Jalanan di Ambon sekitar tahun 1900 (Foto: Javapost.nl)
Jalanan di Ambon sekitar tahun 1900 (Foto: Javapost.nl)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Raja Belanda, Willem-Alexander melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada 9-13 Maret 2020. Kedua ‘ningrat’ini puna diterima oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 10 Maret 2020.

Kunjungan Raja Willem-Alexander dan Ratu Máxima bisa dikatakan merupakan agenda kenegaraan yang positif. Mereka melakukan kunjungan kenegaraan ke negara bekas jajahannya yang bakal merayakan 75 tahun kemerdekaan. Namun sangat disayangkan bahwa mereka tidak mengunjungi Maluku.

Mengutip Javapost.nl, Rabu 25 Februari 2020, Juan Seleky, Ketua Yayasan Tetua Maluku Nasional (LSMO) mengatakan bahwa Raja Belanda seharusnya juga mengunjungi Maluku. Karena persis di provinsi Timur Indonesia itulah sejarah penjajahan Belanda di Indonesia, bekas Hindia Belanda dimulai empat ratus tahun yang lalu.

Juan pun menyayangkan bahwa sejarah dan ikatan lama antara Belanda dan Maluku jarang pernah dibicarakan, bahkan di pelajaran anak-anak sekolah saat ini. Padahal, Dutch East India Company (VOC) memulai perdagangan rempah-rempah di Maluku. Pertanyaanya, dari mana Belanda menghasilkan banyak uang selama Zaman Keemasan.

Contoh saja, pada 1620, Compagnie mengangkat Pieter Both sebagai gubernur jenderal pertama di Hindia Belanda. Sampai saat itu, Maluku sudah cukup makmur.

Ketika Belanda menemukan India pada abad ketujuh belas, mereka memilih Ambon sebagai tempat bermukim, karena Ambon dan pulau-pulau Maluku lainnya memiliki sesuatu yang sangat istimewa, salah satunya pohon cengkeh.

Belanda membeli cengkeh, kuncup bunga yang masih tertutup dari pohon yang dikeringkan, untuk sedikit uang dari Maluku dan membawanya ke Eropa melalui laut. Negara penjajah ini pun menghasilkan banyak uang dari produk Maluku.

Bahkan ketika itu, mereka melarang orang Maluku menjual cengkeh mereka yang berharga kepada orang lain. Hal yang sama berlaku untuk pala, kulit tanah dari pala, inti biji dari buah pala.

Politik dagang itu membuat Belanda bisa membayar Maluku sesedikit yang mereka inginkan. Jika ada orang Maluku secara diam-diam mengirimkan barang-barang mereka kepada orang lain, misalnya kepada orang Jawa, mereka akan dihukum berat. Sama seperti orang Jawa, pada gilirannya, tidak lagi mengirim beras ke Maluku, karena mereka sendiri tidak diberi cengkeh.

Kemudian ketika Belanda membutuhkan pasukan kolonial pada abad ke-19 untuk penjajahan lebih lanjut dari Hindia Belanda, Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) didirikan pada tahun 1814. Banyak orang Maluku wajib mengabdi dalam pasukan ini.

Banyak yang mati selama pendudukan Jepang dan ketika mereka berperang di pihak Belanda selama perjuangan Indonesia untuk kemerdekaan dari Agustus 1945 hingga 1949. Beberapa tentara KNIL Maluku datang ke Belanda dengan keluarga mereka atas perintah setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1950.

Orang-orang Maluku ‘generasi pertama’ ini adalah – walaupun mereka sangat kecewa dengan perlakuan tidak terhormat yang mereka terima dari pemerintah Belanda. kasus – selalu tetap setia pada keluarga kerajaan itu sendiri.

Justru karena kesetiaan dan ikatan lama antara Belanda dan Maluku – diwujudkan oleh komunitas Maluku-Belanda puluhan ribu orang – itu akan secara simbolis bernilai besar jika kunjungan kenegaraan sekarang juga mengunjungi Maluku.

Meski belum ‘jodoh’ datang ke Maluku, tapi ini bisa diperbaiki pada kunjungan kenegaraan berikutnya. Pun Belanda dapat mulai mengembangkan historiografi yang lebih seimbang dari periode kolonial di bekas Hindia Belanda.

Sebuah historiografi di mana tidak hanya perspektif Belanda dibahas, tetapi juga empatik, Maluku, dan perspektif masyarakat dan komunitas lain seperti orang Papua. So, sudah saatnya sekarang ceritakan keseluruhan cerita, bagikan sejarah polifonik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here