Ilustrasi Rupiah.

MATA INDONESIA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah atas dolar AS ditutup melemah tipis di awal pekan, 19 Oktober 2020. Mengutip data Bloomberg, rupiah berada pada posisi Rp 14.707 per dolar AS atau melemah 0,07 persen.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, pelemahan mata uang garuda dibayangi oleh rencana Bank Sentral Eropa mendistribusikan dana pemulihan sebesar 750 miliar euro untuk pemulihan ekonomi di masa pandemi menemui hambatan.

Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde mengatakan, para pemimpin Eropa telah berselisih mengenai rincian hibah multi-tahun dan skema pinjaman yang disebut Next Generation EU tersebut.

“Ini meningkatkan risiko bahwa uang tunai tidak akan mencapai negara-negara yang paling terpukul tepat pada waktunya. Bahkan bisa membuat wilayah Eropa gagal mendukung transformasi ekonomi riil di dunia pasca pandemi,” ujarnya, Senin sore.

Sementara dari dalam negeri, laju rupiah dipengaruhi oleh respon pemerintah atas peringkat utang yang disematkan oleh Bank Dunia beberapa waktu lalu akibat pandemi covid-19.

Akibat kondisi ini, diperkirakan rasio utang Indonesia akan mencapai 38,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2020 dan tembus 41,8 persen dari PDB pada 2021. Jumlahnya meningkat dibanding 2019 yang masih 30,5 persen terhadap PDB.

“Kendati demikian, rasio utang ini sejatinya masih lebih rendah dari negara-negara lain di dunia. Di kawasan Asia Tenggara misalnya, rasio utang Filipina sebesar 37 persen diperkirakan bakal naik menjadi 48,9 persen terhadap PDB pada tahun ini,” kata Ibrahim.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here