Batavia
Batavia

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sejak menginjakan kaki di Jayakarta, bandar dagang dan pelabuhan paling sibuk di Kepulauan Nusantara, Jan Pieterszoon Coen sudah jatuh cinta dengan wilayah milik Kesultanan Banten ini.

Jan Pieterszoon Coen, Pendiri Batavia yang 2 Kali Pimpin VOC
Jan Pieterszoon Coen (istimewa)

Saat kemudian ditunjuk jadi Gubernur Jenderal mewakili VOC, Jan Pieterszoon Coen langsung mewujudkan impiannya merebut Jayakarta. Tak mudah merebut bandar dagang yang dikuasai dan dipertahankan oleh pasukan Kesultanan Banten. Ia dan pasukannya beberapa kali mengalami kekalahan.

Kegigihan dan semangat Jan Pieterszoon Coen pun akhirnya terbayarkan. Pada 30 Mei 1619, operasi penaklukan Jayakarta dilaksanakan. VOC mengerahkan pasukannya merebut kota pelabuhan ini. Jayakarta akhirnya milik VOC.

Sebagai bandar dagang, Jayakarta memang strategis. Tempat ini dulunya bernama Sunda Kelapa dan berada di wilayah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Kerajaan ini merupakan kerajaan Sunda yang berpusat di Bogor, dan eksis hingga 1579. Tahun 1522, Pajajaran berselisih dengan tiga kerajaan Islam, yakni Cirebon, Demak, dan Banten. Pajajaran kemudian meminta bantuan Portugis yang kala itu memang beraktivitas di Nusantara.

Peta Batavia yang dibuat Jan Pieterszoon Coen
Peta Batavia yang dibuat Jan Pieterszoon Coen

Namun, pertempuran dimenangkan oleh pasukan gabungan kerajaan Islam yang dipimpin Fatahillah. Setelah kemenangan itu, Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, dan dipimpin oleh pejabat khusus yang ditunjuk oleh Kesultanan Demak. Setelah Demak runtuh pada 1554 karena konflik internal, Jayakarta dikelola oleh Kesultanan Banten.

Jayakarta semakin ramai karena menjadi tempat bertemunya kaum saudagar dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari Eropa dan Timur Tengah. Pelabuhannya ramai karena para peniaga lintas bangsa dari negeri-negeri Melayu, India, Jepang, serta Cina juga kerap singgah di Sunda Kelapa, selain para pedagang dan nelayan dari berbagai daerah. Wilayah Sunda Kelapa itu sudah banyak penduduknya dan ada 3000 bangunan rumah yang cukup permanen dan sebagian besar di antaranya dikelilingi pagar tanaman hijau.

Saat pertama kali Jan Pieterszoon Coen datang ke Jayakarta dan mengajukan izin berdagang, VOC harus membayar 1.200 real kepada pejabat pribumi yang ditugaskan memimpin wilayah itu. Tak hanya itu, VOC juga diperbolehkan membangun pos dagang dan gudang di kawasan itu. Jan Pieterszoon Coen merasa cocok dengan Jayakarta. Bagi dia, Jayakarta harus direbut dan menjadi wilayah VOC.

Jan Pieterszoon Coen memang seorang ahli strategi dagang yang ulung. Langkah awalnya adalah dengan menghentikan semua pembelian lada. Kebijakan ini tentu saja mengacaukan pasar perdagangan lada. Coen kemudian mengancam akan memindahkan semua pabrik milik VOC ke Jayakarta. Selain itu, ia bernegosiasi dengan para pedagang Cina. Ketika Inggris mulai ikut campur dalam situasi ini, Coen hampir bisa memaksakan harga lada turun drastis hingga 50 persen. Kesultanan Banten yang turut merasa terancam dengan sepak-terjang Coen pun menjalin kerjasama dengan Inggris. Keduanya punya musuh bersama, yakni VOC.

