Inspiratif! Kisah Perjalanan Hidup Si Jenius B.J. Habibie

13
habibie

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sosok Bacharuddin Jusuf Habibie atau B. J. Habibie dikenal sebagai seorang yang jenius. Kecerdasannya dalam bidang teknologi dan sains patut diacungi jempol. Ia pernah menciptakan pesawat yang menjadi salah satu aset bangsa Indonesia.

Bahkan, lantaran kepiawaian Habibie dalam hal tersebut, ia dijuluki sebagai Bapak Teknologi Indonesia. Habibie juga lama menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), hingga akhirnya menjadi Presiden Republik Indonesia ke-3 pada tahun 1998.

Habibie lahir di Parepare, Sulawaesi Selatan pada 25 Juni 1963. Ia merupakan anak keempat dari delapan orang bersaudara. Orang tuanya adalah Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardjo yang merupakan keturunan Jawa-Bugis.

Apabila melihat kedua orang tua Habibie, ibu dan ayahnya berasal dari keluarga terhormat. Kakek Habibie seorang ulama Islam terkenal dan keluarga ibunya berasal dari kalangan dokter. Ayah Habibie merupakan lulusan sekolah pertanian di Bogor dan sempat menjabat sebagai Kepala Departemen Pertanian Negara Indonesia Timur. Pada tahun 1950, ketika usai Habibie sekitar 14 tahun, ayahnya meninggal dunia.

Sejak kecil, Habibie sudah menunjukkan ketertarikannya pada mesin. Bahkan ia juga bercita-cita menjadi insinyur. Ia pernah bersekolah di HBS (Horgere Burger School). Namun, pada tahun 1950, ia harus pindah ke Bandung bersama orang tuanya dan pindah sekolah ke Gouvernements Middelbare School. Lalu, melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pada tahun 1951—1954.

Setelah lulus SMA, Habibie belajar di perguruan tinggi, yaitu Fakultas Departemen Elektro, Fakultas Teknik Institut Teknologi Bandung (ITB). Tapi, setelah selang satu tahun lulus dari ITB, Habibie pindah ke Jerman dan belajar di Rheinisch Westfählische Technische Hochschule (RWTH), Achen, Jerman Barat, mengambil jurusan pesawat terbang.

Ia menjadi mahasiswa Indonesia satu-satunya yang tidak menerima beasiswa dan berhasil meraih gelar doktor teknik dengan predikat summa cum laude. Kegigihan Habibie dalam belajar tidak membuatnya lupa untuk bersosialisi dengan teman-teman kuliah.

Ia pernah mewakili mahasiswa Indonesia yang belajar di Jerman dengan menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Achen tahun 1957.

Salah satu proyek besar PPI yang pernah ia selenggarakan ialah seminar pembangunan. Lalu, masa kuliahnya juga diisi dengan pekerjaan tambahan guna menanggung hidup bersama Ainun. Ia bekerja di bidang konstruksi ringan yang fokus dalam kontruksi perkeretaapian Talbot.

Namun, setelah proyek konstruksi selesai, ia mendaftar di perusahaan pembuat pesawat Hamburger Flugzeug Bau (HFB), dimana perusahaan itu sedang mengembangkan pesawat Fokker F28. Beberapa tahun setelah itu, Habibie diangkat sebagai Direktur Pengembangan dan Penerapan Teknologi di sana.

Selanjutnya, pada 29 Maret 1978, ia dipercaya Soeharto menjadi Menteri Riset dan Teknologi RI. Di Indonesia, ia banyak berkontribusi dalam urusan teknologi, salah satunya penerbangan. Pesawat buatannya ialah N-25 Gatot Kaca, CN-235, dan VTOL DO-31.

Ia pun mendirikan perusahaan transportasi yang fokus pada pengembangan pesawat terbang besutan dalam negeri, yaitu PT IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara). Karena segudang prestasi yang dimiliki Habibie, ia diangkat sebagai wakil Presiden Soeharto. Lalu, setelah Soeharto lengser, Habibie naik menggantikan posisi Soeharto sebagai Presiden.

Namun, pada Rabu (11/9/2019), kabar duka datang dari salah satu orang yang berjasa kepada tanah air ini. Thareq Kemal Habibie (anak B. J. Habibie), mengabarkan, bahwa B.J. Habibie berpulang setelah menjalani perawatan akibat gagal jantung di RSAD Gatot Soebroto di usia ke-83 tahun.

Perjalanan hidup Habibie menjadi salah satu peristiwa sejarah Indonesia atas lahirnya putra terbaik dalam negeri.

Reporter: Mala Komala

BERIKAN KOMENTAR POSITIF

Ayo berikan komentar
Tuliskan nama