A large very rough bristle tooth brush.

MATA INDONESIA, JAKARTA – Kesadaran orang untuk menjaga kebersihan gigi sudah ada sejak 3.500 tahun yang lalu. Waktu itu bangsa Babilonia dan Mesir sudah terbiasa membersihkan gigi dengan menggunakan ranting kayu yang dipercaya mengandung antiseptik atau pembunuh kuman.

Salah satu ujung dari ranting kayu itu digigit-gigit. Sehingga lama-lama serat kayunya membentuk seperti bulu sikat.

Nah, bulu itulah yang disikatkan ke gigi dan sela-sela gigi. Maka dari itu, ranting kayu yang digunakan untuk sikat gigi itu sering disebut sebagai “tongkat kunyah”.

Pada dasarnya, tongkat kunyah adalah ranting katu dengan ujung berjumpai. Kisah “sikat gigi kuno” ini juga banyak ditemukan dalam literatur Cina dari tahun 1.600 SM. Dalam literatur-literatur tersebut, digambarkan penggunaan tongkat kunyah yang diambil dari pohon aromatik.

Hal ini mungkin ditujukan agar mulut terasa lebih segar dan wangi. Cara membersihkan gigi dengan ranting yang dilakukan masyarakat Babilonia dan Mesir pun berkembang hingga ke Arab.

Sampai sekarang, orang-orang Arab masih menggunakan ranting kayu untuk membersihkan gigi. Mereka menggunakan kayu siwak, yaitu kayu yang rantingnya diambil dari tanaman Salvadora persica. Sebagian orang menyebutnya dengan miswak.

Berbagai literatur Islam juga menjelaskan bahwa siwak digunakan sebelum beribadah, sebelum bertamu, sebelum dan sesudah melakukan perjalanan. Selain itu, menggunakan siwak juga dianjurkan pada hari Jumat, sebelum tidur, dan setelah bangun tidur.

Salvadora persica sendiri dijuluki sebagai pohon sikat gigi. Berbagai tes laboratorium menunjukkan batang dan daun tanaman ini memberikan perlindungan pada gigi.

Baru lah pada abad ke 15, tepatnya pada 1498, orang Tiongkok membuat sikat gigi dari bulu binatang yang dipasang pada stik bambu. Inilah cikal bakal sikat gigi modern. Sikat gigi stik bambu ini kemudian dibawa dan diperkenalkan ke Eropa.

Sebenarnya waktu itu orang Eropa, khususnya orang Yunani, sudah punya cara sendiri untuk membersihkan gigi. Mereka menggosok gigi dengan kain atau spon yang dicelupkan terlebih dahulu ke air garam dicampur jelaga. Kadang-kadang kain atau spon itu dipasangkan pada sebuah stik agar bisa menggosok gigi bagian belakang.

Pada tahun 1780, William Addis dari Inggris membuat sikat gigi dari tulang dan bulu hewan. Penemuannya pun cukup menarik perhatian banyak orang, sehingga Addis berani memproduksi sikat gigi secara masal untuk dijual.

Namun, ia kesulitan mendapatkan tulang sebagai bahannya. Maka ia menggantinya tulang dengan plastik. Itulah awal terciptanya sikat gigi modern.

Kemudian pada tahun 1937, Wallece H. Carohers, di laboratorium Du Pont, menciptakan bulu sikat dari bahan nilon. Du Pont adalah sebuah perusahaan industri kimia.

Perpaduan gagang plastik dengan bulu dari bahan nilon itu digunakan sebagai bahan sikat gigi sampai sekarang. Seiring perkembangan teknologi, sikat gigi sekarang banyak jenisnya.

Dari yang bulunya halus sampai kasar dengan desain pegangan yang bermacam-macam pula. Selain sikat gigi manual, ada juga sikat gigi elektrik.

Reporter: Indah Utami

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here