Akhirnya terjadilah pertempuran di laut, pasukan gabungan Banten dan Inggris mulai menyerang kapal-kapal Cina yang hendak merapat ke Jayakarta. VOC, yang sebelumnya sudah memiliki kantor dagang di Jayakarta, tentunya tidak tinggal diam. Jan Pieterszoon Coen  kemudian memerintahkan gudang kompeni di Jayakarta dan diubah menjadi benteng pertahanan. Pasukan VOC yang rata-rata adalah campuran pasukan pribumi dan Eropa mulai menyerang pos-pos dagang milik Inggris di lokasi yang sama. Pasukan Coen membakar habis semua aset Inggris di Jayakarta.

Inggris tentu saja murka dan mengancam akan memotong seluruh jalur komunikasi VOC dengan dunia luar. Inggris mengerahkan 11 kapal tempurnya untuk berpatroli di sekitar perairan Jayakarta. Perang terbuka segera dimulai.

Pada awal 1619, Coen memimpin 7 kapal Belanda untuk menghadapi armada perang Inggris dan pecahlah pertempuran selama 3 jam. Hasilnya, VOC kewalahan dan akhirnya kalah. Coen terpaksa mundur, meninggalkan garnisunnya di Jayakarta dan berpesan kepada mereka untuk bertahan sampai titik darah penghabisan. Coen berlayar jauh menuju Maluku, pusat VOC kala itu, sembari mengkoordinasikan kembali pasukannya.

Ia juga menulis surat kepada para petinggi VOC di Negeri Belanda dan melaporkan kekalahannya itu. Coen meminta tambahan pasukan serta kapal tempur untuk melawan Inggris.

Bnteng VOC di Jayakarta ternyata selamat. Pasalnya, lawan-lawan mereka sibuk ribut sendiri terkait kepemilikan Jayakarta. Inggris dan Banten berebut hak milik atas kota pelabuhan itu. Begitu pula dengan Pangeran Jayakarta yang ternyata juga menyimpan hasrat serupa. Perpecahan tersebut dimanfaatkan betul oleh Coen saat ia berlayar kembali dari Maluku. Tanggal 28 Mei 1619, armada Coen memasuki benteng VOC di Jayakarta dan segera melakukan penyerangan. Dua hari kemudian, Coen memimpin 1.000 orang menyerbu pos-pos musuh mereka yang sedang lengah.

Pada 30 Mei 1619, Coen berhasil menguasai Jayakarta dan hanya kehilangan 1 orang prajuritnya yang tewas. Coen memerintahkan pasukannya untuk membumihanguskan kota pelabuhan yang kemudian diduduki sepenuhnya oleh VOC. Di saat yang sama, Coen juga mengirimkan 17 armada lautnya untuk menyerang pelabuhan Banten. VOC meraih kemenangan mutlak. Inggris kabur, Banten kewalahan, dan Jayakarta pun berhasil direbut. Di atas puing-puing Jayakarta, Coen memerintahkan pembangunan sebuah benteng baru yang lebih besar dan kuat. Selain itu, ia juga membangun kota kecil untuk tempat bermukim orang-orang Belanda yang telah turut bertempur bersamanya.

Coen mengganti nama kota itu menjadi Batavia sekaligus menetapkannya sebagai pusat pemerintahan VOC di Nusantara. Awalnya Coen ingin memberinya nama Nieuw Hoorn alias Hoorn Baru, mengacu kepada kota kelahirannya di Belanda. Namun, usulan Coen terkait penamaan itu tidak disetujui para petinggi VOC. Pada 4 Maret 1621, nama Batavia dikukuhkan. Pemerintah daerahnya pun dibentuk.

Rumah, bangunan dan masjid pun dihancurkan tanpa sisa. Coen membangun Batavia dengan konsep baru dan arsitektur gaya Belanda mengacu pada kota kelahirannya lengkap dengan kanal dan jembatan.

Walau telah tiada, ambisi Coen akan Batavia bahkan sampai hari ini masih terlihat di pada batu marmer yang sudah kusam di Museum Wayang Jakarta terukir dengan jelas sebuah tulisan berbahasa Belanda:

Die Stichter Van Batavia

Jan Pieterszoon Coen

In 1634

Reporter : Mala Komala

 

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here