik Hawaiian. Ketika berusia empat tahun, Tonny menabuh ember dan baskon dengan pemukul lidi serta bejana yang diisi air selama berjam-jam.

Lidi tersebut dipasangin dengan bunga jambu yang masih kuncup. Di tangannya ember, baskom, dan lainnya mengeluarkan suara alunan musik yang unik.

Saat memasuki usia akil balik, Tonny Koeswoyo tak mau lagi menabuh ember. Intuisi musiknya kian menggebu-gebu tanpa ada yang mampu menghalanginya. Lalu Tonny meminta kepada sang ayah untuk dibelikan gitar, biola, dan buku-buku musik.

Tetapi, ayahnya tak memenuhi permintaan itu dengan alasan orang tak bisa hidup dari bermusik. Kakaknya, Jon membelikan alat musik untuk menyatukan adik-adiknya. Tetapi Jon dan Ibunya dimarahi oleh sang ayah, sebab merusak adik-adiknya.

Namun, mereka tetap berkeras hati membelikannya sehingga membuat sang ayah luluh. Sejak saat itu Tonny mulai serius belajar musik. Sehingga ia dapat bermain gitar, piano, ukulele dan suling.

Di tahun 1962, Koes Bersaudara mencoba untuk memasuki dapur rekaman musik. Tonny yang pertama kali melontarkan untuk membuat sebuah album.

Awalnya dianggap mustahil oleh rekan-rekannya. Tetapi dengan keberaniannya ia berhasil membuat sebuah lagu. Tony Koeswoyo juga memiliki daya cipta yang cemerlang.

Di bawah kepemimpinannya, Koes Bersaudara dikenal sebagai band yang sangat produktif. Dalam sebulan mereka bisa menghasilkan dua album. Sebagian besar albumnya itu karya dari Tonny.

Melalui PT Irama Tonny beserta bandnya berhasil mengeluarkan album perdananya. Grup band ini meraih kesuksesan dan popular selama beberapa tahun.

Setelah mereka dijebloskan ke dalam penjara. Akhirnya mereka mengganti nama dengan Koes Plus yang resmi muncul di tahun 1969. Koes Plus tak langsung mendapatkan simpati dari masyarakat Indonesia, album mereka sempat ditolak oleh toko kaset.

Setelah itu, Koes Plus berhasil merilis lebih dari 100 album berbagai jenis aliran musik. Seperti Pop, Dangdut, Melayu, Keroncong, Jawa, Folksong, Rock, Bosanova, Qasidah, Rohani Natal, Pop Anak-anak, dan sebagainya.

Sebagian besar lagu-lagu Koes Plus melegenda dan abadi. Sayangnya, kepopularan mereka dan albumnya laris dipasaran tak menjadikan mereka berlimpah harta.

Tonny Koewswoyo meninggal dunia di Jakarta pada 27 Maret 1987 di usianya yang ke 51 tahun. Ia meninggal akibat penyakit yang dideritanya yakni kanker usus. Penyakitnya telah lama muncul, tetapi ia mengabaikannya karena dirinya sangat totalitas dalam bermusik.

Saat tengah menjalani perawatan di RS Setia Mitra, penyakitnya semakin parah tetapi hasrat sebagai seorang musisi tak sedikit pun berkurang. Sebelum ia meninggal dunia, Tonny menciptakan beberapa lagu yang seakan merupakan warisan terakhirnya, yakni Cakrawala Hati, Dewi Sri, Nenek Sayang dan Wit Gedhang.

Reporter: Azizah Putri Octavina

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here