MATA INDONESIA, JAKARTA – Di sejumlah kota besar termasuk Jakarta, Festival musik Jazz adalah hal yang biasa. Perkenalan musik Jazz di kalangan anak muda sudah mulai terbentuk saat tahun 1976, Chandra Darusman membuat acara Jazz Goes to Campus (JGTC).

Kehadiran musik jazz di kampus-kampus terutama Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung membuat gairah musik jazz di kalangan anak-anak muda pun meningkat.

Mulailah sejumlah musisi untuk membuat festival musik jazz dalam standard internasional. Apalagi di tahun 1985, Bhaskara, band yang dibentuk Ireng Maulana tampil dan diundang secara resmi di North Sea Jazz Belanda

Bhaskara adalah sebuah nama grup musik berasal dari Indonesia yang memainkan musik dengan genre Jazz fusion. Dibentuk pada tahun 1985, dengan nama Bhaskara 85.

Ternyata penampilan Bhaskara ’85 dinilai cukup sukses hingga ketua panitia North Sea Jazz Festival, Paul Acket meminta band tersebut kembali mengikuti festival itu pada tahun berikutnya. Jadilah Bhaskara tampil di North Sea Jazz Festival tahun 1986.

Sukses Bhaskara di North Sea Jazz membuat sejumlah musisi jazz di Indonesia berkeinginan membuat festival jazz berskala internasional.

Munculah nama Ireng Maulana yang sempat menggagas sejumlah pertunjukan jazz di kafe-kafe di Jakarta dan banyak kegiatan jazz lainnya.

Ireng Maulana layak disebut sebagai musisi jazz sejati. Terlahir dengan nama Eugene Lodewijk Willem Maulana, 15 Juni 1944 di Jakarta, Ireng muda pernah bermain dengan seniman serbabisa, Bing Slamet dan pianis Mus Mualim. Ia pun tampil di North Sea Jazz Festival, Singapura Jazz Festival, dan lainnya.

Keinginan membuat festival pun diwujudkan Ireng Maulana bersama Peter F Gontha menggelar festival jazz di Jakarta dengan nama JakJazz. Festival ini pertama kali digelar di Drive-in Ancol di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, sekitar November 1988.

Festival ini sukses karena mendatangkan sejumlah musisi internasional. Ajang ini akhirnya berlangsung setiap tahun antara November dan Desember. Lokasinya pun dipindah tidak lagi di Ancol tapi pindah ke Parkir Timur Gelora Bung Karno dan Pasar Festival Kuningan pada 1997.

JakJazz terbukti mampu menghibur para pencinta musik, terutama jazz di Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari penonton JakJazz yang bukan hanya dari Jakarta, juga dari daerah di Indonesia. Bisa dimengerti, banyak penggemar musik jazz di Indonesia, tapi untuk menonton pertunjukan jazz tidaklah mudah.

Pada masa itu Indonesia memiliki pemusik jazz kelas dunia, seperti Bubi Chen, Bill Saragih, Maryono, Indra Lesmana, Benny Likumahua, Dullah Suweleh, Benny Mustafa, Pattiselano Bersaudara, Idang Rasyidi, dan lainnya. Mereka musisi yang menjadi langganan tampil di berbagai festival kelas dunia, seperti North Sea Jazz Festival di Belanda, Berlin Jazz Festival di Jerman, dan sebagainya. Namun, harus diakui mereka kurang bisa tampil di Indonesia.

Sebab, memang tidak banyak promotor yang bersedia menampilkan jazz di daerah karena takut rugi. Ireng dengan kecintaannya kepada jazz sering menjembatani melakukan negosiasi dengan penyelenggara di daerah untuk sebuah pertunjukan jazz di sana. ”Kita harus bantu mereka di daerah untuk memperkenalkan jazz. Memang bayaran tidak besar, tetapi jika Jakarta terus, penggemar musik jazz tidak bertambah dan festival jazz akan sepi,” ujar Ireng Maulana, mengutip dari Historia.

Demam jazz dengan hadirnya JakJazz ternyata terbukti. Tak hanya musisi lokal yang bisa tampil di depan penggemarnya sendiri, tapi banyak promotor akhirnya berani mendatangkan musisi jazz kenamaan dari luar negeri main untuk di Indonesia.

