Kudeta berdarah APRA melawan Pemerintah Indonesia di Bandung (Arsip Nasional)
Kudeta berdarah APRA melawan Pemerintah Indonesia di Bandung (Arsip Nasional)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tepat 71 tahun yang lalu, pada 23 Januari 1950 terjadi sebuah pemberontakan yang dikenal dengan peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) atau Kudeta 23 Januari.

Pemberontakan tersebut dipimpin oleh Raymod Westerling, Mantan Komandan Korpd Pasukan Khusus Belanda atau Korps Speciale Troepen. Ia memang dikenal sebagai sosok yang kejam sebab telah membunuh puluhan ribu penduduk Sulawesi pada tahun 1946 hingga 1947.

Pada bulan November 1949, Westerling mendirikan sebuah organisasi bernama Ratu Adil Persatuan Indonesia (RAPI) dengan tujuan untuk menggulingkan Soekarno dari jabatannya sebagai presiden.

Organisasi ini memiliki satuan bersenjata yang bernama Angkatan Perang Ratu Adil. Para pengikutnya pun kebanyakan berasal dari mantan anggota Koninklije Nederland Indische Leges (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda.

Nama Ratu Adil diambil dari kitab ramalan Jawa Kuno bab Jayabaya yang meramalkan tentang kedatangan seorang Satrio Piningit atau ksatria yang berasal dari Turki. Westrering yang lahir di Turki pada 31 Agustus 1919, merasa dirinya adalah sosok dari Ratu Adil tersebut yang akan membebaskan Indonesia dari keterpurukan.

Oleh karena itu, banyak dari rakyat Indonesia yang mendukung ARPA. Rakyat pun banyak yang terhasut oleh organisasi itu untuk bergabung dalam rencana pemberontakan yang telah direncanakan Westerling selama berbulan-bulan.

Bahkan, rencana keji ini diketahui oleh pimpinan tertinggi Belanda, salah satunya Letjen Buurman van Vreeden.

Pemberontakan ini sebetulnya diawali oleh rasa tidak puas sebagian anggota KNIL atas hasil dari Konferensi Meja Bundar (KMB). Saat itu, pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) memutuskan jika anggota Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) terdiri dari TNI dan mantan anggota KNIL.

Ternyata, keputusan pemerintah itu membuat mantan anggota KNIL gusar akan kedudukan mereka di dalam APRIS itu sendiri. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk bergabung dengan ARPA.

Pada 5 Januari 1950, Westerling mengulimatum pemerintah RIS lewat sebuah surat. Ia meminta pemerintah untuk menghargai negara-negara bagian, terutama Negara Pasundan. Pemerintah pun harus mengakui ARPS sebagai tentara Pasundan sehingga mereka memiliki kekuasaan penuh di negara bagian itu.

Dalam surat tersebut juga dijelaskan jika pemerintah RIS harus memberikan jawaban positif dalam kurun waktu 7 hari. Apabila permintaan itu ditolak, makan akan terjadi pertumpahan darah.

Lima hari kemudian, Hatta menyampaikan jika pemerintah menolak permintaan yang dianggap konyol itu serta memerintahkan untuk menangkap Westerling. Namun, kabar itu sudah sampai ke telinga Westerling terlebih dahulu. Ia pun menyiapkan sebuah rencana besar-besaran untuk melakukan kudeta.

Pada 23 Januari 1950, pemberontakan ARPA dilancarkan oleh Westerling sejak sebelum matahari menyingsing. Saat itu, ia memimpin 800 pasukan bersenjata lengkap, 300 diantaranya merupakan anggota KNIL untuk memasuki Bandung.

Peristiwa Lembong
Peristiwa Lembong

Selama di jalan, pasukan keji itu membunuh dan membantai siapa pun yang mengenakan seragam TNI. Sebanyak 94 anggota TNI gugur dalam pertempuran itu, termasuk Letnan Kolonel Lembong. Sedangkan, pasukan ARPA tidak ada yang tewas satu pun.

Tak butuh waktu lama, ARPA mampu menduduki semua lokasi strategis di Bandung, mulai dari Markas Staf Divisi Siliwangi, kantor pos, hingga ruas-ruas jalan pun diambil alih oleh pasukan brutal itu.

Sejalan dengan serangan tersebut, sejumlah anggota pasukan RST pimpinan Sersan Meijer menuju Jakarta untuk menangkap Presiden Soekarno. Namun, dukungan dari pasukan KNIL lain dan Tentara Islam Indonesia (TII) yang dinanti oleh Westerling tak kunjung datang. Sehingga, serangan tersebut gagal dilancarkan.

Setelah puas melancarkan aksinya di Bandung, Westerling berangkat menuju Jakarta pada tanggal 14 Januari 1950 dan bertemu dengan Sultan Hamid II di Hotel Des Indes. Pada masa itu, Hamid menjabat sebagai salah satu Menteri dalam kabinet RIS. Ia memutuskan untuk bersekongkol dengan Westerling karena ia lebih menyukai bentuk negara federal dari pada kesatuan.

Di hotel itu, Hamid dan sekretarisnya, dr. J. Kiers, mengkritik kegagalan Westerling. Ia pun menyalahkan Westerling karena membuat masalah besar di Bandung. Tak lama, Westerling pergi meninggalkan hotel tersebut.

Setelah itu, tersiar kabar jika Westerling akan mengulang tindakannya dengan menyerang tempat diselenggarakannya sidang kabinet RIS di Jakarta untuk menculik semua menteri dan membunuh Sri Sultan Hamengku Buwono IX (Menteri Pertahanan, Mr. Ali Budiardjo (Sekjen Kementrian Pertahanan Keamanan), dan T.B Simatupang (Kepala Staf Angkatan Perang).

Namun, rencana itu diketahui oleh Hatta yang kemudian menyampaikan kabar itu kepada Hirscfeld. Akhirnya, rencana itu berhasil digagalkan oleh TNI.

Kegagalan itu membuat beberapa pihak panik. Bukan hanya Westerling saja, pihak perwakilan pemerintah Belanda pun merasakan kepanikan yang sama besarnya. Menurut sejarawan Frederik, pihak Belanda tak ingin Westerling jatuh ke tangan Indonesia.

Oleh sebab itu, Belanda mengirim Westerling ke luar negeri secara diam-diam. Hingga kematiannya, Westerling tidak pernah diadili karena kejahatan-kejahatan keji yang pernah ia lakukan.

Reporter: Diani Ratna Utami

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here