Bank Indonesia
Bank Indonesia

MATA INDONESIA, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) terus berupaya membantu rupiah agar bisa lepas dari kurs dolar AS. Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, salah satu cara yang dilakukan adalah dengan melakukan transaksi perdagangan bilateral dan investasi langsung dengan menggunakan mata uang garuda ke negara-negara mitra Indonesia. Penggunaan mata uang garuda bisa diterapkan lewat instrumen repo, repurchase agreement, lindung nilai dan swap.

Asal tahu saja, sejumlah negara juga mengikuti jejak Indonesia untuk mengurangi penggunaaan dolar AS. Misalnya, pada akhir September lalu, BI dan bank sentral Cina atau People’s Bank of China (PBC) sepakat akan melakukan transaksi perdagangan bilateral dan investasi langsung dengan menggunakan rupiah dan yuan.

Selain itu, Indonesia juga menerapkan hal serupa dengan Jepang, Thailand, dan Malaysia. Indonesia dan ketiga negara tersebut sudah lebih dulu sepakat meninggalkan dolar AS untuk transaksi dagang dan investasi sehingga beralih menggunakan rupiah, baht Thailand, dan ringgit Malaysia.

Perry pun menilai saat ini dominasi dolar AS terhadap rupiah mulai berkurang dibandingkan Maret 2020, ketika awal pandemi covid-19. Kala itu, rupiah sempat terjun bebas hingga level Rp 16.575 per dolar AS pada 23 Maret 2020.

“Lantaran investor asing memburu dolar AS,” ujarnya, Kamis 3 Desember 2020.

Kini rupiah mulai bangkit dan diyakini terus terdepresiasi hingga 2021 nanti. Bahkan, ia menilai saat ini rupiah masih di bawah nilai fundamentalnya (undervalue) sehingga berpotensi menguat.

“Nilai tukar rupiah stabil dan cenderung menguat didukung kebijakan stabilitas BI dan masuknya arus modal asing ke RI (capital inflow),” ujarnya.

Strategi lain untuk meningkatkan nilai tukar rupiah adalah dengan melakukan pendalaman pasar uang sesuai dengan cetak biru (blueprint). Alhasil volume pasar uang meningkat lebih likuid, efisien dan mendukung penurunan suku bunga.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here