MATA INDONESIA, JAKARTA – Ada salah satu paham filsafat yang tidak kalah menarik untuk dijadikan bahan kajian dan bacaan. Paham itu adalah filsafat fenomenalisme. Digagas Immanuel Kant, salah seorang filsuf paling berpengaruh di dunia filsafat modern.

Kant lahir dari keluarga sederhana pada 22 April 1724 di Konigsberg, Jerman. Ayahnya, Johann Georg Kant adalah ahli pembuat baju zirah. Pada tahun 1730-1740, perdagangan di Konigsberg mengalami kemerosotan yang memengaruhi kondisi perekonomian. Akibatnya sepanjang hidupnya, Kant tak pernah bepergian lebih dari sepuluh mil dari kota Konigsberg.

Kant menempuh pendidikan dasar di Saint George’s Hospital School, kemudian melanjutkan ke Collegium Fredericianum, sebuah sekolah yang berpegang pada ajaran Pietist. Keluarga Kant memang penganut agama Pietist, yaitu agama di Jerman yang mendasarkan keyakinannya pada pengalaman religius dan studi kitab suci.

Pada 1740, Kant menempuh pendidikan di Universitas Konigsberg dan mempelajari filsafat, matematika, dan ilmu alam. Untuk meneruskan pendidikannya, dia bekerja sebagai guru privat selama tujuh tahun dan pada masa itu, Kant mempublikasikan beberapa naskah yang berkaitan dengan pertanyaan ilmiah. Pada 1755-1770, Kant bekerja sebagai dosen sambil terus mempublikasikan beberapa naskah ilmiah dengan berbagai macam topik. Gelar profesor didapatkan Kant di Konigsberg pada 1770.

Kant dikenal sebagai akademisi yang menguasai hampir seluruh cabang ilmu yang ada pada saat itu. Bahkan semasa kuliah, selain mempelajari bidang filsafat, dia juga mempelajari fisika Newton dan sistem-sistem metafisis serta logika.

Kehidupan Kant memang penuh dengan keteraturan dan kedisplinan. Setiap rutinitas kesehariannya selalu memiliki waktunya tersendiri. Sejumlah kawan dan mahasiswanya bisa menebak kapan Kant mulai bangun tidur, menulis, makan, ataupun ketika Kant sedang mempelajari materi kuliah. Bahkan, sejumlah tetangga Kant hafal bahwa setiap pukul setengah empat sore, Kant akan meninggalkan rumahnya untuk berjalan-jalan.

Awalnya Kant mempelajari filsafat rasionalisme yang saat itu begitu populer di beberapa universitas di Jerman. Ia begitu terpengaruh dengan profesor Martin Knutzen yang banyak memberinya pengaruh rasionalisme milik filsuf Christian Wolff.

Namun seiring waktu, Kant meninggalkan rasionalisme dan beralih kepada empirisme setelah membaca gagasan-gagasan milik filsuf David Hume. Dari gagasan David Hume inilah, Kant mulai mempertanyakan landasan dasar dari filsafat rasionalisme dan empirisme.

Immanuel Kant menganggap bahwa kesalahan terbesar dari filsafat empirisme dan rasionalisme adalah tidak menyelidiki terlebih dahulu sejauh mana kekuatan sekaligus batasan kemampuan akal manusia dalam memperoleh pengetahuan. Kant mengajukan pertanyaan filosofis yang membuatnya menciptakan filsafat fenomenalisme. Pertanyaan Kant tersebut berbunyi, “Apakah yang dapat kita ketahui? Apakah batas-batas pengetahuan manusia?”

Kant mendamaikan paham rasionalisme yang mengutamakan akal, dan paham empirisme yang mengutamakan panca indra. Bagi Kant, kedua hal ini memiliki peran yang sama dan berkolaborasi ketika mengonstruksi sebuah ilmu pengetahuan.

Sebelum lebih dikenal dengan sebutan paham fenomenalisme, pada awalnya Kant menjuluki paham filsafat yang dianutnya dengan nama filsafat kritisisme. Filsafat kritisisme milik Kant mengawali perjalanannya dalam mencari kebenaran dengan terlebih dahulu menyelidiki batas-batas akal manusia.

Paham fenomenalisme berpandangan bahwa manusia hanya mengetahui segala suatu berdasarkan yang tampak (fenomena). Apa yang seseorang ketahui tergantung kepada─atau ‘dibatasi’ oleh ‘kegiatan kesadaran’ yang dipengaruhi realitas lahiriah dari suatu objek, pengamatan, pengalaman, keadaan mental, dan pencerahan seseorang.

Dalam filosofi praktis ia menyatakan bahwa kebebasan penting bagi setiap manusia.

Mengenai kebebasan, Kant menyatakan bahwa setiap manusia dikatakan bebas apabila melakukan hal sebaliknya. Ia membuat contoh seseorang yang sedang mencuri.

Tindakan seorang pencuri di mata masyarakat memang salah secara moral, tetapi baginya itu bukan kesalahan karena setiap pencuri juga manusia yang memiliki kebebasan untuk melakukan hal sebaliknya.

Menghukum seorang pencuri dapat dikatakan sebagai konsekuensi yang paling tepat agar orang tersebut bisa memperbaiki diri dan tidak mengulangi kesalahan yang sama, tapi bagi Kant menyalahkan perilaku seseorang akibat tindakan yang ia lakukan itu tetap tidak dibenarkan, sebab benar dan salah itu tergantung dari siapa yang mengendalikan orang tersebut

Immanuel Kant meninggal pada usia 80, pada 12 Februari 1804 di Konigsbeg. (Berbagai Sumber/Anita Rahim)

Berita sebelumyaMahfud: Senang Jelekkan Negara Sendiri, Surat Veronica Koman Gak Bakal Ditanggapi Pemerintah
Berita berikutnyaAstaga! Satu Dekade Indonesia Disebut Negara Perokok Anak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here