Garuda Indonesia-Sriwijaya Air (foto: istimewa)
Garuda Indonesia-Sriwijaya Air (foto: istimewa)

MINEWS, JAKARTA – Sudah menjadi hal biasa, bila hubungan antara Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air mengalami putus nyambung bak layangan. Hari ini, 7 November 2019, relasi kedua maskapai ini kembali terputus.

Mulanya hubungan baik sempat terjalin pada 9 November 2018. Tempo itu, Garuda Indonesia Group melalui anak usahanya PT Citilink Indonesia, mengambilalih pengelolaan operasional Sriwijaya Air group. Hal ini direalisasikan dalam bentuk Kerjasama Operasi (KSO) yang dilakukan oleh PT Citilink Indonesia (Citilink) dengan PT Sriwijaya Air dan PT NAM Air.

Komisaris Utama Garuda Indonesia Agus Santoso kala itu menjelaskan, salah satu alasan Garuda Indonesia mengambil alih Sriwijaya Air melalui KSO yaitu karena Sriwijaya Air memiliki memiliki permasalahan finansial. Keuangan Sriwijaya Air saat ini dinilai kurang sehat.

Namun, hubungan mesra itu cuma seumur jagung. Pada awal September 2019 lalu, hubungan dua maskapai tersebut kembali memburuk, karena pemegang saham Sriwijaya Air merombak jajaran direksi maskapainya.

Joseph Adrian Saul diberhentikan sebagai direktur utama perusahaan. Padahal dia merupakan bagian Direksi yang berasal dari Garuda Indonesia sebagai bagian dari kerja sama operasi (KSO) dengan Sriwijaya Air. Keputusan itu ditetapkan melalui rapat dewan komisaris dan direksi pada 9 September lalu.

Dampaknya, Garuda Indonesia melalui GMF menarik dukungan layanan perawatan pesawat milik Sriwijaya Air sehingga 18 pesawat maskapai ini tidak boleh terbang. CItilink selaku anak usaha Garuda juga mengajukan gugatan kepada Sriwijaya Air karena terhentinya KSO.

Namun, pada awal Oktober 2019, CLBK pun terjadi. Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Air Group pun kembali akur. Direktur Citilink Indonesia Juliandra Nurtjahjo mengatakan, ada beberapa alasan yang mendasari pihaknya ingin melanjutkan kerja sama manajemen dengan Sriwijaya Air.

Alasan pertama, kata Juliandra, karena masalah keselamatan. Dia menginginkan dengan terjalinnya kerja sama ini lagi armada Sriwijaya Air bisa kembali mengudara di langit Indonesia.

Juliandra yang mewakili Garuda Indonesia Group juga menyatakan bahwa keberlangsungan kerja sama tersebut adalah hasil dari pertemuan antara Garuda Indonesia dan pemegang saham Sriwijaya Air yang difasilitasi oleh Kementerian BUMN.

Namun hari ini, hubungan bisnis dua maskapai kembali tidak akur karena ada sejumlah masalah yang membuat keduanya memutuskan untuk tidak melanjutkan kerja sama operasi.

Direktur Teknik dan Layanan Garuda Iwan Joeniarto mengatakan, perpisahan tersebut dipicu oleh sejumlah masalah antara kedua belah pihak yang belum terselesaikan.

“Kami merujuk pada status terkini kerja sama manajemen antara Sriwijaya dan Citilink (anak usaha Garuda Indonesia). Ada sejumlah masalah. Dengan berat hati, kami menginformasikan bahwa Sriwijaya melanjutkan bisnisnya sendiri,” katanya hari ini.

Dengan demikian, Sriwijaya Air tak lagi menjadi bagian dari Garuda Indonesia Group dan mulai menjalankan hubungan bisnisnya sendiri-sendiri alias business to business (B to B).