Ilustrasi toxic relationship

MATA INDONESIA, JAKARTA – Jatuh cinta memang tidak selamanya indah. Kadangkala ada bumbu-bumbu pertengkaran yang menguji cinta itu bertahan. Setiap orang yang jatuh cinta harus siap jika terjatuh dan menghadapi resiko yang akan terjadi.

Pasangan yang saling mencintai dengan tulus dan dari hati akan melewati berbagai rintangan dalam hubungan tersebut. Namun bak kapal yang karam di laut, hubungan yang tidak sehat akan berujung pada rasa sakit dan cinta yang hilang.

Toxic relationship merupakan istilah yang menggambarkan suatu hubungan yang tidak sehat dan berdampak buruk pada keadaan fisik maupun mental seseorang. Hubungan ini tidak hanya terjadi pada pasangan kekasih, namun bisa juga terjadi dalam hubungan keluarga dan pertemanan. Biasanya toxic relationship ditandai dengan salah satu pihak berupaya mendominasi pihak lainnya.

Berikut tanda-tanda toxic relationship yang harus diketahui dari kanal YouTube Satu Persen – Indonesian Life School :

1. Banyak Kode-kodean

Jika ada masalah atau keinginan, biasanya pasangan yang toxic akan diam-diaman atau tidak bicara secara langsung. Kadang pasangan ini melakukan kode-kode dan melakukan sesuatu yang nyebelin. Seperti mendiamkan pasangan atau tiba-tiba jadi bersikap dingin dengan harapan si pasangan akan minta maaf dan berubah.

Hal ini dapat dikatakan toxic karena kedua belah pihak tidak nyaman untuk mengkomunikasikan masalah secara terbuka dan jelas satu sama lain. Istilah keadaan seperti ini adalah pasif-agresif.

Cara agar tidak terjadinya hubungan yang pasif-agresif ini adalah dengan komunikasi asertif. Yaitu mengungkapkan perasaan dan keinginan secara terbuka tetapi tidak menyakiti hati pasangan.

2. Menyalahkan Pasangan atas Emosi yang Dirasakan

Pernah merasakan sedang bete dan pasangan malah tidak perhatian atau gak peka? Pasti rasanya semakin bete dan kesal bukan? Tapi perasaan seperti ini termasuk dalam toxic loh!

Sebab, menyalahkan pasangan karena emosi yang sedang dialami adalah perilaku egois. Padahal pasangan kalian sedang ada kerjaan atau urusan lainnya, dan kalian malah menyalahkannya agar lebih peka dengan perasaan yang sedang kalian rasakan.

Berpikiran jika pasangan memiliki tanggung jawab atas emosi yang kalian rasakan, tandanya batasan personal kalian kurang bagus. Hal ini akan membuat hubungan kalian jadi terlalu co-dependent atau saling ketergantungan. Hubungan yang sehat adalah hubungan antar manusia yang sama-sama independent dan bisa membuat nyaman pasangan.

Cara agar tidak menyalahkan pasangan atas emsoi yang dirasakan adalah dengan bertanggung jawab atas emosi tersebut. Tidak perlu mengharapkan orang lain untuk mengurusi emosi yang dialami.

Namun bukan berarti tidak boleh meminta pelukan dari pasangan atau meminta untuk didengarkan curhatnya ketika sedang sedih. Hanya saja jangan jadikan itu ekspektasi dan kewajiban pasangan untuk mengurusi emosi yang dirasakan.

3. Menutupi masalah dengan solusi sementara

Setiap ada konflik atau isu yang muncul dalam sebuah hubungan ada orang yang menutupinya dengan solusi sementara. Biasanya solusi sementara ini adalah memberikan pasangan hadiah, liburan bareng, mentraktir pasangan, atau bahkan menikah. Hal tersebut merupakan toxic relationship karena solusi sementara seperti itu masalah tidak akan terselesaikan.

Masalah yang belum selesai akan tetap ada dan kemungkinan bisa semakin membesar. Jika dilihat, mungkin solusi sementara ini romantis jika dilakukan. Namun, kenyataannya ini salah satu dari hubungan yang tidak sehat.

Misalnya ketika ada masalah, perempuan tersebut marah dan pasangannya memberikan solusi sementara berupa hadiah. Mungkin masalah akan terlupakan sementara dan ketika masalah lain timbul lagi, perempuan ini akan marah lagi dan si lelaki memberikan sesuatu yang lainnya lagi. Hal ini seakan-akan memberi reward pada perilaku buruk.

Solusi yang baik dari perilaku ini adalah dengan membahas dan menyelesaikan masalah yang terjadi hingga selesai. Komunikasikan permasalahan dengan benar bersama pasangan dan mencari solusi atau jalan keluar terbaik.

Tak ada yang salah dengan memberikan sesuatu kepada pasangan, yang menjadikannya salah adalah apabila sesuatu seperti hadiah dan lainnya itu menjadi alternatif penyelesaian masalah yang terjadi. Terlebih masalah tersebut belum dibicarakan dengan baik dan benar.

4. Menunjukkan kecemburuan

Melarang pasangan bertemu dengan lawan jenis, marah bila pasangan berduaan dengan orang lain merupakan perilaku toxic. Kenapa disebut toxic? Karena pasangan yang posesif ini menunjukkan rasa tidak percaya, baik kepada pasangannya maupun pada dirinya sendiri atau insecure. Menunjukkan kecemburuan pasti akan membuat banyak drama tidak penting dalam hubungan.

Selain itu sikap ini juga menggambarkan bahwa salah satu pasangan menganggap pasangannya tidak mampu untuk setia dan selalu berbohong. Salah satu cara agar tidak menjadi pasangan yang posesif yaitu dengan mempercayai pasangan.

Cemburu merupakan hal yang wajar bagi pasangan kekasih. Namun, apabila rasa cemburu sudah berlebihan dan terlalu jauh akan menjadikan hubungan yang tidak sehat.

Jatuh cinta memang banyak rasanya. Nikmati, syukuri, dan jangan menuntut lebih akan menjadikan hubungan semakin istimewa. Merasa pasangan memiliki perilaku seperti di atas? Hati-hati, karena hubungan kalian termasuk toxic relationship.

Reporter: Ananda Sri Maulidda

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here