MINEWS, JAKARTA – Hari ini, Kamis 11 April 2019, Indonesia mengalami kehilangan besar. Salah satu putera terbaik bangsa di bidang musik telah berpulang. Dia adalah Mus Mulyadi sang ‘raja keroncong’ Tanah Air.

Setelah lama berjuang melawan diabetes, Mus Mulyadi menghembuskan napas terakhirnya di RS Pondok Indah, Jakarta sekitar pukul 09.00 WIB.

Pada tahun 70-an Mus Mulyadi terkenal sebagai maestronya musik keroncong, dengan suaranya yang khas, lalu meredup seiring diabetes yang menyerangnya.

Berikut 5 fakta seputar kehidupan dan perjalanan karir Mus Mulyadi yang wajib kamu tahu:

1. Buaya Keroncong yang Hidup di Keluarga Pemusik

Lahir di Kota Buaya, julukan lain Surabaya, pada 14 Agustus 1945 membuatnya sempat dijuluki Buaya Keroncong. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga seniman.

Ayahnya adalah pemain gamelan, dua kakaknya, yakni Sumiati adalah pemain keroncong di Belanda dan Muljono adalah penyanyi keroncong terkenal di Surabaya. Bahkan, adiknya yakni Mus Mujiono juga terjun ke dunia musik beraliran pop dan jazz.

2. Karir Awal Sebelum Terkenal

Sebelum menjadi penyanyi keroncong terkenal, awalnya Mus Mulyadi diketahui publik sebagai pendiri sekaligus pelatih band Irama Puspita yang berisikan 13 perempuan. Beberapa tahun berjalan, band tersebut kerap merajai festival musik di Surabaya, lalu bubar setelah beberapa personel hengkang.

Setelah membubarkan Irama Puspita, Mus Mulyadi bergabung dengan band Arista Birawa sebagai bassist dan vokalis. Di band inilah karir untuk dirinya dimulai dengan menelurkan satu album yakni Jaka Tarub pada 1965.

3. Mengembara ke Singapura dan Bergabung dengan Favourite’s Group

Mus Mulyadi sempat mengembara ke Singapura bersama tiga rekannya dan memilih keluar dari Arista Barawa. Karirnya tak mulus di Singapura, bahkan sempat menjadi gelandangan, lalu bangkit dengan sejumlah lagu yang diciptakannya sendiri bersama band The Exotic. Lalu ia kembali ke Tanah Air pada 1970.

Sekembalinya di Indonesia, ia bergabung dengan band Empat Nada yang kemudian berganti nama menjadi Favourite’s Group. Di grup ini, kemampuan Mus Mulyadi terus terasah, semakin matang hingga ia mendapatkan tawaran solo karir yang membuat namanya meledak.

4. Solo Karir dan Julukan ‘The King of Keroncong’

Selagi asyik bermusik bersama Favourite’s Group, Mus Mulyadi ditawari untuk merekam album solo, dengan salah satu lagi ciptaan Is Haryanto berbahasa Jawa dengan judul ‘Rek Ayok Rek’. Lagu ini meledak-ledak di Surabaya, bahkan menjadi ikon legendaris kota tersebut.

Sadar karir solonya gemilang, ia cabut dari Favourite’s Group tahun 1978. Dalam karir solonya, Mus Mulyadi tambah terkenal berkat beberapa lagu seperti Kr Dewi Murni. Ia juga diundang ke Belanda dan AS, yang membuatnya mendapat julukan The King of Keroncong.

5. Diabetes dan Akhir Karir Sang Mastro

Di tengah karirnya yang melejit, Mus Mulyadi mulai mengidap diabetes pada 1984. Diabetes itu membuatnya mengalami sejumlah komplikasi, salah satu yang terparah adalah ia kehilangan penglihatan sejak 2009.

Setelah sekian lama berjuang melawan penyakit tersebut, Mus Mulyadi akhirnya menutup usia. Kabar meninggalnya sang Raja Keroncong disampaikan puteranya Erick Haryadi di akun Instagram miliknya.

Mus meninggalkan lagu-lagu hebat semasa hidupnya, seperti Kota Solo, Dinda Bestari, Telomoyo, Jembatan Merah. Ia bernama asli Mulyadi, sedangkan penambahan Mus sebagai nama awal diambil dari penggalan nama ibunya, Muslimah.

Selamat jalan Mus Mulyadi.