Era 1990- an merupakan surga bagi penggemar musik jazz di Indonesia karena hampir setiap bulan ada saja artis jazz kenamaan tampil di Indonesia. Kedai jazz pun bermunculan, seperti Jamz bahkan tidak ketinggalan Blue Note Cafe ikut hadir di Jakarta dengan mendatangkan musisi serta penyanyi jazz legendaris, seperti Astrud Gilberto, Mark Murphy, Jon Hendric, Law Rall, dan lainnya. Penyanyi Phil Pery atau gitaris Lee Ritenaur dan lainnya bisa dikatakan langganan main di Jakarta.

Pada tahun 2006 pertama kalinya JakJazz mendatangkan musisi Jazz dunia. Nama – nama musisi dunia itu antara lain; The Rippingtons, Eric Marienthal, Monday Michiru, Smoma, Kazumi Watanabe, Russ Freeman, Ernie Watts, Phill Perry, Shakatak, Tots Tolentino, Coco York, Marina Xavier, Jeremy Monteiro, dan Seo Young Do.

Hal tersebut membuat JakJazz semakin dikenal di Indonesia dan menjadi perhelatan festival musik besar. Namun kebesaran nama JakJazz sempat terhenti di tahun 2014.

Tommy Maulana selaku chairman JakJazz Festival, menyatakan bahwa JakJazz akan kembali mengguncang Indonesia di pertengahan tahun 2020, namun rencana itu ternyata diadakan lebih awal pada tahun 2019. Tommy mengatakan JakJazz 2019 sebagai acara awalan dari serangkaian acara JakJazz.

Selain JakJazz, Festival musik Jazz di Indonesia juga dimeriahkan oleh Jakarta International Java Jazz Festival yang lebih dikenal dengan sebutan Java Jazz. Festival musik Jazz tahunan ini lebih muda dibandingkan pendahulunya JakJazz. Sama – sama berposisi sebagai festival musik besar, Java Jazz lahir di Jakarta pada tahun 2005.

Dari sebutannya, Java Jazz memang menekankan konser musik dengan menampilkan musisi – musisi Jazz, namun Java Jazz kerap juga menampilkan musisi di luar aliran Jazz seperti R&B, Soul, dan Reggae.

Setahun setelah pertama kali festival ini diadakan, Java Jazz langsung sukses menarik 67.000 penonton yang memadati Jakarta Convention Center. Ribuan penonton itu dihibur oleh musisi luar negeri seperti, James Brown, Earth, Wind & Fire, Eric Benet, Bubi Chen, dan Angie Stone.
Adanya dua festival musik Jazz ini, membuat skena musik Jazz di Indonesia lebih berwarna dan juga meningkatkan antusias masyarakat terhadap musik Jazz di Indonesia.

Peter F Gontha, promotor Java Jazz Festival yang telah sukses menggelar acara sejak 2004 menceritakannya?

“Pada tahun 2004 lulu, saya bersama anak saya masih di Amerika dan orang luar mengetahuinya kalau Indonesia penuh dengan teroris dan banjir yang diakibatkan tsunami,” ungkap Peter F Gontha saat itu.

Dari situ kemudian Peter F Gontha mulai berpikir tentang bagaimana mengangkat nama baik Indonesia di mata dunia. Lalu, dia membuat acara musik bertema Java Jazz. Ia berharap, melalui kesenian, citra Indonesia yang dikenal kurang bagus, nanti terangkat.

“Supaya dunia melihat bahwa Indonesia mempunyai industri musik yang bagus dan jangan melihat dari yang jeleknya saja tetapi lihat dari positifnya,” imbuhnya.

Tak hanya itu, dengan acara Java Jazz Festival di Indonesia, Peter F Gontha berharap dapat menarik perhatian wisatawan asing untuk berkunjung.

Kini di masa pandemik Covid, kecil kemungkinan menggelar festival jazz berskala internasional. Mudah-mudahan setelah badai Corona ini berhenti, musisi-musisi Jazz dunia akan kembali hadir di Indonesia menyuguhkan tontonan berkelas.

Reporter: Viery Andhika Ramadian

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here