Tragedi May Lai
Tragedi May Lai

MINEWS, JAKARTA – Apa yang Anda lihat jika ada seorang bocah berusia sembilan tahun di era kekinian 2019 saat ini?. Anda pasti langsung menjawab, sebuah gadget ditangannya dan dia asyik menonton youtube atau sekedar bermain game online.

Namun itu tak terjadi pada bocah bernama Do Ba pada 16 Maret 1968. Ia nyaris tewas di tangan prajurit Amerika Serikat yang tengah melakukan pembantaian massal di Desa May Lai, Vietnam.

Mengutip Associated Press, Jumat 29 Maret 2019, dalam ingatan Ba – mungkin seluruh anak seumuran dia di May Lai – mengaku bingung karena pasukan AS tiba-tiba menyerbu tempat tinggalnya. Pasukan itu berasal dari Kompi Charlie, pasukan yang ditugaskan buat menghancurkan basis pertahanan Viet Cong.

Saat penyergapan itu, pasukan AS tidak menemukan satu pun gerilyawan. Cuma ada petani dan keluarganya.

Entah kerasukan setan apa, pasukan ‘tersadis’ saat itu membawa Ba, ibu, dan ketiga saudaranya dikumpulkan kemudian diseret. Mereka dijebloskan ke dalam parit oleh prajurit AS.

Setelah itu, tanpa ampun serdadu AS memberondong tubuh ibu dan ketiga saudara Ba hingga tewas. Ba pun tertembus peluru, tetapi dia bisa bertahan.

Ia mengaku momen horor itu terdengar jeritan, teriakan minta tolong, dan rintihan sesama warga desa yang sekarat. Dia pura-pura mati dan bersembunyi di bawah jasad ibunya, supaya tidak ikut dihabisi. Darah sang ibu membasahi tubuhnya.

Ba kemudian diselamatkan oleh awak helikopter AD AS, yang sengaja turun di tengah desa buat menghentikan pembantaian itu.

“20 puluh tahun lalu saya masih dendam dengan prajurit AS yang membunuh ibu dan saudara lelaki dan perempuan saya. Namun setelah 51 tahun Vietnam dan AS berdamai, orang-orang lambat laun melupakan penderitaan itu buat pembangunan masyarakat yang lebih baik,” kata Ba.

Hari ini, di bekas tempat pembantaian itu, pemerintah Vietnam memperingati 50 tahun kejadian berdarah di My Lai. Sebanyak 504 orang terdiri dari lelaki, perempuan, anak-anak, dan lansia tewas dihabisi Kompi Charlie yang mengamuk.

Calley ‘Otak Pembantaian’

51 tahun berlalu, kejadian itu menjadi salah satu jejak kejahatan perang AS di Vietnam yang membangkitkan kemarahan dunia. Adalah Letnan William Calley yang memimpin pasukan AS untuk membunuh ratusan warga sipil.

Tak hanya itu, mereka juga memperkosa korban sebelum dihabisi. Calley juga sempat memerintahkan anak buahnya melemparkan sejumlah granat ke sebuah liang penuh sesak dengan warga desa.

Setelah membunuh ratusan warga sipil, angkatan bersenjata AS berusaha menutupi kejadian itu selama setahun. Namun, cela itu terungkap juga dan diberitakan luas oleh media massa di sana. Alhasil, publikasi itu memicu polemik.

Kabar soal pembantaian juga mendorong lahirnya gerakan antiperang dan kelompok Hippies di AS. Sejumlah negara menuntut supaya AS menarik pasukan- pasukan mereka dari Vietnam. Banyak juga calon prajurit yang hendak mendaftar wajib militer berpaling.

Pada 17 Maret 1970, Angakatan Darat AS mendakwa 14 perwira yang disebut sengaja menyembunyikan informasi insiden itu. Letnan Calley sebagai pemimpin dinyatakan bersalah dan dipenjara seumur hidup. Namun, Presiden Nixon malah memerintahkan dia dibebaskan dari penjara.