Edward Jenner
Edward Jenner

MATA INDONESIA, JAKARTA– Vaksinasi diartikan sebagai langkah pemberian vaksin, sehingga menghasilkan kekebalan tubuh atau imunitas terhadap serangan suatu penyakit.

Siapakah penemu vaksin pertama di dunia? Edward Jenner adalah seorang dokter dan ilmuwan Inggris yang melopori konsep vaksin pertama di dunia. Hal itu pertama kali dilakukannya ketika wabah cacar melanda Eropa. Jenner disebut sebagai “Bapak Imunologi” dan karyanya dikatakan ‘menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada pekerjaan manusia lain’.

Edward Jenner lahir di Berkeley, Gloucestershire pada 17 Mei 1749. Jenner lahir pada saat pola praktik medis dan pendidikan Inggris mengalami perubahan bertahap. Ia adalah seorang pemuda desa dan putra dari seorang pendeta. Ketika ayahnya meninggal dunia, usia Edward baru lima tahun. Sejak itu, ia dibesarkan oleh seorang kakak laki-laki yang juga seorang pendeta di sebuah desa yang tenang.

Saat usianya 14 tahun, ia magang dengan seorang ahli bedah lokal dan kemudian dilatih di London. Di tahun 1772, Edward kembali ke Berkeley dan menghabiskan sebagian besar sisa kariernya sebagai dokter di kota asalnya. Ia mampu, terampil, dan populer. Selain mempraktikkan kedokteran, ia bergabung dengan dua kelompok medis untuk mempromosikan pengetahuan medis dan sesekali menulis makalah medis. Jenner juga suka memainkan biola di klub musik, menulis syair ringan, dan sebagai seorang naturalis, ia melakukan banyak pengamatan, terutama tentang kebiasaan bersarang burung kukuk dan migrasi burung.

Pada abad 18, hampir setengah juta orang di Eropa dan negara lainnya meninggal dunia akibat cacar (smallpox). Awalnya Jenner mengamati tetangganya Sarah yang memiliki tanda cacar sapi di tangan dan lengannya. Ia bertanya kepada gadis tersebut tentang cacar sapi yang diidapnya. Gadis tersebut menyebutkan tidak akan tertular cacar karena ia pernah mengidap cacar sapi. Dengan penjelasan tersebut Jenner pun yakin cacar sapi dapat melindungi manusia dari cacar alami yang mematikan.

Lalu, tahun 1796 Jenner dan James Phipps melakukan eksperimen dengan menguji teorinya. Ia menguji seseorang yang menderita penyakit ringan cacar sapi tetapi tak pernah tertular cacar, salah satu pembunuh terbesar pada masa itu, terutama di antara anak-anak. Jenner menyuntikan cairan dan lepuhan cacar sapi seorang anak laki-laki pemerah susu di Inggris. Lepuhan muncul di tempat olesan tersebut, dan berhasil menyembuhkan anak tersebut. Inilah yang kemudian menjadi vaksin pertama di dunia. Lalu, Jenner mencoba berulang kali untuk anak-anak yang terkena cacar, nyatanya mereka tak kembali sakit.

Jenner membuat temuan barunya dengan variolasi menggunakan bahan dari cacar sapi. Bahan itulah yang sangat efektif untuk mematikan penularan terhadap cacar manusia. Variolasi berbeda dengan cacar alami yang masih lebih baik dilakukan dibanding tak sama sekali pada saat itu. Penerima variolasi masih mungkin menyebarkan cacarnya kepada orang lain. Selain itu, variolasi menyebabkan penularan penyakit lain, seperti sifilis.

Kemudian, di tahun 1797, Jenner menyerahkan hasil eksperimennya ke Royal Society. Sayangnya, hasil eksperimennya ditolak. Karena idenya terlalu revolusioner dan membutuhkan lebih banyak bukti. Setelah ia bereksperimen pada beberapa anak-anak lainnya, termasuk putranya sendiri yang berusia 11 bulan.  Pada tahun 1798, akhirnya ia mempublikasikan hasil temuannya sendiri dengan buklet kecil dan Jenner menciptakan kata vaksin dari bahasa Latin sapi (vacca) serta cacar sapi (vacinia). Sejak saat itulah, istilah vaksin dikenal sebagai suspensi berisi mikoorganisme yang telah dilemahkan. Fungsinya untuk kekebalan pada tubuh manusia dan mencegah terinfeksinya dari penyakit berbahaya.

Setelah itu, Jenner pergi ke London untuk mencari sukarelawan vaksinasi, tetapi hingga tiga bulan ia belum menemukannya juga. Seorang ahli bedah Henry Cline, yang akhirnya mau jadi sukarelawan dan ia diberikan inokulan oleh Jenner.

Lukisan Edward Jenner sedang menyuntikan vaksin ke anak
Lukisan Edward Jenner sedang menyuntikan vaksin ke anak

Eksperimen ini berhasil. Akhirnya Jenner mendapatkan dukungan dari sejumlah dokter London. Jenner membuat survei untuk mencari bukti resistensi terhadap cacar dari pengidap cacar sapi. Hasilnya semakin menguatkan teorinya untuk vaksinasi cacar. Kini, lukisan Jenner yang sedang melakukan vaksinasi terhadap seorang anak-anak terpampang megah di Welcome Museum, London.

Reporter: Azizah Putri Octavina

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here