Pramugari Pesawat Terbang
Pramugari Pesawat Terbang

MATA INDONESIA, JAKARTA – Inilah kisah pramugari pesawat terbang. Tak hanya berdampak pada industri di jalur darat, dampak pandemi Covid-19 juga dirasakan oleh industri penerbangan. Adanya keputusan pemutusan hubungan kerja (PHK) membuat sejumlah pramugari banting setir menjadi penjual tahu, sate hingga kue brownies.

Sejak kasus pertama Covid-19 ditemukan pada 2 Maret 2020, industri penerbangan komersial mengalami penurunan jumlah penumpang hingga rata-rata 50 persen dari tahun sebelumnya. Sebab itu, pihak maskapai memutuskan untuk PHK sejumlah karyawan.

Pada Jumat 27 Maret 2020, lebih dari 20 pramugari dan pramugara dikumpulkan di sebuah ruang rapat di salah satu ruang Garuda Operation Center (GOC), Banten. Semua berpakaian formal bebas, sebagian menggunakan stelan berwarna hitam.

Sebelum rapat dimulai, ruangan sempat diisi tawa dan canda saat sejumlah orang di antara mereka merekam video dari ponsel untuk diunggah di media sosial.

Suasana ruangan mendadak hening ketika manajer tiba. Sang manajer mengumumkan, para pelayan penumpang pesawat di ruangan tersebut diputus kontrak. Alasannya jumlah penerbangan menurun karena pandemi global.

“Ketika bapak itu keluar, kita nggak ada yang bisa ngomong apa-apa. Setelah bapak itu keluar, kita baru nangis, shock,” kata Martha Putri mengingat kejadian setahun lalu. Sesuai kontrak kerja, ia semestinya bisa diangkat menjadi karyawan tetap pada bulan berikutnya. Demikian seperti dilansir BBC, Selasa 2 Maret 2021.

Beberapa hari sebelum pengumuman pemutusan kontrak kerja, Martha masih rutin mengirim e-mail kepada atasannya terkait dengan penilaian kinerjanya sebagai ‘nilai tambah untuk diangkat pegawai di bulan April’.

“Saya kirim semua penilaian saya, nggak ada artinya. Karena chief saya sudah tahu kita semua nggak mungkin ada di Garuda lagi. Jadi buat apa kirim itu lagi?” kata Martha.

Momen terakhir berstatus sebagai pramugari Garuda Indonesia juga sempat diabadikan Josephine Wulandari, teman satu angkatan Martha Putri.

Teman Martha yang kerap di sapa Jojo itu mengunggah momen tersebut ke Insta Story-nya. Ia menunjukkan foto kru satu angkatan yang tersenyum dan diberi tulisan, “smile fake as usual“.

“Cuma dikasih surat yang menyatakan kalau kontrak kita tidak diperpanjang. Dari situ kita heartbroken banget,” kata Jojo.

Jojo juga bercerita begitu sulit untuk mencapai karier sebagai pramugari yang merupakan profesi impiannya sejak kecil. Ia sudah dua kali melamar tapi gagal, sampai akhirnya ia diterima saat lamaran ketiga pada akhir 2017 lalu. Namun, sayang jenjang kariernya harus kandas karena pandemi.

Selama dua tahun bekerja, Jojo bercerita serunya menjadi pramugari, “Banyak, tapi lebih ketemu orang, belajar banyak hal, ketemu teman-teman baru, bisa ke destinasi baru yang aku belum pernah jalanin.”

Setelah mendapat pengumuman dari perusahaannya itu, Jojo sempat jatuh sakit karena terlalu banyak pikiran. Selama berbulan-bulan yang ia lakukan adalah “Bengong, nangis, makan, tidur.”

Sesekali ia juga memasukkan lamaran kerja ke sejumlah perusahaan, meski belum ada jawaban yang diharapkan. Sampai akhirnya, “Sudah deh terserah dari mana saja, asal selama itu halal, apa pun saya kerjain. Walaupun cuma antar jemput, jadi sopir nggak apa-apa,” katanya.

Selama tafakur di masa pandemi, ia pun belajar tentang arti persahabatan. “Kelihatan mana orang yang mau temanan di saat kamu masih ada uang, mana teman-teman yang benar-benar sama kamu di saat kamu nggak punya apa-apa.”

Tiga bulan pertama setelah putus kontrak juga menjadi masa-masa sulit Martha Putri. “Sempat nggak bisa move on. Sempat seperti masih sedih-sedih, masih nggak menyangka, masih berharap dipanggil lagi sama Garuda, itu kurang lebih tiga bulan,” katanya.

Hingga akhirnya salah seorang teman Martha mengajaknya untuk membuka usaha tahu crispy di kawasan Cibinong, Jawa Barat.

“Finalnya itu, teman bulan Juli minta bantuan untuk buka usaha kecil-kecilan. Ya udah deh, ikut. Itu juga awalnya nggak semangat. Cuma dijalani. Lama-lama bisa terealisasi.”

Beberapa bulan kemudian, Martha juga diajak adiknya untuk kembali membuka usaha Sate Taichan. Usaha yang pernah dilakoni Martha dan adiknya sebelum ia bekerja sebagai pramugari.

