MATA INDONESIA, JAKARTA- Dunia penerbangan pastinya kenal dengan nama Amelia Earhart. Ia  merupakan pelopor penerbangan dan penulis asal Amerika Serikat.

Earhart adalah wanita pertama yang menerima Distinguished Flying Cross. Ia mendapatkan penghargaan itu, karena menjadi wanita pertama yang terbang sendiri menyeberangi samudera Atlantik. Namanya telah menjadi perbincangan publik selama bertahun-tahun. Sebab ia dinyatakan hilang di Samudera Pasifik tahun 1973.

Earhart lahir pada 24 Juli 1897, di Atchison, Kansas.  Ia lahir dari pasangan Samuel ‘Edwin’ Stanton Earhart dan Amelia ‘Amy’ Otis. Pernikahan orang tua dari Amelia Earhart tak direstui oleh keluarga ibunya. Karena orang tua ibunya tak puas dengan Edwin yang sebagai seorang pengacara. Ketika situasinya memburuk, Amy mengantarkan Earhart dan saudara perempuannya, Muriel untuk ke rumah kakek nenek mereka. Di sana mereka bertualang, menjelajahi lingkungan, memanjat pohon, berburu tikus, dan menaiki kereta luncur Earhart yang menakjubkan. Sehingga membuat Amelia Earhart semasa kecilnya menjadi seorang anak yang tomboy.

Setelah beranjak dewasa, ia semakin menentang peran gender perempuan tradisional dan memilih bermain basket atau mempelajari mekanika. Lalu, saat keluarganya bersatu kembali Earhart menunjukkan bakat awal di sekolahnya untuk mendalami sains dan olahraga. Meskipun sulit untuk berprestasi secara akademis dan berteman.

Tahun 1915, keluarga mereka berpindah kembali dan membawa Earhart bersama Muriel ke Chicago. Di sana, Earhart bersekolah di Hyde Park High School dan unggul dalam bidang kimia. Ketidakmampuan ayahnya untuk menafkahi keluarganya, membuat Earhart menjadi mandiri dan tak bergantung pada orang lain.

Pada pertunjukan udara Long Beach pada 28 Desember 1920, Earhart mengamati pertunjukkan tersebut di California. Di hari itulah, Amelia melakukan penerbangan pesawat terbang. Kemudian ia menyatakan bahwa “saya tahu bagaimana saya harus terbang”. Setelah itu, ia bekerja di berbagai bidang mulai dari fotografer hingga sopir truk untuk mendapatkan uang yang cukup, agar bisa mengikuti kursus terbang. Lalu, ia membaca semua tentang penerbangan dan menghabiskan sebagian besar waktunya di lapangan terbang. Gaya penerbangannya seperti wanita lainnya dengan memotong pendek rambutnya dan bahkan ia tidur di jaket kulit barunya selama tiga malan untuk dapat memberikan tampilan yang lebih ‘usang’

Pada musim panas 1921, Earhart membeli biplan Kinner Airster bekas, lalu dicat kuning cerah. Ia menjulukinya dengan nama “The Canary”, dan mulai terkenal di dunia penerbangan. Pada 22 Oktober 1922, Earhart menerbangkan pesawatnya dengan ketinggian 14.000 kaki. Setelah itu, pada 15 Mei 1923, Earhart menjadi wanita ke 16 yang mendapatkan lisensi pilot dari badan pengatur dunia untuk aeronautika, The Federation Aeronautique.

Selama periode ini, keluarga Earhart sebagian besar hidup dengan warisan dari harta ibu Amy. Tetapi pada tahun 1924, uangnya telah habis. Lalu, mereka kesulitan untuk mencari uang dan akhirnya Earhart menjual pesawatnya. Pada tahun 1925, Earhart kembali mendaftar di Universitas Columbia, tetapi ia berhenti dalam menjalankan studinya karena keterbatasan keuangan. Kemudian ia kembali bekerja sebagai guru dan pekerja sosial.

Untuk kembali ke dunia penerbangan, Earhart secara bertahap merintis kariernya kembali. Ia menjadi anggota cabang American Aeronautical Society’s Boston dan menginvestasikan sejumlah uangnya di Bandara Dennison di Massachusetts, serta menjadi perwakilan penjualan pesawat Kinner di wilayah Boston.

