Lambang Negara AS
Lambang Negara AS

MATA INDONESIA, JAKARTA – The Eye of Providence atau Sang Mata Pemeliharaan adalah simbol sebuah mata yang berada di dalam segitiga. Disebut juga sebagai Mata Ilahi. Simbol ini kerap dihubungkan dengan Freemason dan Illuminati, sebuah kelompok rahasia beranggotakan orang-orang elite yang diduga berusaha mengendalikan urusan global.

Mata Ilahi memunculkan berbagai teori konspirasi karena tersembunyi di depan mata: tidak hanya muncul di gereja-gereja dan bangunan berbentuk Masonik yang tak terhitung jumlahnya di seluruh dunia, namun juga tampil di bagian belakang uang kertas satu dolar Amerika dan di lambang negara Amerika Serikat, Great Seal.

Seperti dikutip dari BBC, Mata Satu terlihat bukan pilihan biasa dan cukup aneh untuk dijadikan simbol negara AS. Sebuah mata tanpa tubuh dengan kuat mengisyaratkan adanya sebuah kelompok atau Big Brother yang matai-matai semua orang. Ditambah kombinasi piramida di bagian bawah yang menunjukkan sebuah lambang kultus kuno yang misterius.

Mata Ilahi sebenarnya berawal dari simbol Kristiani dan ditemukan pertama kali dalam karya seni religius era Renaisans untuk mewakili sosok Tuhan. Salah satu karya seni yang menampilkan nya adalah lukisan buatan Pontormo pada 1525, Supper at Emmaus.

Mata Ilahi di dalam lukisan Supper at Emmaus (1525) karya Pontormo
Mata Ilahi di dalam lukisan Supper at Emmaus (1525) karya Pontormo

Simbol ini juga muncul dalam buku tentang simbol-simbol berjudul Iconologia yang terbit tahun 1593. Dalam cetakan lebih baru, Mata Ilahi dimasukkan sebagai atribut dan personifikasi dari mata Tuhan yang melihat segalanya.

Segitiga merupakan simbol lama Tritunggal Kristen yang melambangkan Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Beberapa abad sebelumnya, keberadaan Tuhan kerap digambarkan dengan pancaran cahaya segitiga. Cahaya yang berpendar di sekeliling Mata Ilahi merupakan simbol lama dalam ikonografi Kristen yang melambangkan cahaya Tuhan.

Tuhan telah digambarkan dengan banyak cara yang samar sebelumnya, seperti dengan satu tangan yang muncul dari awan tetapi jarang sebagai satu mata. Simbol mata satu yang berdiri sendiri ini seakan memberi kesan mengawasi bagi yang melihatnya.

Dijelaskan BBC dalam salah satu artikelnya, berdasarkan nama dan penggunaannya di masa lalu, simbol ini diciptakan untuk melambangkan Tuhan yang mengawasi umat manusia dengan penuh kasih sayang.

Masih tidak diketahui secara pasti siapa yang pertama kali menciptakan simbol ini meskipun tampak jelas dirancang dari lambang-lambang religius yang sudah ada terlebih dahulu.

Ada sejarah yang lebih dalam mengenai simbol mata. Pada milenium ketiga sebelum masehi (SM), bangsa Sumeria menunjukkan kesucian patung-patung tertentu dengan memperbesar mata mereka ke ukuran yang tidak normal untuk menambahkan sensasi tugas pengawasan.

Bangsa Sumeria bahkan menggelar upacara keagamaan di mana para seniman membuat patung seolah tampak hidup dengan cara ‘membuka’ mata mereka.

Namun, jika dikaitkan dengan Mata Satu, bangsa Mesir Kuno mungkin yang lebih dekat untuk dikatakan sebagai pencetus. Sebagai contoh, bangsa Mesir Kuno melukis sepasang mata di atas peti mati untuk memungkinkan orang mati melihat di akhirat. Salah satu simbol nya yang paling terkenal adalah Mata Horus.

Bentuk Mata Horus merupakan kombinasi dari mata manusia dengan mata elang, yang ditambahkan alis dan tanda pipi berwarna gelap dari burung tersebut.

Menurut mitologi Mesir kuno, Dewa Raja Horus yang kerap digambarkan sebagai elang, matanya terpotong saat bertempur dengan paman nya, Set. Dengan bantuan Dewa Thoth, ia dapat menyembuhkan matanya.

Mata Horus kemudian menjadi simbol pelindung dan digunakan sebagai jimat dengan bentuk patung berukuran kecil yang bisa disimpan di saku.

