Ngutang Biaya Sewa Pesawat Rp 189 Miliar, Lion Air Digugat di Pengadilan London
Ilustrasi Pesawat Lion Air (istimewa)

MINEWS, JAKARTA –Laporan penyelidikan otoritas Indonesia, dalam hal ini Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) soal jatuhnya pesawat Lion Air 737 MAX atau Lion Air JT-610 pada Oktober 2018 lalu bocor.

Pihak yang membocorkan informasi itu adalah harian Wall Street Journal, yang menerbitkan beritanya kepada publik pada hari Minggu 22 September 2019 kemarin. Bahkan, disebutkan kesimpulan dari penyelidikan tersebut, ternyata adalah ‘salah konstruksi dan penanganan’.

Padahal, harusnya laporan hasil penyelidikan itu baru akan diumumkan secara resmi pada November 2019 mendatang. Tapi, Wall Street Journal mendahuluinya, bahkan mempublikasi hingga inti dari laporan tersebut.

Wall Street Journal menyebut, penyelidikan kecelakaan Boeing 737 Max dipusatkan pada sistem anti-stall yang disebut Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) yang dirancang khusus untuk 737 MAX.

Sistem itu secara otomatis mengambil alih pengendalian pesawat untuk mencegah hidung pesawat terangkat terlalu tinggi dalam kecepatan terlalu rendah, yang akan mengakibatkan pesawat jatuh. Sistem secara otomatis akan menukikkan hidung pesawat ke bawah dan menambah kecepatan.

Dalam publikasi yang dirilis harian tersebut, temuan itu ternyata sudah dibagikan kepada Administrasi AS, FAA, dan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional, NTSB. Para pejabat AS dijadwalkan mengunjungi Indonesia pada akhir September untuk membahas hasil penyelidikan.

Seperti diketahui, pesawat Lion Air tipe Boeing 737 MAX dengan nomor penerbangan JT-610 dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Pangkal Pinang, jatuh di sekitar perairan Karawang pada 29 Oktober 2019.

Seluruh korban dan awak pesawat dipastikan tewas. Peristiwa ini menjadi perhatian dunia selama beberapa pekan dan menimbulkan sejumlah spekulasi mengenai penyebab utama jatuhnya pesawat.