Cicreo
Cicero

MATAINDONESIA, JAKARTA – Tak ada yang menandingi kehebatan berpidato Marcus Tullius Cicero.

Cicero sering disebut-sebut orator ulung, negarawan, filsuf, ahli politik, ahli hukum, dan konsul.

Ia hidup sezaman dengan tokoh-tokoh besar Republik Romawi, seperti Julius Caesar, Pompeius Magnus atau Pompey Agung, dan Marcus Crassus.

Mereka ini membentuk triumvirat yang disebut sebagai Triumvirat Pertama. Setelah mereka, muncul Triumvirat Kedua, yakni Octavian, Marc Anthony, dan Marcus Aemilius Lepidus. Kelak, Marc Anthony-lah yang mengakhiri hidup Cicero.

Di zaman penuh intrik itulah Cicero, yang lahir 3 Januari 106 SM  hidup dan berkarya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kekuasaan dari dahulu memang menggiurkan, dan memabukkan sehingga membuat orang yang keranjingan kekuasaan lupa daratan, bisa menghalalkan segala cara demi yang namanya kekuasaan.

Setelah Marcus Crassus meninggal (53 SM), triumvirat itu pun akhirnya pecah: Caesar dan Pompeius terlibat perang saudara. Pompeius tewas. Caesar yang kemudian menjadi diktator pun akhirnya dibunuh anak angkatntya Marcus Junius Brutus dan Gaius Cassius Longinus.

Setelah itu muncul Triumvirat Kedua. Itulah sebabnya Cicero secara jelas memperingatkan, ”Suatu bangsa bisa bertahan menghadapi orang-orang bodoh, bahkan orang-orang ambisius sekalipun. Tetapi, bangsa akan hancur menghadapi pengkhianat dari dalam.”

Orang-orang Romawi menganggapnya sebagai orator hebat, dan gaya tulisannya memiliki pengaruh kuat dalam penulisan di dunia Barat. Secara politis dan filosofis, pendiriannya melawan pemerintahan otokratis dan dukungannya terhadap pemerintahan republik juga berpengaruh.

Cicero merupakan pembaru bahasa Latin terbesar di zamannya. Karya filsafatnya sangat terkenal dan berpengaruh. Tulisan yang tertuang dalam pidatonya berjumlah 57 tulisan. Selain itu, karya-karya filsafat, retorika, dan surat-suratnya tercatat berjumlah kurang lebih 800 buah.

Meski Cicero lahir dari keluarga kaya, dia bukan berasal dari kelas cukup tinggi untuk masuk dalam lingkaran elite politik Romawi.

Dia belajar dan praktik hukum sebagai cara untuk mencapai kekuasaan di Roma. Sejak terpilih di beberapa kantor peradilan, Cicero menjadi anggota senat Romawi.

Tapi, senat Romawi berbeda dengan Yunani. Lembaga ini hanya berfungsi sebagai penasihat.

Roma tidak diperintah secara demokrasi, melainkan lebih dekat ke oligarki, di mana hanya sebagian kecil elite yang memegang kekuasaan politik.

Sebagai konsul, jabatan paling kuat sebagai hasil pemilihan, Cicero berhasil membuka kedok konspirasi oleh Caitline yang bertujuan menggulingkan pemerintah.

Cicero lantas memerintahkan hukuman mati pada Caitline dan komplotannya tanpa pengadilan. Dia menolak bergabung dengan Julius Caesar, Crassus, dan Pompey untuk mengambil alih pemerintahan.

Crassus membalas dengan mensahkan sebuah hukum yang berlaku surut untuk mengasingkan orang-orang di Roma yang melakukan eksekusi tanpa pengadilan.

Akibat hukum ini, Cicero tidak hanya kehilangan jabatan tetapi juga statusnya sebagai warga negara.

Pengasingannya berlangsung kurang dari dua tahun dan dihabiskannya untuk menulis filsafat. Setelah kembali ke Roma, dia menyaksikan keretakan hubungan antara Caesar dan Pompey, setelah kematian Crassus .

Cicero merasa kedua penguasa tidak cocok untuk Roma karena akan menghancurkan oligarki dan menciptakan monarki dengan penguasa kuat.

Setelah Caesar mendapatkan kekuasaan, Cicero menerima pengampunan.  Namun, dia tetap dilarang berpolitik.

Cicero menyaksikan namun tidak ambil bagian dalam pembunuhan Caesar tiga tahun kemudian pada 44 SM.

Sayangnya, peran Cicero menjadi ternoda oleh kepentingan politik. Dia sengaja mengadu Marc Anthony dan Oktavianus untuk mengacaukan kekaisaran.

Cicero merasa Oktavianus lebih cocok menjadi kaisar karena masih muda dan dapat dengan mudah dipengaruhi oleh senat untuk mengembalikan republik.

Ketika Oktavianus berdamai dengan Marc Anthony, Marc Anthony memerintahkan kematian tidak hanya Cicero tetapi juga kerabat dekat laki-lakinya.

Cicero berupaya melarikan diri dari Italia tetapi tidak berhasil dan kemudian terbunuh.

Saudara laki-laki dan keponakannya juga tewas, tapi anaknya berhasil melarikan diri dan kemudian memegang jabatan konsul seperti ayahnya

Banyak tulisan Cicero berhasil diselamatkan, meskipun diyakini terdapat beberapa bagian penting yang hilang. Dia menulis teori tentang bagaimana retorika harus diajarkan dengan banyak memungut dari Aristoteles.

Tulisan-tulisan filosofisnya berfokus pada moralitas sehingga bisa dipahami mengapa dia begitu dicintai oleh para filsuf.

Karya retorik Cicero yang terkenal diantaranya “On Invention,” “On the Orator,” dan “The Orator.”

Sedangkan karya filosofinya antara lain “On The Nature of the Gods,” dan “On Divination.”

Reporter : Ade Amalia Choerunisa

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here