Gunung Merapi muntahkan guguran lava
Gunung Merapi muntahkan guguran lava

MATA INDONESIA, JAKARTA – Siapa yang tidak tahu Gunung Merapi? Gunung dengan ketinggian 2.930 Meter di atas permukaan laut (mdpl)  di tengah Pulau Jawa termasuk paling aktif di Indonesia dan terkenal dengan sejarah erupsinya.

Entah mengapa gunung penuh mistis itu selalu identik dengan Yogyakarta, padahal hanya bagian sisi selatannya yang berada di kawasan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Sisa bagian lainnya justru berada di wilayah Jawa Tengah seperti Kabupaten Magelang di sisi barat, Boyolali untuk sisi utara dan timur serta Kabupaten Klaten di sisi tenggaranya.

Gunung itu sangat berbahaya, karena menurut catatan kegunungapian, Merapi bisa erupsi setiap dua sampai lima tahun sekali.

Dari sejarahnya, Merapi sebenarnya sudah gemar erupsi sejak abad ke-15. Begini catatannya;

Secara etimologi nama “Merapi” merupakan penggabungan dua kata “meru” yang berarti gunung dan “api” berarti api, sehingga Merapi sudah berarti gunung api.

Dari sejarah pembentukannya, Merapi tergolong gunung termuda di antara rangkaian gunung di selatan Jawa seperti Gunung Ungaran dan Gunung Merbabu.

Gunung ini terbentuk karena aktivitas di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke bawah Lempeng Eurasia menyebabkan munculnya aktivitas vulkanik di sepanjang bagian tengah Pulau Jawa.

Pada 1548 saja gunung itu sudah 68 kali erupsi. Hal itu membuat Merapi menjadi satu dari 16 gunung api di dunia yang masuk Proyek Gunung Api Dekade (Decade Volcanoes).

Namun sejarah erupsi Gunung Merapi diriwayatkan dimulai tahun 1006. Konon, letusan tahun itu disebut–sebut mengubah sejarah peradaban Jawa, bahkan menjadi yang terdahsyat dan menyimpan banyak perdebatan.

Berbicara Merapi, proses pembentukannya telah dipelajari dan dipublikasi sejak tahun 1989 melalui sejarah geologi. Pascale-Claire Berthommier membagi perkembangan Merapi dalam empat tahap, diantaranya :
• Pra-Merapi
Tahap pertama adalah Pra- Merapi (700.000 sampai 400.000 tahun yang lalu), pada periode itu menyisakan jejak Gunung Bibi (2.025 meter) yang bagiannya masih dapat dilihat di sisi timur puncak Merapi. Gunung Bibi memiliki lava yang bersifat basaltic andesit.
• Merapi Tua
Tahap kedua adalah tahap Merapi Tua. Ketika Merapi mulai terbentuk namun belum berbentuk kerucut (60.000 hingga 8000 tahun lalu). Sisa–sisa tahap itu yang masih bisa kita saksikan sekarang adalah Bukit Turgo dan Bukit Plawangan di bagian selatan yang terbentuk dari lava basaltic.
• Merapi Muda
Selanjutnya adalah Merapi Pertengahan (8000-2000 tahun lalu) yang ditandai terbentuknya puncak–puncak tinggi, seperti Bukit Gajahmungkur dan Batulawang yang tersusun dari lava andesit. Proses pembentukan pada masa ini ditandai dengan aliran lava, breksiasi lava dan awan panas.

Aktivitas Merapi telah menghasilkan letusan bersifat efusif (lelehan) dan eksplosif. Diperkirakan setiap terjadi letusan eksplosif mengarahkan runtuhan material ke barat yang meninggalkan morfologi tapal kuda dengan panjang 7 km, lebar 1-2 km dengan beberapa bukit di lereng barat.

Sementara, Kawah Pasarbubar (atau Pasarbubrah) diperkirakan terbentuk relatif baru. Puncak Merapi yang sekarang ialah Puncak Anyar, yang baru mulai terbentuk sekitar 2000 tahun lalu. Dalam perkembangannya, diketahui terjadi beberapa kali letusan eksplosif dengan VEI 4 berdasarkan pengamatan lapisan tefra.

• Merapi Baru
Periode keempat aktivitas Merapi yang kita lihat sekarang disebut periode Merapi Baru (terbentuk 2000 tahun lalu sampai sekarang). Kerucut di puncaknya kini sering disebut sebagai Gunung Anyar terutama di bekas kawah Pasar Bubrah.

Karakteristik letusan sejak 1953 umumnya berupa desakan lava ke puncak kawah disertai keruntuhan kubah lava secara periodik disertai pembentukan awan panas (nuée ardente) yang dapat meluncur di lereng gunung atau vertical ke atas.

Pakar geologi pada 2006 mendeteksi ruang raksasa di bawah Merapi berisi material seperti lumpur yang ‘secara signifikan menghambat gelombang getaran bumi.” Para ilmuwan memperkirakan material itu adalah magma.

Kantung magma tersebut merupakan bagian dari formasi yang terbentuk akibat menghujamnya Lempeng Indo–Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

Nah, itulah beberapa tahapan terbentuknya Gunung Merapi menurut sejarah etimologi. Selain dampak kerusakan yang merubah peradaban Jawa. Letusan Gunung Merapi sebenarnya selalu mengubah area sekitarnya, banyak dampak yang terjadi akibat letusan ini.

Bahkan salah satu candi yang ada di Yogyakarta sempat menghilang karena terpendam lahar dingin Merapi. Sampai saat ini Gunung Merapi masih terus aktif dan bisa terjadi erupsi kapan saja. (Reygita Laura)

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here