MATA INDONESIA, JAKARTA – Nonton streaming saat ini memang lebih asyik dibandingkan menonton tayangan televisi. Dengan pola video berlangganan (video-on-demand/VoD), penonton akan lebih mudah memilih apa yang ditontonnya dibandingkan jika dia harus mengganti channel televisi lewat remote TV

Saat ini terdapat dua jenis streaming, yakni streaming audio dan streaming video. Streaming audio adalah proses penyampaian data berupa audio (suara) dari server ke pengguna melalui jaringan internet tanpa perlu menyimpan data tersebut. Begitu juga dengan streaming video, yaitu aktivitas transfer data berupa video (gambar bergerak dan suara) dari server ke pengguna dengan menggunakan saluran internet tanpa perlu ada penyimpanan data.

Nah, aktivitas streaming berupa lifecasting dilakukan pertama kali oleh Steve Mann pada tahun 1994. Saat itu dia merekam seluruh kegiatannya selama tujuh hari tanpa henti dengan berbekal kamera yang dilekatkan di tubuhnya.

Setelah proses perekaman selama tujuh hari selesai, Steve Mann menyusun rekaman tersebut secara urut dan kemudian menyiarkan di situs web miliknya. Dari hasil penanyangan aktivitas pribadinya membuat situs web Steve Mann banyak dikunjungi dan menjadi terkenal. Hingga pada tahun 1998 Steve Mann akhirnya membuat sebuah komunitas lifecaster yang memiliki ribuan pengikut.

Seiring berjalannya waktu, jejak dari Steve Mann tersebut semakin banyak ditiru oleh orang lain hingga akhirnya pada tahun 2003 tercetuslah konsep web 2.0 oleh O’Reilly Media, salah satu perusahaan media di Amerika Serikat. Konsep web inilah yang pada akhirnya membuat beragam layanan internet bermunculan, diantaranya ialah televisi internet.

Layanan video on demand pertama kali diperkenalkan oleh Netflix. Didirikan pada tahun 1997 oleh Reed Hastings bersama dengan Marc Randolph. 10 tahun kemudian tepatnya tahun 2007, mereka memberikan layanan streaming film dan serial TV ke komputer. Saat mendirikan Netflix, Hastings berusaha untuk menggabungkan 2 teknologi yang ketika itu masih baru, yaitu DVD dan keberadaan situs pemesanan DVD.

Di tahun 2000, Netflix tidak lebih dari sekedar layanan persewaan film. Sistem yang digunakan oleh Netflix adalah dengan meminta biaya berlangganan setiap bulannya, dan para pelanggan bebas untuk menyewa DVD tanpa batasan jumlah dan waktu.

Ketika itu, Netflix hanya memiliki 300.000 pelanggan, dan masih menggantungkan diri pada layanan pos untuk mengirimkan DVD yang hendak disewa. Hastings lalu terbang ke Dallas untuk menemui pihak Blockbuster, yang ketika itu, merupakan raksasa persewaan film dengan 7.700 toko di seluruh dunia. Dia ingin mengajak Blockbuster untuk bekerja sama dengan Netflix.

Blockbuster baru menyadari bahaya media digital di tahun 2004. Mereka lalu membuat layanan berlangganan online milik mereka sendiri. Sayangnya, mereka sudah terlambat. “Jika mereka meluncurkan layanan ini dua tahun sebelumnya, kami pasti akan kalah,” kata Hastings.

Di tahun 2005, Netflix telah memiliki 4,2 juta pelanggan, dan angka ini terus bertambah. Saat itu, studio di Hollywood mulai menawarkan film mereka untuk disewakan oleh Netflix. Keberadaan Netflix berhasil menjadi sumber penghasilan lain bagi mereka. Selain itu, dengan adanya Netflix, mereka tidak lagi bergantung sepenuhnya pada Blockbuster.

Salah satu kunci kesuksesan Hastings adalah karena dia sadar bahwa ada ketidakpuasan pada pelanggan saat menonton siaran TV tradisional. Ketidakpuasan tersebut adalah keberadaan iklan. Kini, di era tahun 2020 saat pandemi Covid 19, beberapa aplikasi layanan streaming bermunculan di Indonesia seperti Viu, Video.com, Disney+hotstar, Iflix, Catchplay dan lainnya.

Reporter: Haerunisa

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here