Ilustrasi Rupiah
Ilustrasi Rupiah

MINEWS, JAKARTA – Nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat diramalkan akan melanjutkan penguatan di awal pekan, 21 Oktober 2019.

Sebagai perbandingan rupiah di akhir pekan lalu, menguat tipis 0,02 persen ke kisaran Rp 14.145 per dolar AS.

Direktur PT.Garuda Berjangka Ibrahim memprediksi rupiah akan menguat di kisaran Rp 14.110 hingga Rp 14.160 per dolar AS.

Ia mengatakan penguatan rupiah akan dibayangi oleh sejumlah sentimen dari luar di antaranya sebagai berikut.

Pertama, pelaku pasar (investor) mencerna berita Brexit terbaru setelah Inggris dan Uni Eropa mengumumkan bahwa mereka mencapai kesepakatan Brexit.

“Tetapi kekhawatiran tentang kesepakatan yang berlalu tumbuh karena pasar sekarang khawatir tentang peluang Perdana Menteri Boris Johnson untuk memenangkan ratifikasi parlemen untuk kesepakatan tersebut,” kata Ibrahim.

Kedua, Produk Domestik Bruto kuartal ketiga China tumbuh lebih lambat dari yang diharapkan di tengah perang dagang dengan Amerika Serikat (AS).

“Kinerja itu melambat 0,2 persen dari kuartal-II 2019, 6,2 persen. Kendati demikian, angka tersebut masih dalam kisaran target China untuk tahun ini sekitar 6 – 6,5 persen,” ujar dia.

Ketiga, perang dagang yang sedang berlangsung dengan AS-China tetap menjadi fokus. Beijing mengatakan pada hari Kamis bahwa mereka berharap untuk menyetujui fase pada kesepakatan perdagangan dengan AS sesegera mungkin, tetapi memperingatkan bahwa Washington harus membatalkan tarif baru untuk kesepakatan perdagangan penuh.

“Tujuan utama kedua belah pihak untuk negosiasi adalah untuk mengakhiri perang dagang, membatalkan semua tarif tambahan. Ini bagus untuk Tiongkok, bagus untuk AS dan bagus untuk dunia,” kata dia.

Sementara dari internal, pergerakan rupiah akan dibayangi oleh fokus pasar hari ini adalah mengamati menteri-menteri yang akan dipilih dan diumumkan dalam kabinet Jokowi-M.Amin. sementara Jokowi effect mulai memudar.

“Terutama yang masuk dalam jajaran menteri ekonomi, Nama-nama yang sudah beredar di media seperti salah satunya Sri Mulyani langsung direspon positif oleh pasar. Sedangkan pos-pos tersebut adalah posisi Menko Perekonomian, Menteri Keuangan, Menteri SDM dan Menteri BUMN, walaupun belum resmi di umumkan namun pasar sdh bisa menebak pos2 mana yang paling vital mempengaruhi pasar,” kata dia.

Di samping itu pemerintah optimistis pasca pelantikan Jokowi-M.Amin pertumbuhan ekonomi akan kembali membaik walaupun ancaman perang dagang masih terus menghantui dan rencana Brexit untuk keluar dari UE pada 31 Oktober nanti.

“Ini menjadi pengawasan tersendiri pasca di umumkan Kabinet baru di minggu depan sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2019 tetap mendekati 5,1 persen. Meskipun IMF merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 5,0 persen,” ujar dia.