hendro subroto2
Hendro Subroto (tengah) bersama anggota TNI. (hendrosubroto.blogspot.com)

MINEWS.ID, JAKARTA – Mungkin tidak ada wartawan Indonesia yang pantas menyandang “the real” wartawan perang kecuali almarhum Hendro Subroto. Ya, sejak menjadi wartawan TVRI pada 1964 dia sudah akrab dengan desingan peluru saat Indonesia masih melancarkan konfrontasi dengan Malaysia, hingga 28 tahun kemudian.

Saat itu TVRI adalah satu-satunya stasiun televisi Indonesia yang meliput konflik yang berakhir 1966 tersebut. Begitu juga dengan penumpasan pemberontakan DI/TII, termasuk pengangkatan jenazah korban Gerakan 30 September di Lubang Buaya.

Juru kamera TVRI tersebut adalah satu-satunya jurnalis yang mengabadikan dari dekat pengangkatan jenazah perwira TNI AD dari dalam sumur menggunakan kamera 8 milimeter.

Kisah menarik lainnya adalah saat dia mengabadikan proses integrasi Timor-Timur ke Indonesia. Pada 1974 dialah satu-satunya wartawan Indonesia yang diajak menyusup ke Timor Leste.

Namun, peristiwa 22 November 1975, di Fatularan, Timtim, tidak pernah dilupakannya. Bersama 100 -an marinir yang dia ikuti mendapat serangan dari Fretilin sangat akurat sehingga menewaskan 22 anggota mereka.

Hendro ikut tertembak dada kanan, pipi serta ibu jari tangan kanannya remuk dihantam peluru. Beruntung dia masih dilindungi oleh “Sang Pemberi Kehidupan.”

Ada keyakinan Hendro dalam setiap menginjakkan kaki di wilayah peperangan. “Sang Pemberi Kehidupan pasti melindungi.”

Banyak hal yang dia rekam dengan kameranya saat proses integrasi itu, namun lelaki kelahiran Surakarta 18 Desember 1938 tersebut pasrah TVRI hanya menayangkan beberapa saja demi alasan citra pemerintah.

Tetapi kondisi tersebut tidak menyurutkan Hendro pergi ke medan perang. Bukan hanya perang yang melibatkan Indonesia, dia juga sempat mencicipi ganasnya perang di luar negeri. Sebut saja Perang Kamboja hingga Perang Teluk.

Di Kamboja tahun 1970, Hendro bersama wartawan Berita Yudha Hery Suharwo jadi korban serbuan tentara Vietkong hingga terdesak ke Sungai Mekong. Yang tersisa tinggal kepasrahan sambil mempersiapkan diri dengan kamera berisi film baru untuk dijepretkan pada saat-saat terakhir.

Beruntung pesawat terbang Vietnam Selatan menghujani bom napalm. Rasa lega Hendro berbaur dengan kengerian luar biasa. Api dan asap menggumpal ke udara disertai dentuman memekakkan telinga, dalam jarak hanya 500 meter. Bom yang membakar itu membuat tikus di dalam tanah bisa mati dan senjata api dalam jarak tertentu meledak sendiri karena kepanasan.

Selain ancaman kematian, penyelesaian tugas termasuk pengiriman berita juga dinamika yang penuh kendala. Di Kamboja tahun 1970, misalnya, setiap kali dia harus pergi ratusan kilometer dari medan perang ke basis peliputannya di Kampong Cham (30 km dari Pnom Penh), hanya untuk mencuci film.

Pengalaman lain yang tidak juga terlupakan adalah diizinkan meliput Perang Teluk 1991 antara Pasukan Sekutu AS dengan Irak. Bisa disebut itu sebuah prestasi bagi wartawan Indonesia karena Pemerintah AS memberlakukan seleksi ketat terhadap para peliput.

Dari 1.300 pemohon, hanya 100 wartawan yang diizinkan meliput perang itu. Hendro dan rekannya Bambang Setyo Purnomo termasuk di dalamnya, sisanya wartawan AS semua.

Itulah keberuntungan sekaligus hasil kecerdikan. Pasukan yang dia ikuti masuk dari Arab Saudi ke Kuwait lewat Irak untuk bisa ke pertempuran di bagian barat.

Dia sadar sebagai warga negara Indonesia tidak akan diizinkan masuk karena negara kita tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Irak. Maka Hendro memutuskan masuk dari pertempuran di bagian timur yang langsung bisa masuk dari Kuwait.

Begitu cintanya mengabadikan peperangan membuat dia menerima tawaran televisi Australia sebagai kontributor saat perang menjelang referendum Timor-Timur 1999. Sebab dia berprinsip jurnalis tidak mengenal kata pensiun.

Hendro dikenal memiliki kondisi tubuh prima karena rajin jogging 10 kilometer tanpa alas kaki lima kali dalam seminggu.

Namun, pada 14 Oktober 2019 dia menghembuskan nafas terakhirnya didahului sesak nafas. Satu-satunya kecurigaan medis adalah karena kondisi jantung Hendro tinggal 20 persen saja.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here