MATA INDONESIA, JAKARTA – Masyarakat Indonesia pasti sudah tidak asing lagi dengan yang namanya pantun. Pantun sering digunakan dalam berbagai macam kesempatan seperti acara hiburan, acara adat, hingga acara komedi di televisi.

Kata pantun berasal dari bahasa Minangkabau yakni patuntun yang memiliki arti petuntun. Pantun juga dikenal dengan beberapa istilah lain. Dalam bahasa Batak pantun disebut umpasa, dalam bahasa Jawa disebut parikan, dan dalam bahasa Sunda disebut paparikan.

Pantun merupakan salah satu karya sastra populer berbentuk puisi lama yang diberi nada. Pantun pertama kali muncul dalam sejarah Melayu dan hikayat-hikayat populer. Dalam kesusastraan Melayu, pantun merupakan bentuk puisi yang paling luas dikenal dan paling bertahan lama.

Pantun dalam teks tertua ditemukan pada manuskrip-manuskrip sejarah Melayu, di antaranya Memoirs of Malayan Family (1880), Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan (1838), Papers on Malay Subject (Wilkinson-Winstedt, 1909), Hikayat Hang Tuah, Sjair Anggun Tjik Tunggal (Djamin-Tasat), dan Tjeritera Si Umbut Muda (Tulis Sutan Sati).

Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau, seorang sastrawan yang seangkatan dengan Raja Ali Haji, tercatat sebagai penulis pertama yang mengubah pantun dari tradisi lisan menjadi tradisi tulis. Dia membukukan antologi pantun pertama dengan judul Perhimpunan Pantun-Pantun Melayu pada tahun 1877. Antalogi pantunnya ini tergolong karya yang mendapat perhatian banyak sejarawan dan penulis.

Pantun dikenal sebagai karya sastra lama yang khas dengan ketatnya aturan bentuk rima yang disenandungkan. Selain tertulis dalam manuskrip sejarah Melayu, pantun juga terdapat dalam puisi rakyat, syair, serta seloka. Pantun sering kali dinyatakan dalam ungkapan tradisional seperti teka-teki, petuah, dan pemanis komunikasi.

Masyarakat Melayu biasanya menggunakan pantun dalam kegiataan sehari-hari. Pantun menjadi sebuah cerminan kecerdasan dan kebijaksanaan masyarakat Melayu yang terefleksikan melalui keahlian berbahasa dan bersastra. Pantun memuat nilai-nilai kearifan masyarakat Melayu dalam merefleksikan kehidupannya yang penuh keluhuran.

Pada abad ke-17, pantun dianggap bentuk yang sempurna sebagai sastra lisan yang menjadi jati diri masyarakat Melayu. Minat terhadap sastra di Nusantara sudah mulai tumbuh dan berkembang sejak pemerintahan Hindia Belanda mendirikan Bataviaasch Genootshap van Kunsten en Wetenshappen (Lembaga Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Batavia) tahun 1778.

Mengutip Yoseph Yapi Taum dalam bukunya Studi Sastra Lisan: Sejarah, Teori, Metode, dan Pendekatan Disertai Contoh Penerapannya, selain ilmuwan yang berlatar belakang pendidikan bidang bahasa-bahasa Nusantara, pantun juga dihimpun oleh pegawai pemerintah, antropolog, misionaris, karyawan perkebunan, pedagang, dokter, dan lain-lain.

Hingga kini, pantun masih sangat populer dan banyak dipakai sebagai salah satu jenis karya sastra di Indonesia. Pantun bahkan sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia untuk Indonesia dan Malaysia oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) pada 17 Desember 2020.

Reporter: Safira Ginanisa

 

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here