Tontaikam
Tontaikam. (tniad.mi.id)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pemerintah mengerahkan pasukan khusus untuk mengejar anggota Mujahiddin Indonesia Timur (MIT) termasuk Peleton Pengintaian Keamanan (Tontaikam). Pasti Kamu merasa asing mendengar nama satuan TNI itu. Apa itu satuan bentukan baru?

Bukan satuan baru. Tontaikam dibentuk 1992, merupakan satuan setingkat peleton di bawah Detasemen Markas Brigade Infanteri (Brigif) Mekanis 1 PIK/Jaya Sakti, Kodam Jaya.

Awalnya peleton itu bernama SS 44 A/T (Satuan Khusus Anti Terror), jumlah personelnya hanya 44 orang dengan 25 unit sepeda motor (jenis Trail) special engine 125cc.

Selain itu mereka dipersenjatai dengan FNC Carbine 5,56 mm, Sub Machine Gun Scorpion 3,62 mm, P1 9 mm pistol, p2 9 mm pistol, CZ 83 9 mm pistol.

Tujuan pembentukannya untuk mendukung tugas Brigif baik dalam operasi intelijen, operasi tempur maupun pembinaan teritorial maupun operasi bantuan.

Di awal pembentukannya, penugasan tontaikam lebih dominan menjaga kegiatan-kegiatan resmi kenegaraan. Peleton ini sudah memiliki pengalaman dalam pengamanan, seperti KTT Non Blok 1992, APEC 1994, KTT OKI 1997, termasuk menjaga Ibu kota pada saat-saat kritis keamanan ketika berlangsung Pemilu dan Sidang Umum MPR 1998 serta Sidang Istemewa 1999.

Selain itu terdapat satu tugas yang cukup memberikan pengalaman tersendiri bagi para personel Tontikam adalah pengamanan kedatangan Presiden AS George W. Bush ke Bogor tahun lalu. Pengamanan orang nomor satu AS ini memang cukup menyita perhatian masyarakat Indonesia pada saat itu.

Dalam tugas pengamanan VVIP/VIP, Tontaikam di BP kan ke Paspampres (Pasukan Pengaman Presiden) dan biasanya setelah melakukan koordinasi, lalu mereka dimasukkan ke check-point yang telah ditentukan. Konsekuensi lingkup tugas peleton ini sudah pasti masuk dalam katagori “Ring satu”.

Personel peleton ini disaring dari para prajurit tiga Batalyon Infanteri yang berada dibawah Brigif 1 Pam Ibu kota, melalui ujian yang sangat ketat.

Mereka harus mengikuti test psikologi, kesehatan, kesamaptaan dan harus memiliki kemampuan bela diri (minimal sabuk biru). Bagi yang lulus seleksi, dididik selama dua bulan hingga memiliki kemampuan perorangan, seperti mahir menembak, sniper, bela diri dan menjinakkan bahan peledak (Jihandak).

Kini keandalan mereka diuji Ali Kalora dan anggota MIT di kelebatan hutan Sulawesi Tengah demi menciptakan keamanan bagi masyarakat di sana.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here