Elizabeth Jane Cochrane
Elizabeth Jane Cochrane

MATA INDONESIA, JAKARTA – Jurnalis adalah salah satu profesi paling berbahaya di dunia. Pasalnya, selain menyampaikan informasi terkini, jurnalis terkadang juga ditugaskan untuk mengulik suatu fakta secara mendalam sehingga menghasilkan berita investigasi. Untuk mencapai misi ini, jurnalis biasanya harus menempuh cara-cara ekstrem, salah satunya dengan menyamar.

Dalam penyamarannya, bukan hanya identitas palsu dan kamera tersembunyi saja yang perlu dipersiapkan oleh jurnalis. Nyali yang tinggi dan kematangan strategi juga menjadi dasar penentu kelancaran dan keberhasilan misi.

Hanya wartawan dengan jiwa pemberani dan berdedikasi tinggi pada profesi saja yang bisa melakukan tugas berat ini. Mengutip dari Career News Insider, berikut adalah lima jurnalis yang memiliki keberanian besar untuk melakukan penyamaran dengan cara ekstrem.

1. Elizabeth Jane Cochrane

Dalam menjalankan tugasnya, wanita asal Amerika Serikat ini lebih dikenal dengan nama Nellie Bly. Tidak seperti jurnalis wanita lainnya yang cenderung menulis tentang fashion, kuliner, atau lifestyle, Cochrane justru lebih tertarik dengan pegungkapan isu-isu kejahatan.

Penyamaran paling ekstrem yang pernah dilakukannya adalah dengan berpura-pura menjadi gila dan amnesia, demi mencari informasi terkait malpraktik yang terjadi di Rumah Sakit Jiwa Blackwell Island. Dia menghabiskan 10 hari untuk bertahan dari penganiayaan yang kejam dari perawat, kondisi menjijikkan yang terinfeksi tikus, air minum kotor, dan makanan busuk.

2. Peter Waren

Salah satu penyamaran paling berani dari Waren adalah ketika ia menghabiskan seminggu penuh sebagai narapidana di Stony Mountain Penitentiary, Manitoba, untuk menyelidiki kebenaran kasus pemerkosaan yang dijatuhkan kepada David Milgaard pada tahun 1974.

Warren mengumpulkan berbagai bukti selama masa liputannya di penjara hingga akhirnya menemukan kebenaran bahwa vonis hakim terhadap Milgaard keliru. Hasilnya, Milgaard pun dibebaskan dari penjara dan dinyatakan tidak bersalah setelah 23 mendekam di balik jeruji besi.

3. Tim Lopes

Lopes adalah seorang jurnalis Brasil yang tumbuh di lingkungan kumuh bernama favela di Rio de Janeiro. Ini adalah daerah berbahaya yang sering diabaikan oleh pemerintahan kota. Lopes terus menyamar untuk memfilmkan kegiatan ilegal dengan kamera tersembunyi di sejumlah titik yang dikuasai oleh geng kriminal dan bos narkoba.

Tahun 2001, Lopes membantu pihak kepolisian setempat dalam mengurangi aksi jual beli narkoba. Namanya pun menjadi populer sehingga para pengedar narkoba dapat mengetahui identitas dan lokasi keberadaannya. Pada 2 Juni 2002, Lopes pun diculik, dipukuli, disiska, dan dibakar hingga tewas.

4. Donal MacIntyre

MacIntyre adalah seorang jurnalis investigasi Irlandia yang mengaku dalam penyamaranya pernah ditembak, dipukuli, dan dicederai. MacIntyre juga mengaku sudah 50 kali pindah rumah karena ancaman pembunuhan.

Penyamaran MacIntyre yang paling penting, berani dan sangat terkenal adalah ketika ia dapat masuk menjadi anggota salah satu geng Hooligans tersadis yaitu Chelsea Headhunters. Selama melakukan penyamaran, Maclintyre mengkonfirmasi adanya keterikatan antara geng hooligans ini dengan organisasi pro Nazi, Combat 18.

Investigasi yang dilakukan MacIntyre membuat sejumlah anggota Geng Chelsea Headhunters ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Salah satu anggota geng, Jason Marriner dijatuhi hukuman enam tahun penjara akibat menjadi oknum yang merencanakan bentrokan dengan penggemar saingan.

5. Antonio Salas

Salas adalah seorang jurnalis investigasi yang hanya terkenal dengan nama samaranya. Hidupnya dihabiskan dengan melakukan penyamaran. Dia pernah setahun menjadi anggota pro Nazi, satu setengah tahun sebagai pedagang wanita, dan enam tahun sebagai seorang teroris internasional.

Salas mengaku, penyamarannya tersebut membawa dampak psikologis kepada dirinya. Akibat Sering melihat hal-hal tak manusiawi membuat ia sering mengalami mimpi buruk saat tidur.

Ketika akan masuk grup teror jihad, Salas membuat cerita bakground tentang identitas palsunya secara rumit. Selain itu ia pun belajar menulis tangan salinan Al-Quran serta melakukan sunat. (Marizke/R)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here