Pohon-pohon kembali tumbuh di hutan Australia setelah kebakaran hutan. (Shark Bay Iluka in New South Wales, Australia. Cyn Bodycote)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Di Indonesia terdapat jenis pohon langka dan terancam punah. Hal ini terjadi akibat kurangnya menjaga serta merawatnya dengan baik.

Kekayaan alam ini merupakan warisan yang harus dilestarikan dan jaga dengan baik. Penyebab pohon langka dan hampir punah.

Pertama, terjadinya penebangan liar dan kerusakan hutan. Kedua, hutan dialih fungsi sebagai permukiman penduduk. Ketiga, membudidayakan pohon tak secara baik,dan mengambilnya secara berlebihan.

Jenis pohon yang langka dan hampir punah terbagi menjadi 3 golangan. Mengutip dari LIPI, “Prioritas I merupakan kategori kritis yang menuntut untuk segera dilakukan konservasi. Prioritas II termasuk jenis pohon yang mendesak untuk dilakukan konservasi.

Kategori spesies ini memiliki tingkat keterancaman tinggi serta ancaman kepunahan yang terus berlangsung. Prioritas III termasuk jenis pohon yang perlu aksi konservasi dengan sebaran pohon endemik yang cukup luas, tetapi punya tingkat keterancaman tinggi.”

Berikut daftar pohon langka di Indonesia. Simaklah di bawah ini!

1. Dipterocarpus Littoralis

Nama lainnya adalah pelahlar. Pohon ini termasuk ke dalam kategori prioritas 1 (kritis). Jenis ini dapat dijumpai di daerah dengan kemiringan 0°-40° serta ketinggian 10–108 m.

Plahar adalah spesies yang tumbuh alami di Pulau Nusakambangan. Kayu pohon ini dijadikan perahu dan bahan bangunan. Kualitas kayunya yang kuat, lurus, dan awet.

Oleh karena itu, jenis pohon ini digemari oleh penebang liar. Dipterocarpus Littoralis dapat hidup di daerah lereng, pinggiran aliran air, tanah kapuran dan dataran rendah.

2. Dipterocarpus Cinereus

Dipterocarpus Cinereus merupakan anggota marga Keruing (Dipterocarpus) yang memiliki daun kecil. Jenis pohon ini dapat ditemui di Pulai Mursala, Sumatera Utara.

Dipterocarpus Cinereus memiliki sebutan lain yaitu lagan bras. Pohon ini dikategorikan kritis. Lagan bras memiliki diameter 100 cm dan tingginya 50 cm.

Pohon ini terancam punah akibat adanya penebangan liar. Lalu jenis kayunya hanya dapat dijadikan bahan bangun saja.

3. Shorea Javanica

Shorea javanica merupakan penghasil produksi kayu yang baik. Jenis ini asli dari Indonesia yang dapat ditemukan di Maluku, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Sumatera.

Nama lain dari Shorea javanica adalah damar mata kucing. Damar mata kucing memiliki ukuran besar, tingginya 40-50 m serta diameternya 150 cm.

Melansir dari Wikipedia, “Resin ini digunakan dalam industri cat, vernis, linoleum, juga dalam industri farmasi, kosmetika, serta bahan aditif pangan. Secara tradisional, damar dipakai untuk penerangan (lampu damar), memakal perahu dan keranjang, dan mewarnai batik.

Damar mata kucing merupakan resin beku berbentuk bongkahan, yang bening transparan, tak berwarna atau sedikit kekuningan.”

4. Eusideroxylon Zwageri

Sebutan lain eusideroxylon zwageri yaitu ulin. Pohon ini dapat hidup di dataran rendah, bukti serta lereng. Eusideroxylon zwageri terdapat di daerah Sumatera bagian selatan, Kalimantan, dan Bangka Belitung.

Ulin ini berukuran besar dengan ketinggan 50 meter serta diameternya mecapai 200 cm. Kayu ulin sangat kuat dan awet. Biasanya, digunakan sebagai pondasi bangunan yang memiliki lahan basah, lalu atap rumah serta kusen.

Selain itu, masyarakat Sumatra dan Kalimantan yang memiliki kebudayaan rumah panggung, untuk membuat pondasinya biasanya menggunakan kayu ulin. Karena kayu ulin memiliki tektur yang kuat dan awet jika di dalam air.

5. Durio Oxleyanus

Durio oxleyanus disebut dengan durian daun atau kerantongan. Ciri dari pohon ini memiliki tinggi hingga 45 cm, ukurannya besar dan diameternya 100 cm. Pohon ini tumbuh di daerah Sumatera dan Kalimantan.

Jenis ini tumbuh liar disekitar hutan dan dimanfaatkan sebagai mata pencaharian penduduk sekitarnya. Buah dari kerantong ini dapat disantap layaknya durian asli.

Reporter: Azizah Putri Octavina

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here