Pasar Makanan Laut Wuhan yang menjual aneka makanan laut terletak di distrik Hankou
Pasar Makanan Laut Wuhan yang menjual aneka makanan laut terletak di distrik Hankou

MATA INDONESIA, BEIJING – Kisah awal mula Virus Covid-19 menyebar diceritakan secara lengkap oleh The Guardian.

Harian berbahasa Inggris ini mencatat nama Lan, seorang pedagang makanan laut kering di Pasar Makanan Laut Wuhan. Pria berusia 60 tahun ini adalah pedagang yang melayani pembeli makanannya setiap hari di pasar tersebut. Ia bersama para pedagang lainnya biasanya sudah bersiap-siap melayani dagangannya sejak pukul 03.00 pagi.

Pasar ini sebenarnya bersih. Di saat musim dingin di Wuhan, pasar ini menjadi tempat yang bisa membuat orang sering terserang pilek.

Pasar luas terdiri atas lebih dari 20 jalan setapak berkelok-kelok membentang di dua sisi jalan utama di lingkungan kelas atas distrik komersial Hankou. Jejeran daging tergantung di pengait atau teronggok di atas tikar plastik. Pekerja berjalan berkeliling dengan sepatu bot hangat. Saluran air berjajar di tepi jalan di samping toko-toko yang menjual segala sesuatu mulai dari unggas hidup sampai makanan laut dan bahan-bahan masakan lainnya. Pasar itu penuh sesak tetapi tetap bersih.

Sebagai pedagang, Lan mengikuti aturan keras yang diterapkan oleh otoritas pasar. Ia terbiasa mencuci tangan-tangannya pada air dingin tempat mencuci dan menyiapkan barang dagangan bagi pelanggan yang datang setiap pagi.

Pada pertengahan Desember, saat musim dingin melanda kota Wuhan, seusai berdagang Lan merasa tidak enak badan. Ia pun memutuskan tinggal di rumah untuk beristirahat setelah mengalami penurunan berat badan sebanyak 3 kilogram hanya dalam beberapa hari.

Karena kondisi badannya semakin turun, Lan memutuskan pergi ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan. Anehnya, dokter yang memeriksa dia, langsung mengirim Lan ke sebuah rumah sakit khusus penyakit menular dan menjalani perawatan di sana pada 19 Desember 2019.

Saat itu, Lan tidak tahu bahwa dirinya merupakan satu di antara kasus-kasus pertama dari sebuah virus corona baru yang sangat menular. ”Saya pikir saya terkena flu. Saya tidak pernah menyangka terkena virus ini,” ujar Lan seperti dikutip dari The Guardian.

Lan tidak menyangka, di rumah sakit tersebut banyak pasien yang punya kasus yang sama dengan dirinya. Akhirnya setelah 20 hari dirawat Lan sembuh dan diperbolehkan pulang ke rumahnya. Namun Lan sempat kaget karena kabar tentang penyakit misterius di Wuhan pun sudah menyebar di masyarakat.

Percakapan di whatsapp group (WAG) tertanggal 30 Desember 2019 yang dibaca Lan menampilkan peringatan yang disampaikan seorang dokter di rumah sakit Palang Merah Wuhan, Liu Wen. Ia mengingatkan rekan-rekannya tentang kasus yang dikonfirmasi virus corona di rumah sakit. ”Cuci tanganmu! Masker wajah! Sarung tangan!,” tulis Liu Wen yang kemudian menyebar dengan cepat di antara masyarakat.

Lan tidak mengetahui saat itu bahwa dia adalah salah satu kasus pertama dari virus korona baru yang sangat menular yang akan membunuh lebih dari 2.500 orang di kotanya dan akan menjangkiti dunia, menginfeksi lebih dari 1,6 juta orang sejauh ini dan menewaskan lebih dari 100.000 orang. Organisasi Kesehatan Dunia menggambarkan wabah Covid-19 sebagai krisis global terburuk sejak perang dunia kedua. “Saya pikir saya hanya masuk angin. Saya benar-benar tidak tahu, apa yang sebenarnya sedang terjadi,” kata Lan.