“Ya sudah, aku support semua. Karena sate aku sudah lumayan dikenal orang di daerah Cibinong. Sosmednya dihidupin lagi. Satenya juga akhirnya aku bikin lagi. Sambelnya semua segala macam. Ya kita ibaratnya bangun lagi dari awal,” katanya. Selain itu, Martha juga membuka usaha jualan pakaian sejak April 2020.

Melihat teman seperjuangannya yang mulai bangkit kembali, Jojo juga menemukan titik balik untuk membuka usaha yang pernah ia tekuni semasa SMA, yaitu membuat kue brownies.

“Itu juga awalnya setengah hati, kayak cuma iseng-iseng jualin. Ada nggak ya yang beli? Ternyata, lumayan nih. Banyak nih peminatnya,” katanya.

Kue buatan Jojo juga sampai dipesan untuk acara kantor, termasuk memasok ke sejumlah toko kopi. Akan tetapi, karena Jojo mulai bekerja di sebuah klinik kesehatan mulai Januari 2021, usahanya pun sebagian dilimpahkan kepada keluarganya.

“Karena aku sudah mulai dapat kerjaan baru, jadi terbagi dua gitu. Jadi aku mesti minta bantuan kakakku dan mamaku, untuk bikin brownies itu,” katanya.

Baik Jojo dan Martha, keduanya mengakui penghasilan yang ia dapatkan kini jauh berbeda saat masih bekerja sebagai pramugari. Mereka mengatakan, gaji pramugari rata-rata di atas Rp15 juta/bulan. Sementara pekerjaan yang ditekuni saat ini tak sampai setengahnya.

Di sisi lain, awan hitam maskapai penerbangan juga tak kunjung hilang. Entah sampai kapan Garuda Indonesia tetap memutus kontrak sejumlah karyawannya.

Garuda Indonesia mengakui telah memutus hubungan kerja sekitar 700 karyawannya, dari pramugari sampai pilot.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, memastikan memenuhi seluruh hak karyawan yang terdampak sesuai peraturan yang berlaku.

“Garuda Indonesia memastikan akan memenuhi seluruh hak karyawan yang terdampak sesuai dengan peraturan yang berlaku, termasuk pembayaran di awal atas kewajiban Perusahaan terhadap sisa masa kontrak karyawan,” kata Irfan tahun lalu.

Menurutnya, ini keputusan sulit yang terpaksa untuk diambil setelah melakukan upaya penyelamatan keberlangsungan perusahaan di tengah pandemi Covid-19.

“Ketika maskapai lain mulai mengimplementasikan kebijakan pengurangan karyawan, kami terus berupaya mengoptimalkan langkah strategis guna memastikan perbaikan kinerja Perusahaan demi kepentingan karyawan dan masa depan bisnis Garuda Indonesia,” katanya.

“Namun, demikian pada titik ini, keputusan berat tersebut terpaksa harus kami tempuh ditengah situasi yang masih penuh dengan ketidakpastian ini.”

Menurut data yang dilaporkan flightradar24, jumlah penerbangan pesawat komersial tahun 2019 turun rata-rata 50 persen pada 2020 akibat dampak Covid-19.

Menurut Organisasi Maskapai Sipil Internasional (ICAO) nilai kerugian maskapai penerbangan di Asia Pasific mencapai USD 120 miliar selama masa pandemi.

ICAO juga mencatat terjadi terjadi pengurangan penumpang penerbangan internasional mencapai 66 persen, dan penerbangan domestik hingga 38 persen.

Sekretaris Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional (INACA), Bayu Sutanto juga tak bisa memprediksi pemulihan industri penerbangan. “Kalau industri, ya kita nggak bisa ngapa-ngapain. Menunggu vaksinasi dan level kesehatannya saja,” katanya.

Masa pemulihan industri penerbangan, kata Bayu sangat bergantung dari penanganan Covid-19. “Kalau kesehatannya nggak jelas, ya nggak bisa diprediksi dong,” katanya.

Sementara itu, pengamat penerbangan, Ruth Hana Simatupang, justru menilai percepatan pemulihan industri penerbangan perlu dikuatkan mulai dari penerbangan domestik. Salah satunya adalah melalui promosi wisata dengan ketentuan protokol kesehatan yang ketat.

“Kita harus meyakinkan pengguna bahwa prokes dari maskapai, prokes dari bandara prokes dari tempat tujuan, itu sudah bisa dipastikan dilaksanakan,” katanya.

Bagaimana pun, Jojo dan Martha termasuk pekerja lainnya yang menjadi korban PHK karena pandemi Covid-19. Dari situasi ini, Jojo mendapat pelajaran penting.

“Jangan pernah menyerah. Itu harga mati. Walau pun aku nggak lanjut kerja di tempat yang aku cita-citakan, tapi aku selalu ambil hikmahnya. Kalau aku nggak kena kayak gitu, mungkin brownies aku sudah nggak jalan,” katanya.

Martha pun ikut menimpali. “Bersyukurnya karena pandemi, aku jadi dekat dengan keluarga. Aku ada di rumah. Adik-adikku juga ada di rumah, dan usaha juga bareng sama adikku. Jadi kita bareng-bareng,” kata Martha sambil mengutarakan harapan ketika ada kesempatan menjadi pramugari lagi, ia akan memilih pekerjaan itu.

Reporter: Indah Utami

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here