MATA INDONESIA, JAKARTA – Prabowo Subianto memilih mengikuti karier pamannya, Soebianto Djojohadikusumo, di dunia militer ketimbang kuliah di University of Colorado dan George Washinton University, Amerika Serikat.

Setelah lulus dari Akademi Milliter, Prabowo mulai menjadi prajurit dan hidup bagai serdadu. Karier Prabowo di militer sangat mentereng hingga banyak sekali penghargaan yang didapat karena usaha dan kemampuannya di militer.

Prabowo masuk Akademi Militer tahun 1970 dan lulus sebagai Letnan II di tahun 1974. Sejak di Akademi Militer, beliau termasuk siswa berprestasi. Berkat prestasinya, pada usia ke-26 beliau sudah bertugas sebagai Komandan Pleton Group 1 Kopassandha dan termasuk bagian dalam Operasi Tim Nanggala di Timor-timur yang dulu merupakan salah satu Provinsi Indonesia. Kompi Prabowo saat itu berhasil menemukan target, Nicolau Lobato Presiden Fretilin pada 1978, Kompi Prabowo juga yang berhasil menangkap Xanana Gusmao, pemberontak dan juga Presiden pertama di Timor Leste.

Kemudian Prabowo dipercaya menjadi Wakil komandan Datasemen 81 (Anti Teror Kopassus) setelah menyelesaikan Pelatihan Special Forces Official Course di Amerika Serikat, kemudian diangkat menjadi Komandan Batalyon Infantri Angkatan Udara pada tahun 1995 dan hanya butuh waktu satu tahun Prabowo sudah menjadi Komandan Jenderal Kopassus (Danjen Kopassus).

Salah satu prestasinya di Kopassus adalah, Prabowo Perwira yang berhasil memekarkan Group Kopassus dari 3 Group menjadi 5 Group. Komando Pasukan Khusus (Kopassus), satuan ini termasuk bagian dari TNI Angkatan Darat yang memiliki kemampuan dan tugas khusus di antaranya Operasi Militer Perang (OMP), Operasi Inteligent Khusus, dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) seperti bantuan kemanusiaan, anti pemberontakan, bantuan kepolisian, SAR khusus, pengamanan VIP, Anti Teror dan banyak lagi.

Nama Kopassus yang juga dikenal sebagai Pasukan Baret Merah ini terbentuk sejak 26 Desember 1986 yang sebelumnya Kopassandha (Komando Pasukan Sandi Yudha) yang didirikan tahun 1971. Nama Kopassus semakin harum di mata dunia pada tahun 1996 ketika Prabowo Subianto memimpin pasukan dalam misi penyelamatan sandera oleh OPM (Operasi Papua Merdeka) yang berencana menukarkan sandera tersebut dengan kemerdekaan Papua.

Operasi ini banyak yang menamakan “Mission Impossible” dikarenakan tingkat kesulitan medan yang luar biasa dan kekerasan prajurit OPM serta hutan yang tmenjadi daerah kekuasaan OPM sejak bertahun tahun.Kketika itu mata dunia mulai tertuju pada Papua dikarenakan ada beberapa peneliti (Tim Lorent’z) dari luar Indonesia yang juga menjadi sandera pada kejadian tersebut. Bbeberapa negara mengirim pasukan elit untuk membantu misi yang dipimpin langsung oleh Letjen Prabowo Subianto.

Selain di dunia militer, Prabowo juga berperan di dunia olahraga, salah satunya adalah beliau merupakan orang pertama mengusulkan prestasi membawa nama Indonesia menjadi penakluk Gunung Everest pertama dari Indonesia dan tercatat di MURI. Misi ini telah direncanakan oleh Prabowo Sejak lama namun baru ada kesempatan pada saat beliau menyandang tanggung jawab sebagai Danjen Kopassus.

Reporter: Farhan Fadhilah 

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here