Pada bulan Juni 1928, Earhart dan dua pria terbang dari Newfoundland, Kanada, ke Wales, Inggris Raya. Meskipun satu-satunya wanita, selama penerbangan Earhart menyimpan catatan pesawat, lalu penerbangan tersebut mendapatkan ketenarannya yang luar biasa dan orang Amerika terpikat pada pilot muda yang berani itu. Ketiganya dihormati dengan parade ticker tape di New York, dan dijuluki “Lady Lindy”.

Earhart menulis sebuah buku tentang penerbangan untuk Putnam, yang dinikahinya pada tahun 1931. 20 Mei 1932, ia lepas landas sendirian dari Newfoundland dengan Lockheed Vega untuk penerbangan trans-atlantik dengan nonstop dan wanita pertama yang terbang solo. Ia menuju Paris tetapi terlempar keluar jalur dan mendarat di Irlandia pada 21 Mei setelah terbang lebih dari 2.000 mil hanya dalam waktu kurang dari 15 jam. Tiga bulan kemudian, Earhart menjadi wanita pertama yang terbang sendirian tanpa henti melintasi benua Amerika Serikat.

Tahun 1935, ia terbang sendirian dari Wheeler Field di Honolulu ke Oakland, California, dan mendapatkan penghargaan $10.000 yang diposting oleh kepentingan komersial Hawaii. Sehabis itu, ia ditunjuk sebagai konsultan karier wanita di Universitas Purdue dan Earhart dibelikan pesawat Lockheed Electra modern untuk digunakan sebagai “laboratorium terbang”.

Pada 17 Maret 1937, ia lepas landas dari Oakland dan terbang ke barat dalam upaya keliling dunia. Ini bukan penerbangan global pertama, tapi akan menjadi yang terpanjang mencapai 29.000 mil, mengikuti rute ekuator. Pendamping Earhart di Lockheed adalah Frederick Noonan, navigatornya dan mantan pilot Pan American. Setelah beristirahat dan mengisi bahan bakar di Honolulu, ketiganya bersiap untuk melanjutkan penerbangan. Namun, saat lepas landas ke Pulau Howland, Earhart memutar pesawat di landasan pacu, mungkin karena bannya pecah, dan Lockheed rusak parah. Penerbangan dibatalkan, dan pesawat dikirim kembali ke California untuk diperbaiki.

Pada bulan Mei, Earhart kembali mencoba terbang keliling dunia, kali ini rutenya dari barat ke timur. Earhart ditemani Noonan. Mereka meninggalkan Miami pada 1 Juni 1937. Setelah itu, mereka singgah di Amerika Selatan, Afrika, India, dan Asia Tenggara, sebelum  tiba di Lae, New Guinea, pada 29 Juni. Earhart menempuh sekitar 22.000 mil. Tujuan berikutnya adalah Pulau Howland, pulau kecil milik AS yang panjangnya hanya beberapa mil. Saat telah mendekati  Pulau Howland, Earhart menghubungi Itasca melalui radio dan menjelaskan bahwa ia hampir kehabisan bahan bakar.

Namun, setelah beberapa jam upayanya sia-sia, komunikasinya hanya terjalin sebentar. Setelah itu, mereka hilang kontak dan mungkin mencoba untuk mendaratkan di atas air. Jika pendaratannya di air sempurna, Earhart dan Noonan mungkin punya waktu untuk melarikan diri dari pesawat. Pencarian intensif di daerah sekitar oleh penjaga pantai dan Angkatan Laut AS tidak menemukan fisik dari pesawat tersebut.

Earhart merupakan seorang wanita yang ramah dan agak pemalu tetapi ia menunjukkan bakat dan keberanian yang luar biasa. Ia adalah seorang piloy yang cerdas dan kompeten yang tak panic atau kehilangan keberaniannya, tetapi ia sukses penerbangan yang brilian. Selama ini, Earhart terlibat dengan Ninety-Nines, sebuah organisasi pilot wanita yang memajukan perjuangan wanita dalam penerbangan. Dia menjadi presiden pertama organisasi tersebut pada tahun 1930.

Reporter: Azizah Putri Octavina

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here