Impian Thomas Americo Junior Ingin Jadi Petinju Berprestasi Seperti Sang Ayah
Thomas Americo Junior (berbaju biru) dalam Kejuaraan nasional F-FDTL Cup (istimewa)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Adagium ‘Buah jatuh tak jauh dari pohon’ mungkin layak disematkan kepada Almarhum Thomas Americo dan putera bungsunya, Thomas Americo Junior.

Anak muda kelahiran Dili, 12 Maret 1996 ini benar-benar mewarisi bakat tinju dari sang ayah, legenda tinju dua bangsa, Timor-Leste dan Indonesia.

Pemuda yang karib disapa Rico ini mulai berlatih tinju semenjak berusia 15 tahun. Rico mendapatkan dasar teknik bertinju yang mumpuni dari sang pelatih awalnya Gil Roberto Santos, mantan raja kelas ringan junior nasional di jaman Indonesia.

Meski tak sempat menyaksikan dan mencicipi kejayaan sang ayah secara langsung, namun ia tahu prestasi luar biasa ayahnya dari informasi media dan cerita kakak-kakaknya. Maklum ayahnya wafat, saat ia baru berumur 3 tahun.

“Mama dan kakak-kakak saya selalu memberikan motivasi kepada saya melalui cerita-cerita tentang keberhasilan ayah di masa jayanya,” katanya.

Minatnya kepada olahraga tinju membuatnya untuk meneruskan jejak sang ayah. Ia selalu rutin berlatih di sasana Thomas Americo Boxing Camp di kota Dili. Sasana ini didirikan oleh sang ibu Fransisca Pereira Galhos bersama saudara-saudaranya.

Tempat latihan itu dimanajeri oleh kakaknya sendiri Joel Maria Pereira beserta Elvis Fernandes de Oliveira. Sasana yang memakai logo sang ayah ini dipromotori oleh mantan Menteri Muda Pekerjaan Umum, Domingos Caero dan diresmikan oleh mantan Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta pada bulan Mei 2011.

Bakat Rico pun terlihat saat mengikuti Kejuaraan nasional F-FDTL Cup pada tanggal 13 sampai 17 Agustus 2013. Ia mampu menyuguhkan permainan cantik dan menawan di atas ring. Rico pun akhirnya berhasil meraih medali emas dan dianugerahi sebagai petinju harapan pada turnamen ini.

Impian Thomas Americo Junior Ingin Jadi Petinju Berprestasi Seperti Sang Ayah

Meski belum punya pengalaman banyak di atas ring, Rico bermimpi untuk menunjukkan prestasi maksimal, bila diberi kesempatan. “Saya selalu dianjurkan oleh mama dan kakak-kakak saya untuk benar-benar fit, baik fisik maupun mental bila ingin bertanding,” ujar Rico.

Ketertarikan Rico atas tinju karena ia menilai olahraga tersebut adalah perpaduan antara beladiri dan seni. Ia mengatakan, butuh keberanian, kesabaran, kecerdasan, dan kemampuan untuk merobohkan lawan di atas ring.

Selain mengangumi sosok almarhum ayahya, Rico juga ingin mengikuti jejak sukses dari Klitschko bersaudara, Many Pacquiao hingga Oscar de la Hoya. Menurutnya, tinju tak semata-mata sebagai olahraga yang keras dan dapat membawa dampak negatif bagi para atlet yang menggelutinya. Buktinya banyak petinju yang akhirnya berprestasi di bidang lain juga.

“Saya kira ini tergantung pada pribadi masing-masing. Saya ingin seperti mereka, sukses dalam menjalani hobby, sekaligus sukses di pendidikan yang mereka geluti,” kata Rico yang bercita cita menjadi seorang insinyur ini.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here