MATA INDONESIA, JAKARTA – Si hati singa, sebutan bagi Raja Richard dari Inggris memperlihatkan sosok seorang raja yang berani. Namun dibalik keberanian Richard yang memimpin pasukan Salib untuk merebut Yerusalem dari umat Islam, terdengar kabar bahwa raja ini sebenarnya seorang Homoseksual alias gay.

Banyak sumber yang mengatakan musuh abadi Richard yaitu Raja Philip II dari Prancis sebenarnya adalah teman di ranjang. Namun catatan sejarah belum menyebutkan secara rinci soal hubungan terlarang ini.

Sejarawan Roger de Hoveden yang meneliti sosok Richard ini sampai sekarang merupakan sumber yang paling banyak dirujuk.

Dalam laporannya, Roger menyebutkan Richard dan Phillip pernah tidur dalam satu ranjang yang sama saat Richard mengunjungi Phillip di Prancis.

Banyak spekulasi bahwa saat di ranjang, mereka melakukan hubungan seksual dan membahas soal pernyataan cinta mereka.

Namun, belum ada bukti kuat untuk membuktikan hal tersebut. Namun keduanya sejak muda telah bekerja sama untuk menggulingkan Raja Henry II. Tak hanya itu, mereka berdua juga mengumumkan bahwa Prancis dan Inggris adalah sekutu.

Selain berhubungan dengan Raja Philip, Richard diketahui setiap malam ditemani tidur oleh pelayan favoritnya.

John Harvey seorang sejarawan lainnya pada tahun 1948 menulis buku The Plantagenets. Ini merupakan buku pertama yang memperkenalkan pertanyaan tentang seksualitas Richard ke dalam Historiografi. Sejumlah sejarawan sejak itu menerima premis tersebut, sementara yang lain skeptis.

Profesor John Gillingham yang dalam beberapa dekade menulis tentang Richard menyebutkan bahwa kelainan seks Richard masih bersifat spekulatif. Ia pun enggan dan tidak mau memberikan analisa soal kelainan seksual Raja Richard.

Troymedia.com menyebutkan terdapat tiga asumsi utama yang membuat orang-orang percaya bahwa Raja Richard adalah Gay.

Pertama, Richard menolak untuk menikahi Alice, putri Prancis yang telah lama menjadi tunangannya. Namun, mengingat Alice mungkin telah melakukan tugas sebagai simpanan ayahnya, penolakan Richard tampaknya tidak biasa. Kemudian Richard pun menikah dengan Berengaria dari Navarre.

Kedua, ada referensi tentang dia berbagi ranjang dengan Philip dari Prancis. Tapi seperti yang ditunjukkan Gillingham, di abad ke-12 gerakan seperti itu tidak selalu dikaitkan dengan hubungan seksual. Saat itu, berbagi ranjang merupakan pendekatan politik simbolis yang menandakan kepercayaan antar kedua belah pihak.

Ketiga, adanya peringatan tahun 1195 bahwa Richard perlu menjauhkan diri dari “tindakan terlarang” agar tidak mengalami nasib yang sama seperti penduduk Sodom dan Gomora. Namun, perbuatan terlarang dapat mencakup wilayah yang cukup luas, termasuk perzinahan.

Sejumlah sejarawan Inggris memeriksa bukti yang sama dengan Gillingham dan cenderung punya kesimpulan yang sama. Mereka menganggap agak mustahil seorang Raja Richard adalah gay.  Apalagi Richard dikenal sebagai raja yang soleh dan patuh kepada gereja. .

Reporter: Andhika Ilham Ramadhan

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here