Kampung Vietnam Pulau Galang Batam (kumparan.com)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pulau Galang yang direncanakan akan jadi pusat karantina atau fasilitas observasi dan isolasi penyakit Corona (COVID-19), ternyata menyimpan beragam cerita mistis. Berikut kumpulan kisahnya.

Kemunculan Arwah Perempuan
Menurut cerita yang beredar di sana, konon ada seorang perempuan bernama Tinh Nham Laoi yang memutuskan bunuh diri karena tak sanggup menahan malu.

Penyebabnya karena dia diperkosa secara brutal oleh 7 orang pengungsi pria. Di lokasi pemerkosaan itu, kini dibuat monumen bersejarah dan kemanusian. Tugu tersebut bernama Humanity Statue. Dari penjelasan tertulis bahwa tugu atau patung itu didirikan oleh para pengungsi untuk mengingat musibah yang memilukan itu.

Tugu Tinh Nham Laoi (gramho.com)

Konon, bagi yang bisa melihat hal-hal gaib, katanya Tinh Nham Laoi suka Wara-wiri di sekitar Pulau Galang. Bahkan sosok hantu wanita tersebut, menurut mereka yang bisa lihat, tak suka dengan pengunjung yang macam-macam dan bertingkah aneh.

Ada Pengunjung yang Diganggu Sosok Tinh Nham Laoi
Menurut cerita dari salah satu petugas pengelola Kampung Vietnam Sumardi (51), pernah ada seorang pengunjung yang sedang berselfie di salah satu bangunan tempat terjadinya peristiwa pemerkosaan, tiba-tiba di kamera ponselnya muncul sosok penampakan diduga makhluk halus.

“Setelah selfie di monumen kemanusiaan Tinh Nham Laoi, dia langsung jatuh sakit,” ujar Sumardi medio 26 Maret 2016, seperti diberitakan batamnews.co.id.

Dengar Suara Rintihan, Tangisan dan Tawa
Bahkan pengalaman mistis itu juga dialami oleh Sumardi sendiri. Suatu ketika ia tengah menjalani tugas piket, tiba-tiba ia melihat bayangan banyak orang. Ada juga suara rintihan, tangisan dan tawa. “Tapi say tidak terlalu memperdulikan hal tersebut,” katanya.

Sumardi juga mengatakan, di lokasi tersebut memang banyak cerita miris tentang para pengungsi. Di lokasi tersebut terdapat 503 kuburan pengungsi Vietnam yang meninggal akibat wabah penyakit bawaan dan ada pula yang bunuh diri akibat depresi.

“Tekanan kejiwaan, kriminalitas antar pengungsi sangat tinggi, seperti pemerkosaan, penyiksaan dan meninggal karena bunuh diri akibat depresi,” ujarnya.

Ada Membakar Diri karena Tak Diakui Pengungsi
Sumardi juga mengungkapkan, ada kisah pengungsi yang bunuh diri dengan cara membakar diri karena keberadaannya ditolak di kamp tersebut.

Hal yang sama juga terjadi pada seorang kopral Vietnam Selatan (pokong), ia melakukan gantung diri setelah status pengungsi dan permohonan peninjauan ulang, ditolak dan ada yang juga membakar dirinya di depan kantor UNHCR, menyabet perutnya dan membakar dirinya.

“Macam-macam kisah pilu yang di alami ‘Manusia Perahu’ di Pulau Galang Indonesia dulu dan dulu masyarakat di sekitar sini dilarang berinteraksi dengan pengungsi,” katanya miris.

Penampungan Tentara Jepang yang Kalah Perang Dunia II
Namun, terlepas dari kisah mistis yang beredar, Pulau ini dikenal sebagai tempat penampungan bagi mereka yang akan dikeluarkan dari Indonesia. Salah satunya adalah tentara Jepang yang kalah dalam Perang Dunia II.