Sayangnya pemerintah Wuhan maupun pemerintah Cina tidak memberi tahu kepada warganya bahwa virus itu dapat menular antarmanusia hingga akhir Januari.

Awalnya, Komisi Kesehatan Wuhan memberi kabar tentang kasus pneumonia tidak dikenal secara berturut-turut tersebar dan diunggah secara daring pada hari yang sama. Pernyataan komisi tersebut memerintahkan setiap rumah sakit untuk membatasi informasi dan hanya menunggu otorisasi dari pemerintah Wuhan. ”Tidak ada bukti yang jelas akan adanya penularan antar manusia. Penyakit ini bisa dicegah dan dikendalikan” tulis Komisi Kesehatan dalam pernyataan yang disampaikan.

Namun, satu hari setelahnya, persis pada 1 Januari 2020, Komisi Kesehatan Wuhan menutup pasar makanan laut Huanan. Tidak hanya itu, pemerintah Wuhan menangkap dan menghukum delapan orang karena menyebarkan isu.

Pada saat bersamaan, orang-orang yang berada di seberang Sungai Yangtze dan belum pernah pergi ke pasar Huanan, mendadak banyak yang sakit. Coco Han, seorang mahasiswa berusia 22 tahun mengalami gejala batuk yang terus menerus. Setelah satu minggu, ia pergi ke klinik setempat dan melakukan CT scan.

Hasilnya, terjadi infeksi di paru-paru Han. Han langsung dijemput pihak keamanan yang menggunakan seragam tertutup dan kemudian mengirimkannya ke rumah sakit.

Menurut Han, dirinya tidak pernah sama sekali ke pasar Huanan dan jarang melewati distrik Hankou. ”Selain jaraknya cukup jauh, saya juga tidak punya kepentingan ke wilayah tersebut,” ujarnya.

Coco Han cukup kaget. Di rumah sakit, ternyata banyak pasien yang punya keluhan dan sakit yang sama dengan dirinya. ”Saya sempat diantar ke sejumlah rumah sakit. Dan ternyata pasien membludak,” ujarnya.

Jumlah pun kembali meningkat. Sejumlah perawat berkeluh kesah melalui pesan berantai yang tersebar di masyarakat. ”Rumah sakit sangat sibuk. Kami tidak bisa pulang” kata seorang perawat.

Pada 23 Januari 2020, kota dengan 11 juta penduduk tersebut pun ditutup. Daerah-daerah sekitarnya juga mengikuti, membuat lebih dari 50 juta penduduk berada di bawah aturan karantina rumah secara de facto.

Kelebihan pasien dan kurangnya tenaga medis serta fasilitas lainnya membuat rumah sakit mulai menolak pasien-pasien baru.

Pada 19 Februari 2020, jumlah kematian akibat virus ini telah melewati angka 2.000 orang. ”Virusnya sangat cepat. Pada awalnya, semua terasa di luar kendali. Kami tidak tahu apa yang terjadi,” kata seorang dokter yang merawat pasien virus corona di rumah sakit pusat Wuhan.

Sekarang, saat Cina merayakan apa yang diklaim sebagai kemenangan atas penyakit itu, jumlah infeksi dan kematian meningkat di seluruh dunia. Pejabat dari Australia, AS dan Inggris menuduh Beijing menutup-nutupi informasi, yang membuat wabah lokal berubah menjadi pandemi global.

Beijing mengklaim tindakan lockdown yang ketat telah memberi waktu kepada dunia untuk bertindak, namun, yang oleh otoritas kesehatan di beberapa negara kesempatan tersebut disia-siakan begitu saja.

Tetapi wawancara dengan pasien awal, pekerja medis dan penduduk, serta bocoran dokumen internal, laporan dari whistleblower dan studi penelitian, menunjukkan keterlambatan dalam beberapa minggu pertama epidemi, merupakan kekeliruan pemerintah yang akhirnya memiliki konsekuensi jangka panjang.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here