Mata Horus dan berbagai hieroglif Mesir lainnya tentang mata satu memberi pengaruh pada ikonografi Eropa selama masa Renaisans. Saat itu, sejarawan dan seniman sangat tertarik dengan tulisan Mesir. Namun, mereka tidak sepenuhnya mengerti apa artinya sehingga menyebabkan penerjemahan yang tidak akurat. Salah satu terjemahan yang salah muncul dalam kisah roman yang terbit pada 1499 berjudul The Dream of Poliphilo. Dalam terjemahan itu, simbol mata satu Mesir ditulis sebagai ‘Tuhan’.

Kesalahan penerjemahan ini berawal dari kesalahpahaman tentang penggunaan hieroglif. Pada tahun 1400-an dan 1500-an, hieroglif diyakini memiliki makna yang mistis. Simbol-simbol dalam tulisan hieroglif, seperti hewan, burung, dan bentuk-bentuk abstrak lainnya, diyakini sengaja dibuat misterius.

Keyakinan ini memberi pengaruh yang besar terhadap berbagai karya seni Eropa. Ketika kamus tentang simbol-simbol, seperti Emblemata karya Andrea Alciati dan Iconologia karya Cesare Ripa dirilis, mereka menekankan pada simbol-simbol visual yang samar dan sangat kompleks.

Simbol seperti Mata Ilahi sengaja dibuat dan ditampilkan secara misterius. Ini adalah simbol yang sejatinya dibuat untuk ditafsirkan ulang dan mungkin disalahartikan.

Beberapa contohnya bisa dilihat pada abad 18 yang mana menunjukkan banyaknya perbedaan dalam penggunaan simbol Mata Ilahi.

Di era pasca-revolusi Prancis, Jean-Jacques-François Le Barbier melukis peristiwa Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara (1789) yang disertai Mata Ilahi di bagian atas teks deklarasi.

Jean-Jacques-François Le Barbier melukis peristiwa Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara (1789) dengan teks deklarasi yang radikal itu, disertai Mata Ilahi di bagian atas.
Lukisan Jean-Jacques-François Le Barbier soal Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara (1789). Perhatikan Mata Ilahi di bagian atas.

Lalu, pada 1782 di Amerika Serikat, lambang negara Great Seal, diresmikan. Thomas Jefferson, Benjamin Franklin, dan John Adams mengusulkan berbagai ide untuk lambang tersebut, namun Sekretaris Kongres Kontinental Charles Thomson lah yang kemudian muncul dengan ide piramida dan Mata Ilahi. Ia berkolaborasi dengan pengacara dan seniman muda bernama William Barton untuk membuat lambang ini.

Pada lambang negara tersebut, terdapat gambar piramida yang belum selesai. Ini dimaksudkan sebagai simbol kekuatan dan abadi, dengan 13 tingkat yang mewakili 13 negara bagian pertama yang membentuk Amerika. Sementara Mata Ilahi disimbolkan sebagai pengawasan Tuhan yang penuh kasih sayang untuk negara tersebut.

Contoh lainnya terdapat di Inggris pada 1794, Jeremy Bentham menugaskan arsitek Willy Reveley mendesain lambang untuk Panopticon, yakni sebuah penjara baru revolusioner yang bertujuan untuk melakukan pengawasan terus-menerus terhadap semua sel. Desain yang dibuat memasukkan Mata Ilahi dengan dikelilingi kata-kata ‘Ampunan’, ‘Keadilan’, dan ‘Penjagaan’.

Dari berbagai contoh di atas, tidak satu pun yang melibatkan Freemason sebagai pertimbangan untuk pemilihan nya.

Sedangkan soal Illuminati, tidak ada detail yang jelas mengenai kelompok yang pertama kali dibentuk di Bavaria tahun 1776 ini. Meski benar bahwa Illuminati terinspirasi oleh gagasan di balik kelompok Freemason, yang menggunakan Mata Ilahi sebagai simbol Tuhan dan mengikuti kepemimpinan banyak gereja pada saat itu.

Freemason tidak menggunakan simbol Mata Ilahi secara luas sampai setidaknya pada abad ke-18, jauh setelah Jeremy Bentham, Jean-Jacques-Francois Le Barbier, Charles Thomson, dan William Barton mengadaptasi untuk tujuan mereka.

Penggunaan simbol Mata Ilahi terus berulang hingga sekarang. Di zaman modern ini, penyanyi dunia seperti Madonna, Jay-Z, dan Kanye West menggunakan simbol Mata Ilahi untuk musik mereka. Kendati demikian, penggunaan simbol dari abad ke abad tidak bisa dijadikan sebagai bukti konspirasi.

Reporter: Safira Ginanisa

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here