Tugu Jepang (Misesebo) di Kampung Pasir Merah, Sembulang, Pulau Galang (istimewa)

Sekitar 112.708 orang tentara pernah tinggal di sana. Mereka merupakan tentara Jepang yang dijemput di Vietnam, Philipina, Thailand dan sekitarnya, sebelum dipulangkan ke Jepang. Sekitar 1,5 tahun kemudian, pasukan tentara Jepang itu dipulangkan ke negaranya menggunakan kapal perang. Demikian disampaikan oleh tokoh Masyarakat Sembulang, Haji Mahmud, seperti diberitakan haluankepri.com.

Penampungan Pengungsi Vietnam
Pulau ini juga pernah menjadi tempat penanganan pengungsi dari Vietnam atau yang kerap dijuluki manusia perahu (Vietnamese Boat People) antara tahun 1979 sampai 1996.

Dalam buku Troubled Transit: Politik Indonesia Bagi Para Pencari Suaka karya Antje Missbach, dijelaskan bahwa manusia perahu Vietnam datang ke Indonesia akibat situasi politik di Vietnam kala itu.

Para pengungsi perang Vietnam berlayar menyeberangi Laut Cina Selatan ke Pulau Galang (wisatalova.com)

Berdasarkan laporan pertama, 19 Mei 1975, sekitar 97 orang manusia perahu Vietnam tiba di Indonesia. Sedangkan menurut laporan PBB tahun 1979, ada 43.000 manusia perahu sudah masuk Indonesia.

Lantas, pemerintah Indonesia memilih Pulau Galang di Riau sebagai tempat untuk 10.000 pengungsi manusia perahu. Pulau Galang dipilih lantaran lokasinya relatif strategis. Jaraknya hanya 7 km dari Pulau Batam. Luasnya sekitar 80 km persegi. Penempatan para manusia perahu di Pulau Galang ini juga dimaksudkan untuk memisahkan mereka dari penduduk lokal dan meminimalisir pembaruan aktif.

Jadi Tempat Wisata
Seiring berjalan waktu, bekas kamp Vietnam itu lantas dijadikan sebagai destinasi wisata sejarah. Tempat itu dinamai Kampung Vietnam. Di kampung Vietnam ini terdapat gereja tua, vihara, barak pengungsian, penjara, hingga Buddha tidur, kemudian bangunan bekas rumah sakit yang bisa dikunjungi. Sementara untuk lokasi kampnya kabarnya tertutup dari masyarakat umum ini.

Jembatan Barelang (Kemenpar)

Selain itu, ada juga jembatan Barelang. Kontruksi tersebut adalah warisan almarhum Presiden BJ Habibie. Jembatan ini dibangun pada 1992-1998 yang menghubungkan Pulau Gelang dan enam pulau lainnya. Dengan panjang sekitar 54 kilometer, Jembatan Barelang menjadi ikon wisata wilayah tersebut.

Pantai Melur di Pulau Batam (pataindonesia.com)

Kemudian ada pantai Melur yang terkenal dengan pasirnya yang halus dan permainan air. Beberapa yang bisa dinikmati adalah speed boat dan banana boat atau perahu pisang. Fasilitas ini tersedia beberapa buah sehingga tak perlu khawatir mengantri terlalu lama di Pulau Galang.

Bangunan Tua Bekas Kamp Vietnam Jadi RS Khusus Corona
Seperti yang disampaikan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, kawasan Wisata Pulau Galang yang tadinya merupakan eks kamp Vietnam akan direnovasi menjadi rumah sakit khusus penanganan pasien suspect corona. Rumah sakit ini bakal dilengkapi dengan 50 kamar isolasi dan diperkirakan bisa menampung hingga 1.000 pasien.

Salah satu bangunan bekas rumah sakit di kawasan wisata Ex Camp Vietnam di Pulau Galang, Batam, Kepulauan Riau. (Antara)

Bangunan tersebut dinilai memenuhi syarat untuk dijadikan RS khusus penanganan pasien terdampak virus corona karena dari sisi lokasi cukup baik, dan sudah ada ketersediaan air, listrik, dan infrastruktur pendukung lain seperti akses jalan yang mulus, serta lainnya.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here