MATA INDONESIA, JAKARTA – Lebih dari 45 persen kata dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Prancis. Bahkan, penutur bahasa Inggris mengetahui ribuan kata dalam bahasa Prancis jauh sebelum mereka mulai mempelajari bahasa tersebut.

Semua ini bermula ketika bangsa Norman menaklukkan Inggris pada tahun 1066. Setelah kekuasaan Inggris jatuh, William Sang Penakluk mengklaim takhta sebagai Raja Inggris berikutnya. Invasi yang dipimpin William ini berdampak besar tidak hanya pada Kerajaan Inggris, tetapi juga pada bahasanya.

Penaklukan Norman menandai dimulainya periode panjang interaksi antara bahasa Prancis dan bahasa Inggris.

William beserta pengikutnya membawa serta bahasa mereka, yakni bahasa Prancis, pada masyarakat Inggris. Dialek Anglo-Saxon (yang sebelumnya dipakai sebagian besar penduduk Inggris) digantikan oleh Norman untuk digunakan di kerajaan, kalangan aristokrat, sistem peradilan, dan gereja.

Selama periode ketika bahasa Prancis mendominasi, bahasa Inggris menjadi jarang digunakan. Dalam kehidupan sehari-hari, penduduk Norman yang berpengaruh menggunakan bahasa asli mereka, yang juga dikenal sebagai bahasa Prancis Anglo-Norman. Sedangkan warga Inggris di daerah pedesaan dan perkotaan yang lebih sederhana terus berbicara dalam bahasa Inggris.

Keluarga bangsawan Inggris, yang kebanyakan dari mereka berasal dari Norman, mengajari anak-anak mereka bahasa Prancis atau mengirim mereka untuk belajar di Prancis.

Pernikahan kerajaan juga mendorong perluasan bahasa Prancis di Inggris. Banyak Raja Inggris setelah William I menikah dengan putri dari Prancis. Hal ini menjadikan bahasa Prancis sebagai bahasa Kerajaan Inggris selama beberapa abad dan memperkuat penggunaannya di negara tersebut secara keseluruhan.

Perang yang terjadi di Normandia pada tahun 1202 sampai 1204 menjadi babak baru dalam sejarah bahasa Inggris. Kerajaan Inggris yang didominasi bangsa Norman berperang melawan Prancis. Di waktu yang sama, kerajaan juga dihadapkan oleh sejumlah pemberontakan dari bangsawan Norman yang mengasosiasikan diri mereka dengan identitas Inggris.

Kekalahan Inggris setelah Philip II dari Prancis menaklukkan wilayah Anglo-Angevin di Normandia mulai menunjukkan berbagai reaksi masyarakat. Sentimen anti-Prancis mulai tumbuh dari berbagai kalangan di Inggris. Protes yang dilayangkan semakin keras terutama setelah Raja Henry III mengundang kerabat istrinya, Eleanor dari Provence, untuk menetap di Inggris dan memberikan banyak bantuan mewah kepada mereka.

Berbagai karya tulis yang mempromosikan penggunaan bahasa Inggris mulai bermunculan sekitar waktu itu, seperti Cursor Mundi. Sementara itu, penutur bahasa Prancis di Inggris distigmatisasi sebagai variasi penutur dari Benua, terutama karena Anglo-Norman yang dituturkan oleh para bangsawan telah mengambil struktur sintaksis yang menyerupai bahasa Inggris.

Pada tahun 1328, Raja Charles IV dari Prancis meninggal tanpa ahli waris. Raja Edward III dari Inggris dan Raja Philip VI dari Prancis mempermasalahkan takhta Prancis yang berujung terjadinya Perang Seratus Tahun (1337 – 1453). Perang tersebut memicu stigma lebih lanjut terhadap bahasa Prancis di Inggris lantaran bahasa itu dilihat sebagai bahasa musuh.

Lambat laun bahasa Prancis tergusur dan bahasa Inggris menonjolkan diri. Bahasa Inggris mulai digunakan di pemerintahan dan institusi pendidikan setelah lebih dari 200 tahun menjadi bahasa dengan prestise rendah. Pada tahun 1349, bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar di Universitas Oxford, yang sebelumnya diajarkan dalam bahasa Prancis atau Latin.

Penggunaan bahasa Inggris menjadi meluas dengan diperkenalkannya percetakan ke Inggris oleh William Caxton pada tahun 1476. Raja Henry IV menjadi Raja Inggris pertama yang bahasa pertamanya adalah bahasa Inggris. Setelah itu, Raja Henry V menjadi Raja Inggris pertama yang menggunakan bahasa Inggris dalam dokumen resmi.

Reporter: Safira Ginanisa

 

 

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here