Christian Dior
Christian Dior. (wwd.com)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Paris dan Prancis dikenal industri fashion ternama dunia dengan merek-merek seperti Luis Vuitton, Hermes, Channel, hingga Saint Laurent.

Padahal, kota dan negeri itu pernah dihantui kehancuran industri tersebut di abad ke-19, namun seorang di antara mereka menjadi penyelamatnya hingga Paris dan Prancis kukuh sebagai kiblat fashion dunia kini.

Pada masa Raja Louis XIV hingga Charles Fredick Worth, industri fashion di negara yang memiliki menara Eiffel itu sempat berkembang pesat, bahkan menempati sebagai kiblat fashion bagi negara-negara lain. Namun, pasca Perang Dunia II distribusi kain tekstil di negara itu sempat mengalami kelangkaan.

Sampai akhirnya seorang desainer bernama Christian Dior membangkitkan dunia fashion yang sempat meredup. Ia memberi nama tren baru untuk kebangkitan itu, “New Look.”

Konsepnya ditandai dengan munculnya tren rok membentuk A line yang memiliki potongan kecil di bagian pinggang dan melebar ke bawah agar memberi kesan feminism dan elegan.

Awal tren itu diciptakan, Dior banyak dikritik masyarakat karena penggunaan kain yang terlalu banyak untuk sebuah busana. Pasalnya saat itu tekstil mengalami kelangkaan.

Namun Dior menanggapi hal tersebut dengan sikap optimis. Sampai akhirnya galeri ciptaan Dior mendapatkan banyak pesanan dan mampu mengembalikan lagi Paris sebagai kota termodis di seluruh dunia.

Di abad ke-20 para desainer andal mulai bermunculan di negara itu. Di Paris sendiri desainer seperti Hubert de Givenchy dan Pierre Balmain berhasil mewarnai serta mempertahankan industri fashion.

Tahun 1951 pengusaha Giovanni Batitta Giorgini membuat sebuah pertunjukkan untuk mempromosikan busana karya desainer Italia. Itu menjadi tantangan bagi dunia fashion bagi Perancis hingga tahun ’60-an.

Pada tahun 1960 ‘Budaya Pemuda’ di London berkembang pesat. Mary Quant, salah satu perancang Inggris, pemimpin gerakan tersebut. Quant juga yang mempopulerkan ‘rok mini’ yang digemari gemerasi muda.

Hasil karya Quant yang cukup berani dan kontras dengan gaya berkelas dan model semi formal yang diproduksi di Paris dengan target pasar orang dewasa. Untungnya, masih ada yang mempertahankan fashion mode di Prancis dari akhir 1960-an hingga dekade berikutnya, yaitu Saint Laurent.

Saint Laurent memiliki peran pering pada masa itu. Ia tidak hanya bertanggungjawab atas peralihnan sejumlah desain pria dan wanita, namun ia juga sebagai pencipta merek haute couture (perancang busana khusus) pertama yang memproduksi koleksi pakaian siap pakai. (Fitria Nur Rahmawati)

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here