(Foto: The World of Chinese Magazine)

MATAINDONESIA, JAKARTA – Deng Xiaoping adalah seorang revolusioner sekaligus  politisi pemimpin tertinggi dari Republik Rakyat Cina (RRC). Deng memimpin sejak Desember 1978 sampai November 1989.

Setelah kematian Mao Zedong tahun 1976, Deng secara bertahap naik untuk berkuasa dan memimpin Negeri Tirai Bambu. Ia mendapat reputasi sebagi arsitek Cina melalui serangkaian reformasi ekonomi pasar yang luas.

Deng lahir dari keluarga terpelajar. Orang tuanya adalah pemilik tanah di provinsi Sichuan di Dinasti Qing. Deng belajar dan bekerja di Prancis tahun 1920-an. Ia menjadi pengikut Marxisme-Leninisme.

Deng bergabung dengan Partai Komunis Cina (PKC) pada 1924. Awal 1926, Deng pergi ke Moskow untuk mempelajari doktrin Komunis. Setelah kembali ke Cina tahun 1927, Deng mengubah namanya menjadi Deng Xiaoping.

Pada usia ke-23, ia bergabung dengan organisasi partai di Shanghai dan menjadi komisaris politik untuk Tentara Merah di daerah pedesaan. Akhir 1929, Deng memimpin pemberontakan Tentara Merah di provinsi Guangxi.

Deng dikritik dan diturunkan pangkatnya di dalam partai karena dukungannya kepada Mao, tetapi dipromosikan lagi selama Konferensi Zunyi, akhir 1930-an. Deng kemudian dianggap sebagai veteran revolusioner karena ia berpartisipasi dalam Long March tahun 1934–1935.

Selama Perang Cina – Jepang Kedua (1937–1945), Deng dengan cepat menjadi terkenal di dalam militer PKC. Pada puncak Perang Saudara Cina (1945–1949), Deng menjabat sebagai komisaris politik Tentara Lapangan Dataran Tengah dalam kampanye Huaihai.

Marsekal Liu Bocheng dan Deng memimpin pasukan Komunis menyeberangi Sungai Yangtze dan merebut Nanjing dan Shanghai  pada pertengahan 1949. Pada 1 Oktober 1949, Deng bekerja di Tibet serta di Cina barat daya sebagai ketua partai regional untuk mengkonsolidasikan kendali PKC sampai tahun 1952.

Selanjutnya, Deng memimpin Kampanye Anti-Kanan yang diluncurkan oleh Mao dan menjadi alat penting dalam rekonstruksi ekonomi Cina setelah Lompatan Jauh ke Depan yang membawa bencana (1958–1960).

Deng secara bertahap membawa Cina menjauh dari ekonomi terencana dan ideologi Maois. Ia membuka bagi investasi asing, teknologi, serta memperkenalkan tenaga kerjanya yang besar ke pasar global.

Kebijakan ini dianggap sebagai penyebab berkembangnya Cina menjadi salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia selama beberapa generasi dan meningkatkan standar hidup seperempat umat manusia.

 

Reporter : Ade Amalia Choerunisa

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here