Alquran yang ditulis menggunakan darah Presiden Saddam Hussein
Alquran yang ditulis menggunakan darah Presiden Saddam Hussein

MATA INDONESIA, JAKARTA-Hari ini tepat, 41 Tahun Silam, Saddam Hussein memulai kepemimpinan di Irak. Dirinya memerintah Irak sejak tahun 1979 hingga 2003. Tapi kekekuasaanya berakhir setelah ia digulingkan dalam invasi Irak yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

Dirinya ditangkap oleh pasukan AS pada 13 Desember 2003 di sebuah bungker. Diketahu, Saddam Hussein merupakan pemimpin yang diktaktor dan terkenal kejam. Namun. Ada fakta menarik mengenai dirinya yang tak banyak diketahui orang.

Pada akhir 1990-an dirinya pernah memerintahkan para ahli kaligrafi untuk membuat Al-Qur’an yang ditulis menggunakan 27 liter darah miliknya selama dua tahun. Hal itu dilakukan Saddam sebagai bentuk terima kasihnya kepada Tuhan dan menunjukkan ‘kesalehannya’ kepada para pemuka agama.

Ironisnya, menulis teks suci dengan darah adalah tindakan haram dan tidak sopan. Setelah kejatuhan Saddam, pemerintah Iraq tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap kitab buatan Saddam ini.

Di satu sisi, keberadaan kitab suci ini adalah sebuah pelanggaran dan berpotensi berbahaya sebagai katalis untuk para pemberontak. Di sisi lain, perusakan teks suci juga adalah sebuah dosa. Sampai sekarang kitab ini masih dalam penyimpanan pemerintah Iraq di sebuah ruangan dengan tiga pintu terkunci di masjid di Baghdad.

Namun, peninggalan Saddam ini menjadi perdebatan, ada dua pilihan yang sulit yang harus segera diambil terkait salinan Quran itu: dihancurkan atau dipertahankan.

“Apa yang dilakukannya, menulis Quran dengan darah adalah salah, haram,” kata salah satu ulama Irak, Sheikh Samarrai, seperti dimuat laman The Guardian.

Seperti dimuat situs LiveScience, Rabu, 22 Desember 2010, konservator di Museum Winterthur sekaligus profesor University of Delaware, Bruno Pouliot, mengatakan dari sisi seni, darah biasa digunakan untuk melukis atau menulis.

Tapi, itu biasanya menggunakan darah hewan bukan manusia – meski ada juga seniman yang memakai darah atau rambut manusia dalam karyanya. “Yang biasa digunakan adalah darah sapi,” kata dia.

Penggunaan darah manusia, kata Pouliot, sangat terkait dengan persoalan etika. Bahkan dalam seni sekalipun, penggunaan darah manusia ditabukan. “Tabu, karena berkaitan dengan risikonya,” kata dia.

Risiko yang dimaksud terkait penyakit yang berhubungan dengan darah seperti Ebola, Hepatitis B, dan HIV.

Menurut regulasi di AS, donor darah yang dibolehkan hanyalah lima atau enam liter selama satu tahun, atau kurang dari segalon. Normalnya, 27 liter darah Saddam itu diambil selama sembilan tahun.

“Ini jumlah yang luar biasa. Kalau angka itu benar, pasti bikin dia anemia,” kata Bianco.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here